Reksa dana campuran dibawah pendapatan tetap
Selasa, 11 Desember 2012 - 12:58 WIB
Reksa dana campuran dibawah pendapatan tetap
A
A
A
Sindonews.com - Kinerja rata-rata reksa dana campuran dari sisi imbal hasil (return) sepanjang sebelas bulan tahun ini lebih rendah dibanding reksa dana saham dan pendapatan tetap.
Pada akhir periode November 2012, kinerja reksa dana campuran sekitar 7,18 persen, sedangkan reksa dana saham 9,35 persen dan reksa dana pendapatan tetap 7,32 persen.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, kondisi saat ini berbeda dengan biasanya. Secara umum, kinerja reksa dana campuran berada diantara reksa dana saham dan pendapatan tetap. Artinya, jika pasar naik, maka urutan kinerja adalah reksa dana saham tertinggi, disusul campuran, kemudian pendapatan tetap.
Sebaliknya, jika pasar menurun, maka reksa dana pendapatan tetap tertinggi, diikuti campuran dan terakhir saham. "Untuk kali ini, kebetulan datanya agak berbeda dengan kebiasaan. Namun, hal tersebut bukan anomali, melainkan suatu kebetulan yang disebabkan karena periode pengamatan yang digunakan," kata dia kepada Sindonews, Selasa (11/12/2012).
Edbert menjelaskan, reksa dana saham dan campuran pada tahun ini bergerak relatif fluktuatif. Pada pekan terakhir November 2012, pasar saham dalam tren penurunan setelah tren naik sejak Juni tahun ini. Namun, karena kenaikan reksa dana campuran tidak setinggi reksa dana saham di tengah kondisi pasar yang berbalik arah (rebound) pada November lalu menyebabkan reksa dana campuran turun lebih dulu dan berhenti pada level di bawah reksa dana pendapatan tetap.
Menurut Edbert, jika periode pengamatan reksa dana tersebut diperpanjang akan menghasilkan data yang berbeda. "Apabila periode pengamatan diperpanjang dan pasar terus melanjutkan penurunan, maka posisi akhirnya diprediksikan reksa dana saham yang akan paling rendah, disusul campuran, lalu terakhir pendapatan tetap," ujar dia.
Analis riset PT Infovesta Utama lainnya, Praska Putrantyo menambahkan, kinerja reksa dana saham dan pendapatan tetap lebih baik dibanding reksa dana campuran lantaran reksa dana saham ditopang solidnya kinerja IHSG sepanjang 11 bulan tahun ini dan reksa dana pendapatan tetap didukung solidnya kinerja indeks obligasi pemerintah (IGBI) dan indeks obligasi korporasi, yang masing-masing memeberikan return 8,36 persen dan 8,42 persen sepanjang periode tersebut.
"Sejumlah sentimen positif yang mempengaruhi kinerja bursa saham dan obligasi menjadi penopang utama positifnya kinerja IHSG dan IGBI," kata dia.
Adapun sentimen positif dari dalam negeri, seperti kondisi makro ekonomi domestik yang cukup baik dengan inflasi yang relatif terjaga, kebijakan suku bunga rendah, menurunnya persepsi resiko investor asing terhadap surat utang pemerintah Indonesia, hingga momentum publikasi laporan keuangan dari emiten-emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara dari luar negeri, seperti persetujuan pemberian dana talangan bagi Yunani yang terancam bangkrut, kesepakatan program pembelian obligasi oleh bank sentral Eropa (ECB), hingga disetujuinya program pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE) tahap III oleh The Fed yang sudah dinantikan pasar.
Berdasarkan data PT Infovesta Utama, kinerja reksa dana saham dan campuran pada tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu, namun untuk reksa dana pendapatan tetap masih unggul kinerja pada periode 11 bulan tahun lalu.
Periode 30 Desember 2010-30 November 2011, dengan kinerja rata-rata indeks harga saham gabungan (IHSG) 0,31 persen, kinerja reksa dana saham tercatat minus 3,78 persen, campuran minus 0,23 persen. Sedangkan, reksa dana pendapatan tetap berhasil membukukan kinerja tertinggi mencapai 10,17 persen.
"Lesunya kinerja bursa saham saat itu (2011) terkena dampak kekhawatiran memburuknya krisis utang di Uni Eropa serta pelemahan ekonomi AS setelah mengalami penurunan rating di bulan Agustus 2011 ke level AA+ dengan outlook negatif oleh S&P," imbuh Praska.
Sementara untuk periode hingga akhir November tahun ini, kinerja IHSG tercatat 11,88 persen, reksa dana saham 9,35 persen, campuran 7,18 persen dan pendapatan tetap 7,32 persen.
Pada akhir periode November 2012, kinerja reksa dana campuran sekitar 7,18 persen, sedangkan reksa dana saham 9,35 persen dan reksa dana pendapatan tetap 7,32 persen.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, kondisi saat ini berbeda dengan biasanya. Secara umum, kinerja reksa dana campuran berada diantara reksa dana saham dan pendapatan tetap. Artinya, jika pasar naik, maka urutan kinerja adalah reksa dana saham tertinggi, disusul campuran, kemudian pendapatan tetap.
Sebaliknya, jika pasar menurun, maka reksa dana pendapatan tetap tertinggi, diikuti campuran dan terakhir saham. "Untuk kali ini, kebetulan datanya agak berbeda dengan kebiasaan. Namun, hal tersebut bukan anomali, melainkan suatu kebetulan yang disebabkan karena periode pengamatan yang digunakan," kata dia kepada Sindonews, Selasa (11/12/2012).
Edbert menjelaskan, reksa dana saham dan campuran pada tahun ini bergerak relatif fluktuatif. Pada pekan terakhir November 2012, pasar saham dalam tren penurunan setelah tren naik sejak Juni tahun ini. Namun, karena kenaikan reksa dana campuran tidak setinggi reksa dana saham di tengah kondisi pasar yang berbalik arah (rebound) pada November lalu menyebabkan reksa dana campuran turun lebih dulu dan berhenti pada level di bawah reksa dana pendapatan tetap.
Menurut Edbert, jika periode pengamatan reksa dana tersebut diperpanjang akan menghasilkan data yang berbeda. "Apabila periode pengamatan diperpanjang dan pasar terus melanjutkan penurunan, maka posisi akhirnya diprediksikan reksa dana saham yang akan paling rendah, disusul campuran, lalu terakhir pendapatan tetap," ujar dia.
Analis riset PT Infovesta Utama lainnya, Praska Putrantyo menambahkan, kinerja reksa dana saham dan pendapatan tetap lebih baik dibanding reksa dana campuran lantaran reksa dana saham ditopang solidnya kinerja IHSG sepanjang 11 bulan tahun ini dan reksa dana pendapatan tetap didukung solidnya kinerja indeks obligasi pemerintah (IGBI) dan indeks obligasi korporasi, yang masing-masing memeberikan return 8,36 persen dan 8,42 persen sepanjang periode tersebut.
"Sejumlah sentimen positif yang mempengaruhi kinerja bursa saham dan obligasi menjadi penopang utama positifnya kinerja IHSG dan IGBI," kata dia.
Adapun sentimen positif dari dalam negeri, seperti kondisi makro ekonomi domestik yang cukup baik dengan inflasi yang relatif terjaga, kebijakan suku bunga rendah, menurunnya persepsi resiko investor asing terhadap surat utang pemerintah Indonesia, hingga momentum publikasi laporan keuangan dari emiten-emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara dari luar negeri, seperti persetujuan pemberian dana talangan bagi Yunani yang terancam bangkrut, kesepakatan program pembelian obligasi oleh bank sentral Eropa (ECB), hingga disetujuinya program pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE) tahap III oleh The Fed yang sudah dinantikan pasar.
Berdasarkan data PT Infovesta Utama, kinerja reksa dana saham dan campuran pada tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu, namun untuk reksa dana pendapatan tetap masih unggul kinerja pada periode 11 bulan tahun lalu.
Periode 30 Desember 2010-30 November 2011, dengan kinerja rata-rata indeks harga saham gabungan (IHSG) 0,31 persen, kinerja reksa dana saham tercatat minus 3,78 persen, campuran minus 0,23 persen. Sedangkan, reksa dana pendapatan tetap berhasil membukukan kinerja tertinggi mencapai 10,17 persen.
"Lesunya kinerja bursa saham saat itu (2011) terkena dampak kekhawatiran memburuknya krisis utang di Uni Eropa serta pelemahan ekonomi AS setelah mengalami penurunan rating di bulan Agustus 2011 ke level AA+ dengan outlook negatif oleh S&P," imbuh Praska.
Sementara untuk periode hingga akhir November tahun ini, kinerja IHSG tercatat 11,88 persen, reksa dana saham 9,35 persen, campuran 7,18 persen dan pendapatan tetap 7,32 persen.
(rna)
Lihat Juga :