BPS optimistis harga kebutuhan di Jabar terjaga
Senin, 03 Desember 2012 - 15:17 WIB
BPS optimistis harga kebutuhan di Jabar terjaga
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi, laju inflasi di Jawa Barat pada Desember 2012 tetap terjaga, walaupun di bayang bayangi momen Natal dan Tahun Baru 2013.
Harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, daging sapi, dan ayam potong, diperkirakan akan tetap stabil. Kalaupun akan terjadi kenaikan harga, BPS memperkirakan nilainya tidak terlalu signifikan.
Kondisi tersebut, otomatis akan menjaga nilai inflasi yang dikhawatirkan naik pada momen Natal dan Tahun Baru 2013.
“Kalau melihat pergerak harga bulan November, mudah-mudahan tidak terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok di Jabar,” jelas Kepala Bidang Statistik dan Distibusi BPS Jabar Anggoro Dwitjahyono di Bandung, Senin (3/12/2012).
Salah satu komoditas yang di khawatirkan naik yaitu beras. Tapi, pasokan komoditi ini dinilai masih mencukupi. Selama November 2012, pergerakan harga beras juga tidak terlalu disgnifikan.
Walaupun, BPS mencatat harga beras mengalami kenaikan harga hampir di semua kota/kabupaten. Seperti di Bogor harga beras naik 1,3 persen. Begitupun di Kota Bandung. Harga beras naik tipis.
Beras IR 64 misalnya, di jual Rp8.335 per kg, Jember Rp9.194 per kg, Pandan Wangi Rp9.495 per kg. “Pada November 2012, kenaikan harga beras memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,05 persen,” pungkas dia.
Menurut Anggoro, beberapa komoditas yang berpotensi naik menjelang momen Natal dan Tahun baru yaitu beras dan komoditas bumbu bumbuan seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah dan keriting, dan lainnya.
Pada November lalu, harga bawang merang juga cenderung naik. Kenaikan komoditi ini memberi andil terhadap inflasi sekitar 0,13 persen pada November 2012.
Ketika disinggung kemungkinan terjadinya kenaikan harga daging sapi jelang akhir tahun, Anggoro memprediksi, kalaupun terjadi kenaikan, tidak akan terlalu signifikan.
Terlebih, harga daging sapi telah mengalami kenaikan sejak dua minggu terakhir bulan November lalu. Apalagi, pada bulan Desember, pemerintah berencana menyuplai ribuan sapi impor dan lokal ke wilayah DKI Jakarta dan Jabar.
Beberapa komoditas pokok, juga tercatat mengalami penurunan harga. Seperti harga daging ayam turun 8,02 persen, cabai merah turun 15,5 persen, minyak gorengturun 2,3 persen, cabai rawit turun 17,54 persen, dan lainnya.
BPS mencatat, terdapat sekitar 70 komoditi yang mengalami penurunan harga. “Turunnya harga 70 komoditi menyokong deplasi di Jabar pada November 2012 mejadi 0,05 persen,” pungkas dia.
Ketika ditanya terkait kenaikan upah minimum kota (UMK) hampir di semua wilayah di Jabar, Anggoro memastikan, kenaikan UMK akan berpengaruh terhadap lonjakan inflasi pada 2013. Namun, Anggoro belum bisa memperkirakan, berapa lonjakan inflasi tersebut.
“Secara teori, apabila upah buruh naik, maka harga produk ikut naik, akibat membengkaknya biaya operasional industri olahan.
“Tapi, tidak mesti selalu seperti itu. Karena, industri juga akan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Apakah ketika harga produk dinaikkan, masyarakat mampu membeli produk itu,” jelas dia.
Di lihat dari sisi daya beli, lanjut Anggoro, tidak mesti kenaikan upah akan meningkatkan minat masyarakat membeli produk. Lantaran, kenaikan upah didasarkan pada angka kbutuhan hidup layak.
Harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, daging sapi, dan ayam potong, diperkirakan akan tetap stabil. Kalaupun akan terjadi kenaikan harga, BPS memperkirakan nilainya tidak terlalu signifikan.
Kondisi tersebut, otomatis akan menjaga nilai inflasi yang dikhawatirkan naik pada momen Natal dan Tahun Baru 2013.
“Kalau melihat pergerak harga bulan November, mudah-mudahan tidak terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok di Jabar,” jelas Kepala Bidang Statistik dan Distibusi BPS Jabar Anggoro Dwitjahyono di Bandung, Senin (3/12/2012).
Salah satu komoditas yang di khawatirkan naik yaitu beras. Tapi, pasokan komoditi ini dinilai masih mencukupi. Selama November 2012, pergerakan harga beras juga tidak terlalu disgnifikan.
Walaupun, BPS mencatat harga beras mengalami kenaikan harga hampir di semua kota/kabupaten. Seperti di Bogor harga beras naik 1,3 persen. Begitupun di Kota Bandung. Harga beras naik tipis.
Beras IR 64 misalnya, di jual Rp8.335 per kg, Jember Rp9.194 per kg, Pandan Wangi Rp9.495 per kg. “Pada November 2012, kenaikan harga beras memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,05 persen,” pungkas dia.
Menurut Anggoro, beberapa komoditas yang berpotensi naik menjelang momen Natal dan Tahun baru yaitu beras dan komoditas bumbu bumbuan seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah dan keriting, dan lainnya.
Pada November lalu, harga bawang merang juga cenderung naik. Kenaikan komoditi ini memberi andil terhadap inflasi sekitar 0,13 persen pada November 2012.
Ketika disinggung kemungkinan terjadinya kenaikan harga daging sapi jelang akhir tahun, Anggoro memprediksi, kalaupun terjadi kenaikan, tidak akan terlalu signifikan.
Terlebih, harga daging sapi telah mengalami kenaikan sejak dua minggu terakhir bulan November lalu. Apalagi, pada bulan Desember, pemerintah berencana menyuplai ribuan sapi impor dan lokal ke wilayah DKI Jakarta dan Jabar.
Beberapa komoditas pokok, juga tercatat mengalami penurunan harga. Seperti harga daging ayam turun 8,02 persen, cabai merah turun 15,5 persen, minyak gorengturun 2,3 persen, cabai rawit turun 17,54 persen, dan lainnya.
BPS mencatat, terdapat sekitar 70 komoditi yang mengalami penurunan harga. “Turunnya harga 70 komoditi menyokong deplasi di Jabar pada November 2012 mejadi 0,05 persen,” pungkas dia.
Ketika ditanya terkait kenaikan upah minimum kota (UMK) hampir di semua wilayah di Jabar, Anggoro memastikan, kenaikan UMK akan berpengaruh terhadap lonjakan inflasi pada 2013. Namun, Anggoro belum bisa memperkirakan, berapa lonjakan inflasi tersebut.
“Secara teori, apabila upah buruh naik, maka harga produk ikut naik, akibat membengkaknya biaya operasional industri olahan.
“Tapi, tidak mesti selalu seperti itu. Karena, industri juga akan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Apakah ketika harga produk dinaikkan, masyarakat mampu membeli produk itu,” jelas dia.
Di lihat dari sisi daya beli, lanjut Anggoro, tidak mesti kenaikan upah akan meningkatkan minat masyarakat membeli produk. Lantaran, kenaikan upah didasarkan pada angka kbutuhan hidup layak.
(gpr)
Lihat Juga :