Kontribusi ekonomi industri rokok kecil?

Kamis, 06 Desember 2012 - 14:21 WIB
Kontribusi ekonomi industri...
Kontribusi ekonomi industri rokok kecil?
A A A
Sindonews.com - Konsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai negara perokok terbanyak setelah China dan India. Besarnya kontribusi industri rokok yang selama ini jadi pertimbangan dan alasan meminimalisir dampak buruk kesehatan akibat rokok, ternyata tidak benar.

“Ternyata kontribusi dan manfaat ekonomi dari industri tembakau lebih kecil dibanding sektor lainnya seperti pertanian tanaman pangan. Apalagi jika dikomparasikan dengan kerugian sosial-ekonomi yang dialami masyarakat, rokok bisa dikatakan sebagai pemicu kemiskinan asyarakat Indonesia,” ujar Ketua Bidang III Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Tulus Abadi.

Dalam Workshop Pengendalian Tembakau di UMY Kamis (6/12/2012), Tulus mengungkapkan, hanya ada tiga perusahaan besar dari 3.000 perusahaan rokok yang mendominasi hingga 71 persen pangsa pasar komsumen rokok.

Untuk tenaga kerjanya, industri rokok hanya berkontribusi kurang dari 1 persen terhadap total tenaga kerja nasional sejak tahun 1970-an. Upah tenaga kerja industri rokok pun masih minim yakni dengan rata-rata Rp662.149 perbulan.

“Untuk jumlah petani tembakau sendiri, menurut data Departemen Pertanian tahun 2006 ada 684.000 atau hanya 1,6 persen dari total pekerja di sektor pertanian yang berjumlah 42juta. Bahkan penerimaan cukai tembakau bagi negara ternyata hanya 8,4 persen dari sektor pajak dan hanya 5,7 persen dari total penerimaan negara,” ungkap Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ini.

Tulus pun memaparkan, industri rokok terbukti mengeksploitasi masyarakat miskin Indonesia karena 73,8 persen rumah tangga miskin perkotaan adalah perokok. Bahkan rata-rata pengeluaran untuk membeli rokok perminggunya lebih tinggi yakni 22 persen daripada pengeluaran membeli beras yang hanya 19 persen.

“Padahal, perilaku merokok pada keluarga miskin berhubungan secara bermakna dengan gizi buruk balita. Balita yang harusnya terpenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhannya, menjadi kurang karena pendapatan keluarga terserap untuk rokok,” katanya.

Ditambahkan Tulus, sebagai bukti lain, sesuai Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003-2005, konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau menduduki peringkat kedua yakni 12,43 persen setelah konsumsi padi-padian yakni 19,30 persen.

Dan kelompok rumah tangga pendapatan terendah ternyata berbelanja rokok lebih besar yakni 12 persen, sementara kelompok pendapatan tertinggi hanya 9,25 persen.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Didominasi Perempuan,...
Didominasi Perempuan, Pekerja di Industri Hasil Tembakau Mayoritas Jadi Tulang Punggung Keluarga
Cerita Paino, Kesejahteraan...
Cerita Paino, Kesejahteraan Meningkat hingga Kuliahkan Anak Berkat Bertani Tembakau
Festival Industri Tembakau...
Festival Industri Tembakau Garut 2020 Pacu Pemasaran Produk Hasil Tembakau
Warga Jember Tolak Hari...
Warga Jember Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia
Produk HPTL Meningkat,...
Produk HPTL Meningkat, Pemerintah Harus Tingkatkan Kajian Ilmiah
Berperan pada Program...
Berperan pada Program Asta Cita, Pemerintah Diminta Lindungi IHT
Berita Terkini
BRI Hadirkan KKB Expo...
BRI Hadirkan KKB Expo Serentak di 131 Titik, Tawarkan Berbagai Promo Spesial untuk Masyarakat
3 menit yang lalu
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
31 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut dan Polda Sumut Sinergi Percepat Normalisasi Distribusi BBM
50 menit yang lalu
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Hybrid Tawarkan Gaya Kalcer, Konsumsi BBM Diklaim Capai 60 Km per Liter
58 menit yang lalu
Produktivitas Kebun...
Produktivitas Kebun Sawit Sitaan Negara Menurun, Muncul Desakan Audit Total
59 menit yang lalu
Danantara Resmi Gabung...
Danantara Resmi Gabung ke Forum Sovereign Wealth Fund Dunia, Ini Manfaatnya
1 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved