Masyarakat panik, Pertamina salahkan media massa
Jum'at, 30 November 2012 - 15:57 WIB
Masyarakat panik, Pertamina salahkan media massa
A
A
A
Sindonews.com - Pekan ini, masyarakat dikejutkan oleh adanya ancaman krisis BBM subsidi di penghujung tahun 2012. Akibatnya, terjadi 'panic buying' di berbagai wilayah, masyarakat membeli BBM subsidi melebihi kebutuhannya. Kepanikan masyarakat ini dinilai oleh Pertamina sebagai akibat pemberitaan media massa yang berlebihan.
"Arus informasi begitu cepat ditangkap oleh masyarakat dan direspons dengan rush sehingga mengakibatkan stok BBM di SPBU cepat berkurang," kata VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Karena itu, lanjut Ali, Pertamina meminta media massa untuk lebih berhati-hati dalam membuat pemberitaan mengenai BBM subsidi. Pasalnya, masalah ini sangat sensitif hingga dapat menimbulkan dampak-dampak sosial yang tidak diharapkan.
"Kami mengharapkan agar media sebagai penyampai informasi kepada masyarakat untuk secara proporsional melihat kondisi tersebut sehingga tidak memancing terjadinya aksi pembelian secara berlebih," tutup dia.
Sebelumnya, pemerintah telah membatalkan dua program yang diprakarsai oleh BPH Migas akibat reaksi berlebihan masyarakat yang berlebihan menghadapi ancaman krisis BBM subsidi akhir 2012 ini. Yang pertama kali dibatalkan ialah Pengendalian Pasokan BBM Subsidi (kitir).
"Dengan memperhatikan perkembangan situasi sosial di daerah-daerah pascakebijakan tersebut, dan mempertimbangkan kepentingan nasional yang lebih besar kami memutuskan terhitung mulai 25 November 2012, Pertamina menyetop kebijakan pengendalian pasokan BBM (kitir)," tutur VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir.
Selain itu, pemerintah juga membatalkan program Hari Tanpa BBM Subsidi yang sebelumnya direncanakan akan diselenggarakan 2 Desember 2012. "Yang kita harapkan sebenarnya kondusif dari masyarakat tapi kalau masyarakatnya tidak kondusif, ya terus terjadi chaos, bagaimana?," terang Wamen ESDM Rudi Rubiandini beberapa waktu lalu.
"Arus informasi begitu cepat ditangkap oleh masyarakat dan direspons dengan rush sehingga mengakibatkan stok BBM di SPBU cepat berkurang," kata VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Karena itu, lanjut Ali, Pertamina meminta media massa untuk lebih berhati-hati dalam membuat pemberitaan mengenai BBM subsidi. Pasalnya, masalah ini sangat sensitif hingga dapat menimbulkan dampak-dampak sosial yang tidak diharapkan.
"Kami mengharapkan agar media sebagai penyampai informasi kepada masyarakat untuk secara proporsional melihat kondisi tersebut sehingga tidak memancing terjadinya aksi pembelian secara berlebih," tutup dia.
Sebelumnya, pemerintah telah membatalkan dua program yang diprakarsai oleh BPH Migas akibat reaksi berlebihan masyarakat yang berlebihan menghadapi ancaman krisis BBM subsidi akhir 2012 ini. Yang pertama kali dibatalkan ialah Pengendalian Pasokan BBM Subsidi (kitir).
"Dengan memperhatikan perkembangan situasi sosial di daerah-daerah pascakebijakan tersebut, dan mempertimbangkan kepentingan nasional yang lebih besar kami memutuskan terhitung mulai 25 November 2012, Pertamina menyetop kebijakan pengendalian pasokan BBM (kitir)," tutur VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir.
Selain itu, pemerintah juga membatalkan program Hari Tanpa BBM Subsidi yang sebelumnya direncanakan akan diselenggarakan 2 Desember 2012. "Yang kita harapkan sebenarnya kondusif dari masyarakat tapi kalau masyarakatnya tidak kondusif, ya terus terjadi chaos, bagaimana?," terang Wamen ESDM Rudi Rubiandini beberapa waktu lalu.
(gpr)
Lihat Juga :