Dicari: Capres yang go green
Rabu, 12 Desember 2012 - 10:20 WIB
Dicari: Capres yang go green
A
A
A
Banyak diskusi membahas kriteria calon presiden (capres) yang ideal. Saya ingin menambahkan sebuah parameter lagi yaitu capres yang ideal adalah yang sudah go green.
Aktivitas go green awalnya lebih dititikberatkan kepada aspek lingkungan, terdiri dari kegiatan 4R (reduce, reuse, recycle dan replace) material yang digunakan sehari-hari. Arti kata go green atau green movement saat ini sudah meluas kepada definisi “a supporter of socially conscious, political and personal actions that support the environment, nonviolence, elimination of poverty, equality, diversity and conservation.”
Dari definisi tersebut, capres yang go green berarti yang mendukung aktivitas sosial, politik dan personal berkaitan dengan lingkungan hidup dan kesejahteraan komunitas. Juga anti-kekerasan, memberantas korupsi, mengetengahkan persamaan hak dan menghargai perbedaan.
Persoalannya, jika kita sudah menemukan capres yang cocok dengan kriteria go green, bagaimana dengan masyarakatnya sendiri? Apakah masyarakat sebagai pemilih (voters) sudah siap menjadi green voters?
Ini yang menjadi tantangan kita berikutnya. Di negara maju, dimana konsep go green ini sudah lebih dahulu dimasyarakatkan, ternyata masih banyak mengalami hambatan dalam pelaksanaannya. Konsumer yang go green dikenal dengan istilah ethical consumers karena dalam mengambil keputusan untuk membeli dan mengonsumsi produk, mereka mempunyai pertimbangan yang beretika tinggi.
Mempertimbangkan bukan saja faktor benefit untuk diri sendiri tetapi juga memperhitungkan dampak keputusannya dari aspek sosial komunitas dan lingkungan hidup. Go green sudah lebih mengarah kepada perubahan gaya hidup yang lebih beretika, lebih bertanggung jawab kepada sosial dan lingkungan. Hari ini saya membaca dua studi yang cukup kontras tentang ethical consumption.
● Studi pertama membahas tren pemasaran ke depannya di tingkat global bahwa konsumen akan semakin beretika. Artinya, konsumen semakin peduli terhadap kelestarian, meminimalisasi eksploitasi manusia, binatang dan lingkungan.
Perusahaan yang dipilih oleh ethical consumers adalah perusahaan yang juga peduli. Perusahaan go green adalah perusahaan yang bukan saja mempertimbangkan faktor profit dalam setiap produksinya, tetapi juga secara luas memperhatikan semua aspek yang dibutuhkan oleh konsumen, karyawannya, serta lingkungan hidup.
● Studi berikutnya yang saya baca menjelaskan kenyataanyangberbedadariapayang sering dibicarakan. Studi yang berjudul “Why don’t consumers consume ethically?” oleh Eckhardt, Belk dan Devinney ini mengangkat temuan mereka bahwa ternyata masih terdapat kesenjangan yang lebar antara apa yang dikatakan vs dikerjakan oleh konsumen seputar menjadi konsumen beretika.
Konsumen yang mengaku beretika ternyata masih saja memilih produk tanpa pertimbangan kepedulian tersebut. Studi ini diadakan di delapan negara, empat di antaranya negara maju.
Walaupun buzz tentang konsep ethical consumption di negara maju sudah kuat, tetapi ternyata perilaku konsumen belum mencerminkan ethical dalam arti yang mendasar. Devinney dalam studinya yang lain menyatakan bahwa penjualan produk “green” ini jauh di bawah proyeksi yang disimpulkan dari survei tentang keinginan membeli. Di bawah sadar, menurut studi ini, green movement bagi sebagian besar konsumen, masih baru sebatas retorika belaka.
Green voters
Bahwa konsumen di negara maju saja belum benar-benar menghayati prinsip go green inilah yang harus disikapi dengan baik di negara sendiri. Harus ada cara untuk menyadarkan konsumen kembali ke filosofi dan definisi green movement tersebut.
Demikian pula jika kita hubungkan dengan situasi pemilihan presiden nanti. Apakah masyarakat sudah cukup peduli secara holistik dan bukan hanya masih memikirkan benefit untuk diri sendiri saja? Konsumen perlu diingatkan bahwa ada tanggung jawab yang besar dalam urusan voting pemilihan presiden.
Menjadi golput (golongan putih, tidak ikut memilih) itu seharusnya bukan menjadi sebuah kebanggaan. Ini bertentangan dengan green movement. Tidak ikut memilih merupakan bentuk ketidakpedulian sosial. Bagi para voters, yang perlu ditingkatkan adalah pengetahuan dan kesadaran untuk memilih para calon dengan seksama.
Kepedulian sosial adalah memilih calon dengan menggunakan ukuran-ukuran yang benar, memilih calon yang as green as possible. Bahwa masyarakat semakin go green ,yaitu semakin peduli, bisa dilihat dalam kurun waktu belakangan ini. Terpilihnya Jokowi-Ahok, memperlihatkan sebuah kesadaran sosial yang semakin kental.
Demikian pula dengan kasus yang menimpa Bupati Garut Aceng Fikri yang diminta mundur karena tidak lagi memenuhi kriteria sebagai “bupati peduli”. Kampanye capres tidak cukup hanya dengan kampanye kehebatan calon-calonnya saja.
Pekerjaan rumah bagi setiap capres saat ini adalah ikut serta dalam menggiatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat voters agar semakin green, semakin peduli. Bagaimana dengan Anda sendiri, How green are you?
Aktivitas go green awalnya lebih dititikberatkan kepada aspek lingkungan, terdiri dari kegiatan 4R (reduce, reuse, recycle dan replace) material yang digunakan sehari-hari. Arti kata go green atau green movement saat ini sudah meluas kepada definisi “a supporter of socially conscious, political and personal actions that support the environment, nonviolence, elimination of poverty, equality, diversity and conservation.”
Dari definisi tersebut, capres yang go green berarti yang mendukung aktivitas sosial, politik dan personal berkaitan dengan lingkungan hidup dan kesejahteraan komunitas. Juga anti-kekerasan, memberantas korupsi, mengetengahkan persamaan hak dan menghargai perbedaan.
Persoalannya, jika kita sudah menemukan capres yang cocok dengan kriteria go green, bagaimana dengan masyarakatnya sendiri? Apakah masyarakat sebagai pemilih (voters) sudah siap menjadi green voters?
Ini yang menjadi tantangan kita berikutnya. Di negara maju, dimana konsep go green ini sudah lebih dahulu dimasyarakatkan, ternyata masih banyak mengalami hambatan dalam pelaksanaannya. Konsumer yang go green dikenal dengan istilah ethical consumers karena dalam mengambil keputusan untuk membeli dan mengonsumsi produk, mereka mempunyai pertimbangan yang beretika tinggi.
Mempertimbangkan bukan saja faktor benefit untuk diri sendiri tetapi juga memperhitungkan dampak keputusannya dari aspek sosial komunitas dan lingkungan hidup. Go green sudah lebih mengarah kepada perubahan gaya hidup yang lebih beretika, lebih bertanggung jawab kepada sosial dan lingkungan. Hari ini saya membaca dua studi yang cukup kontras tentang ethical consumption.
● Studi pertama membahas tren pemasaran ke depannya di tingkat global bahwa konsumen akan semakin beretika. Artinya, konsumen semakin peduli terhadap kelestarian, meminimalisasi eksploitasi manusia, binatang dan lingkungan.
Perusahaan yang dipilih oleh ethical consumers adalah perusahaan yang juga peduli. Perusahaan go green adalah perusahaan yang bukan saja mempertimbangkan faktor profit dalam setiap produksinya, tetapi juga secara luas memperhatikan semua aspek yang dibutuhkan oleh konsumen, karyawannya, serta lingkungan hidup.
● Studi berikutnya yang saya baca menjelaskan kenyataanyangberbedadariapayang sering dibicarakan. Studi yang berjudul “Why don’t consumers consume ethically?” oleh Eckhardt, Belk dan Devinney ini mengangkat temuan mereka bahwa ternyata masih terdapat kesenjangan yang lebar antara apa yang dikatakan vs dikerjakan oleh konsumen seputar menjadi konsumen beretika.
Konsumen yang mengaku beretika ternyata masih saja memilih produk tanpa pertimbangan kepedulian tersebut. Studi ini diadakan di delapan negara, empat di antaranya negara maju.
Walaupun buzz tentang konsep ethical consumption di negara maju sudah kuat, tetapi ternyata perilaku konsumen belum mencerminkan ethical dalam arti yang mendasar. Devinney dalam studinya yang lain menyatakan bahwa penjualan produk “green” ini jauh di bawah proyeksi yang disimpulkan dari survei tentang keinginan membeli. Di bawah sadar, menurut studi ini, green movement bagi sebagian besar konsumen, masih baru sebatas retorika belaka.
Green voters
Bahwa konsumen di negara maju saja belum benar-benar menghayati prinsip go green inilah yang harus disikapi dengan baik di negara sendiri. Harus ada cara untuk menyadarkan konsumen kembali ke filosofi dan definisi green movement tersebut.
Demikian pula jika kita hubungkan dengan situasi pemilihan presiden nanti. Apakah masyarakat sudah cukup peduli secara holistik dan bukan hanya masih memikirkan benefit untuk diri sendiri saja? Konsumen perlu diingatkan bahwa ada tanggung jawab yang besar dalam urusan voting pemilihan presiden.
Menjadi golput (golongan putih, tidak ikut memilih) itu seharusnya bukan menjadi sebuah kebanggaan. Ini bertentangan dengan green movement. Tidak ikut memilih merupakan bentuk ketidakpedulian sosial. Bagi para voters, yang perlu ditingkatkan adalah pengetahuan dan kesadaran untuk memilih para calon dengan seksama.
Kepedulian sosial adalah memilih calon dengan menggunakan ukuran-ukuran yang benar, memilih calon yang as green as possible. Bahwa masyarakat semakin go green ,yaitu semakin peduli, bisa dilihat dalam kurun waktu belakangan ini. Terpilihnya Jokowi-Ahok, memperlihatkan sebuah kesadaran sosial yang semakin kental.
Demikian pula dengan kasus yang menimpa Bupati Garut Aceng Fikri yang diminta mundur karena tidak lagi memenuhi kriteria sebagai “bupati peduli”. Kampanye capres tidak cukup hanya dengan kampanye kehebatan calon-calonnya saja.
Pekerjaan rumah bagi setiap capres saat ini adalah ikut serta dalam menggiatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat voters agar semakin green, semakin peduli. Bagaimana dengan Anda sendiri, How green are you?
(rna)
Lihat Juga :