IHSG diprediksi bergerak variatif
Selasa, 11 Desember 2012 - 08:26 WIB
IHSG diprediksi bergerak variatif
A
A
A
Sindonews.com - Variatifnya sentimen yang berkembang pada perdagangan sebelumnya diproyeksi masih akan berlangsung pada hari ini, sehingga berpotensi menahan usaha indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk melakukan penguatan dengan leluasa.
Menurut Kepala Trust Securities Reza Priyambada, faktor utama terbatasnya penguatan yang dialami IHSG masih dikontribusi sentimen negatif dari zona Eropa dan Amerika.
"Sampai dengan ulasan ini dibuat bursa saham Eropa bergerak negatif seiring kabar akhir pekan lalu. Begitupun Amerika yang juga terkena imbas pelemahan di Eropa," terang Reza, Selasa (11/12/2012).
Berkembangnya sentimen negtif di Eropa, kata Reza, merupakan respon dari pelaku pasar atas berita yang menyebutkan Perdana Menteri Italia Mario Monthi mengajukan keinginan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Pelaku pasar menilai Mario Monthi telah menjalankan sebagian kebijakan reformasi ekonomi baik regulasi kenaikan pajak maupun kenaikan usia pensiun. "Timbul kekhawatiran nantinya penggantinya tidak akan sanggup meneruskan kebijakan yang sudah dijalankan," simpul dia.
Di Amerika sendiri, kata Reza, sentimen negatif tampaknya juga belum reda. "Bursa saham AS bisa saja ikut terseret ke pelemahan karena imbas melemahnya bursa saham Eropa dan di sisi lain belum ada kejelasan penyelesaian jurang fiskal tersebut," tandasnya.
IHSG pada hari ini diproyeksi mampu menguat kendati belum terlalu leluasa pada kisaran support 4.277-4.289 dan resistance 4.315-4.323. IHSG, tampak berpola spinning dan mencoba mendekati middle bollinger bands. MACD bergerak mendatar dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba upreversal dari area oversold.
"Potensi kenaikan IHSG yang seharusnya dapat terjadi kembali tertahan oleh sentimen yang belum sepenuhnya mendukung," sambung Reza.
Terbentuknya spinning tersebut dimungkinkan akan terjadi downreversal bila sentimen yang ada justru mendukung untuk turun. Jika demikian, IHSG pun masih akan bergerak variatif terbatas.
"Pelaku pasar pun diharapkan tidak terlalu agresif sebelum sinyal penguatan secara signifikan terlihat," tandasnya.
Sepanjang perdagangan sebelumnya, IHSG menyentuh level 4.318,38 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.280,23 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.302,61.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan sebelumnya, masih variatifnya sentimen seperti yang ada, membuat kenaikan IHSG yang sempat terjadi di awal perdagangan tertahan dan bahkan sempat menyentuh zona merah.
Perilaku asing yang masih mencatatkan nett sell masih menjadi halangan bagi pergerakan IHSG dan pelaku pasar domestik pun terkadang masih ikut terbawa suasana tersebut sehingga setiap kali ada kenaikan harga saham langsung diikuti dengan aksi jual.
Sentimen dari Eropa sempat menjatuhkan IHSG ke zona merah, namun dengan penguatan indeks HSI membuat IHSG kembali bertengger di zona hijau.
Menurut Kepala Trust Securities Reza Priyambada, faktor utama terbatasnya penguatan yang dialami IHSG masih dikontribusi sentimen negatif dari zona Eropa dan Amerika.
"Sampai dengan ulasan ini dibuat bursa saham Eropa bergerak negatif seiring kabar akhir pekan lalu. Begitupun Amerika yang juga terkena imbas pelemahan di Eropa," terang Reza, Selasa (11/12/2012).
Berkembangnya sentimen negtif di Eropa, kata Reza, merupakan respon dari pelaku pasar atas berita yang menyebutkan Perdana Menteri Italia Mario Monthi mengajukan keinginan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Pelaku pasar menilai Mario Monthi telah menjalankan sebagian kebijakan reformasi ekonomi baik regulasi kenaikan pajak maupun kenaikan usia pensiun. "Timbul kekhawatiran nantinya penggantinya tidak akan sanggup meneruskan kebijakan yang sudah dijalankan," simpul dia.
Di Amerika sendiri, kata Reza, sentimen negatif tampaknya juga belum reda. "Bursa saham AS bisa saja ikut terseret ke pelemahan karena imbas melemahnya bursa saham Eropa dan di sisi lain belum ada kejelasan penyelesaian jurang fiskal tersebut," tandasnya.
IHSG pada hari ini diproyeksi mampu menguat kendati belum terlalu leluasa pada kisaran support 4.277-4.289 dan resistance 4.315-4.323. IHSG, tampak berpola spinning dan mencoba mendekati middle bollinger bands. MACD bergerak mendatar dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba upreversal dari area oversold.
"Potensi kenaikan IHSG yang seharusnya dapat terjadi kembali tertahan oleh sentimen yang belum sepenuhnya mendukung," sambung Reza.
Terbentuknya spinning tersebut dimungkinkan akan terjadi downreversal bila sentimen yang ada justru mendukung untuk turun. Jika demikian, IHSG pun masih akan bergerak variatif terbatas.
"Pelaku pasar pun diharapkan tidak terlalu agresif sebelum sinyal penguatan secara signifikan terlihat," tandasnya.
Sepanjang perdagangan sebelumnya, IHSG menyentuh level 4.318,38 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.280,23 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.302,61.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan sebelumnya, masih variatifnya sentimen seperti yang ada, membuat kenaikan IHSG yang sempat terjadi di awal perdagangan tertahan dan bahkan sempat menyentuh zona merah.
Perilaku asing yang masih mencatatkan nett sell masih menjadi halangan bagi pergerakan IHSG dan pelaku pasar domestik pun terkadang masih ikut terbawa suasana tersebut sehingga setiap kali ada kenaikan harga saham langsung diikuti dengan aksi jual.
Sentimen dari Eropa sempat menjatuhkan IHSG ke zona merah, namun dengan penguatan indeks HSI membuat IHSG kembali bertengger di zona hijau.
(rna)
Lihat Juga :