Pertamina EP Field Bunyu maksimalkan sumur peninggalan Belanda
Rabu, 12 Desember 2012 - 12:41 WIB
Pertamina EP Field Bunyu maksimalkan sumur peninggalan Belanda
A
A
A
Sindonews.com - Eksplorasi dan Eksploitasi ladang minyak di Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur (Kaltim) berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda. Ratusan sumur sudah dibangun oleh Belanda untuk memperoleh minyak dari pulau kecil di utara Kaltim itu.
Field Manager Pertamina EP Field Bunyu, Suyitno Salinleho menjelaskan, Belanda mulai masuk ke Pulau Bunyu sejak awal 1900-an. Kemudian pada tahun 1950 diambil alih oleh Pertamina dan pada tahun 1976 baru mulai dikomersilkan.
Pada tahun 2013, sedikitnya ada 10 sumur baru yang akan dbangun. Dari 10 sumur itu, tujuh sumur berasal dari struktur Bunyu Nibung, sedangkan tiga sumur berada di struktur Bunyu. “Khusus yang Bunyu itu eks peninggalan Belanda,” kata Suyitno, Selasa (11/12/2012).
Pertamina EP ingin memaksimalkan sumur peninggalan Belanda karena masih ada potensi di eks sumur-sumur tersebut. Selain itu, dengan memaksimalkan sumur bekas, biaya pengeboran jauh lebih murah daripada membuat sumur baru. Satu sumur baru yang dibangun membutuhkan biaya hingga Rp20 miliar.
“Belanda meninggalkan sumur itu karena perang, saya yakin itu masih ada yang berpotensi. Selain itu, teknologi dulu dengan sekarang berbeda. Kalau dulu ada jepitan langsung ditinggal. Sekarang kita sudah bisa atasi yang begitu,” tambah Suyitnio.
Ia mencontohkan pada sumur bor BN-18 yang menghasilkan minyak sangat fenomenal. Padahal sumur ini merupakan peninggalan Belanda. Dengan hanya 20 persen dari total biaya pengeboran baru, sumur ini menghasilkan hingga 5.400 barel per hari.
“Itu sangat luar biasa. KKKS yang lain itu sangat iri. Dan sekarang masih berproduksi, grosnya 4.600, nettnya 1.100. Akhirnya dari BN-18 kita bangkit,” katanya.
Dengan hasil yang fenomenal tersebut, Pertamina EP Field Bunyu terus mencari sumur-sumur yang lain. Berdasarkan pengalaman pada sumur bor BN-18 yang merupakan peninggalan Belanda, pencarian di eks sumur lama akan terus dicari. Namun upaya ekplorasi dan eksploitasi di ladang minyak baru akan tetap terus dilakukan.
Field Manager Pertamina EP Field Bunyu, Suyitno Salinleho menjelaskan, Belanda mulai masuk ke Pulau Bunyu sejak awal 1900-an. Kemudian pada tahun 1950 diambil alih oleh Pertamina dan pada tahun 1976 baru mulai dikomersilkan.
Pada tahun 2013, sedikitnya ada 10 sumur baru yang akan dbangun. Dari 10 sumur itu, tujuh sumur berasal dari struktur Bunyu Nibung, sedangkan tiga sumur berada di struktur Bunyu. “Khusus yang Bunyu itu eks peninggalan Belanda,” kata Suyitno, Selasa (11/12/2012).
Pertamina EP ingin memaksimalkan sumur peninggalan Belanda karena masih ada potensi di eks sumur-sumur tersebut. Selain itu, dengan memaksimalkan sumur bekas, biaya pengeboran jauh lebih murah daripada membuat sumur baru. Satu sumur baru yang dibangun membutuhkan biaya hingga Rp20 miliar.
“Belanda meninggalkan sumur itu karena perang, saya yakin itu masih ada yang berpotensi. Selain itu, teknologi dulu dengan sekarang berbeda. Kalau dulu ada jepitan langsung ditinggal. Sekarang kita sudah bisa atasi yang begitu,” tambah Suyitnio.
Ia mencontohkan pada sumur bor BN-18 yang menghasilkan minyak sangat fenomenal. Padahal sumur ini merupakan peninggalan Belanda. Dengan hanya 20 persen dari total biaya pengeboran baru, sumur ini menghasilkan hingga 5.400 barel per hari.
“Itu sangat luar biasa. KKKS yang lain itu sangat iri. Dan sekarang masih berproduksi, grosnya 4.600, nettnya 1.100. Akhirnya dari BN-18 kita bangkit,” katanya.
Dengan hasil yang fenomenal tersebut, Pertamina EP Field Bunyu terus mencari sumur-sumur yang lain. Berdasarkan pengalaman pada sumur bor BN-18 yang merupakan peninggalan Belanda, pencarian di eks sumur lama akan terus dicari. Namun upaya ekplorasi dan eksploitasi di ladang minyak baru akan tetap terus dilakukan.
(gpr)
Lihat Juga :