Belajar dari nasihat Peter S Lynch

Rabu, 12 Desember 2012 - 10:04 WIB
Belajar dari nasihat...
Belajar dari nasihat Peter S Lynch
A A A
Nama besar Warrent Buffet dan Benjamin Graham memang tidak asing lagi dalam dunia investasi portofolio. Dua nama itu harus diakui telah menjadi ikon investasi pasar modal.

Begitu pun dengan nama George Soros, investor kampiun berdarah Yahudi yang juga dikenal sebagai spekulan ulung dunia. Diantara deretan nama besar investor pasar modal dunia itu jangan lupa masih ada nama besar lain, yakni Peter S Lynch.

Namanya memang tidak sengetop Buffet, Graham ataupun Soros. Tapi, prestasinya di dunia investasi portofolio membuat banyak orang berdecak kagum. Lahir 19 Januari 1944, Lynch memang dikenal sebagai investor di Wall Street.

Awal kariernya di Wall Street diawali pada 1977 ketika ia dipercaya memimpin Magellan Fund dengan nilai aset hanya USD18 juta. Hanya dalam kurun waktu 13 tahun, tepatnya di 1990 aset Magellan telah melonjak hingga USD14 miliar.

Selama 13 tahun Magellan berhasil mencetak keuntungan (return) rata-rata 29,2% per tahun. Portofolionya menyebar antara lain di Fannie Mae, Ford,Philip Morris, MCI, Volvo, dan General Electric. Di bawah komando Lynch, Magellan hanya dua kali gagal mencatat return lebih baik daripada yang dibukukan Indeks Standard & Poor’s 500.

Dalam sejarah, belum ada seorang manajer investasi yang sesukses itu. Setelah kesuksesannya itu, Lynch memilih pensiun muda di usia 46 tahun dan menikmati hidup bersama keluarganya. Lynch dengan penuh keyakinan berpendapat bahwa seorang investor individu atau amatir bisa mencapai prestasi yang lebih baik daripada kebanyakan profesional di bidang investasi.

Mengapa? Karena investor individual memiliki posisi lebih baik untuk memilih investasi yang menguntungkan lebih dulu. Bagaimana Lynch memainkan jurusnya hingga sukses? Tahun 2005, di sebuah forum konferensi investasi di New York, ia mengungkapkan sejumlah prinsip-prinsip investasinya.

Begitu memikat, sampai-sampai moderator konferensi –seorang bankir investasi yang bangga banknya mencatat laba tinggi per karyawan– saat menutup diskusi dengan bercanda mengatakan, ”Mengherankan sekali, mengapa mereka tidak mempekerjakan lebih banyak karyawan?”

Adapun, prinsip fundamental yang disampaikan Peter Lynch dalam makalahnya adalah: 1. Pahami yang Anda miliki. Kebanyakan orang tidak benar-benar sadar mengapa mereka membeli suatu saham.

Seharusnya, Anda tidak seperti itu. Konsep kunci Lynch adalah bahwa Anda bisa melihat peluang investasi di sekitar Anda dengan berkonsentrasi pada apa yang Anda pahami. Lynch selalu berinvestasi pada industri yang diketahuinya, meski seandainya bisnis itu diramalkan berkinerja membosankan.

2. Fokus pada "fakta" saat ini ketimbang prediksi tentang yang akan datang. Artinya, fokus pada fundamental perusahaan dan jangan pada pasar secara keseluruhan.

3. Anda punya banyak waktu. Anda memiliki banyak waktu untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang bagus.

Jika Anda membeli WallMart setelah naik 10 kali dalam 10 tahun pertama, Anda akan mendapatkan return lain 60 kali dalam 30 tahun mendatang. Maksudnya, jangan tergesa-gesa, perhatikan beberapa saham, tapi bersabarlah. Ini serupa dengan maksud Buffett tentang ”Tunggu Lemparan yang Bagus”.

4. Hindari ”Long Shots” (tembakan jarak jauh dalam permainan basket, maksudnya hindari sikap untung-untungan). Rekor Lynch adalah nol dalam 25 investasi pada perusahaan tanpa revenue tapi memiliki ”masa depan cerah” untuk dijual.

5. Manajemen yang baik sangat penting tapi beli bisnis yang bagus. Carilah perusahaan yang bagus, karena manajemen yang bagus di bisnis yang jelek mungkin akan gagal. ”Beli bisnis yang bahkan orang bodoh pun bisa mengelolanya,” kata Lynch.

6. Bersikaplah fleksibel. Banyak hal tak terduga terjadi, baik yang buruk maupun yang baik.Banyak investasi yang bagus terjadi oleh alasan yang ”keliru”. Contohnya, prediksi Lynch benar tentang pertumbuhan tapi investasi ternyata tetap loyo dan ia tidak membukukan keuntungan. Jadi, bersikaplah fleksibel dan moderat.

7. Ketahui kapan harus menjual. Sebelum Anda membeli suatu saham, seharusnya Anda bisa menjelaskan alasan mengapa membelinya dalam kalimat yang bisa dimengerti seorang anak 11 tahun. Ingatlah alasan ini, dan jual sahamnya saat alasan itu tidak lagi bisa dipertahankan.

Tentu tidak setiap saran Lynch sesuai dengan kondisi di Indonesia. Tapi, sebagai sebuah masukan, nasihat Lynch rasanya perlu jadi pelajaran bagi pelaku pasar. Siapa tahu kesuksesan Lynch bisa menular pada Anda.

Tim BEI
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terancam Tutup, Perusahaan...
Terancam Tutup, Perusahaan Perparkiran Butuh Sederet Relaksasi Pajak
Sosialisasikan COVID-19,...
Sosialisasikan COVID-19, Pengelola Apartemen Manfaatkan Jaringan TV Lokal
Pabrik Mulai Berproduksi,...
Pabrik Mulai Berproduksi, VW Ubah Logo seperti Game PacMan
Jukir CentrePark Kembalikan...
Jukir CentrePark Kembalikan Dompet Temuan Berisi Jutaan Rupiah ke Pemiliknya
Pura Trans dan Hino...
Pura Trans dan Hino Latih Smart Driving untuk Para Sopir
Berkat Kerja Keras Tim,...
Berkat Kerja Keras Tim, CentrePark Raih Penghargaan Wajib Pajak Terbaik
Berita Terkini
Dana Pensiun PNS Malaysia...
Dana Pensiun PNS Malaysia Jadi Korban eFishery, Kerugian Capai Rp855 Miliar
42 menit yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan Rp2,61 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
1 jam yang lalu
Inflasi AS Turun Jadi...
Inflasi AS Turun Jadi 3,5%, Bitcoin dan Ethereum Berpeluang Menguat
2 jam yang lalu
Biaya Nongkrong Kian...
Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
3 jam yang lalu
AS-Iran Saling Gempur,...
AS-Iran Saling Gempur, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus USD88 per Barel
4 jam yang lalu
Dulu Dijajah Belanda,...
Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%
14 jam yang lalu
Infografis
Profil Nanik S Deyang,...
Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN Pengganti Dadan Hindayana
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved