2013, kinerja rata-rata reksa dana saham 8-13%
Minggu, 16 Desember 2012 - 18:01 WIB
2013, kinerja rata-rata reksa dana saham 8-13%
A
A
A
Sindonews.com - PT Infovesta Utama memprediksi, kinerja rata-rata reksa dana saham dari sisi imbal hasil (return) pada tahun depan berpotensi berada pada kisaran 8-13 persen. Ini dengan catatan bahwa pasar saham pada tahun depan masih akan bertumbuh.
"Dengan besarnya ekspektasi bahwa pasar saham sendiri masih bertumbuh di tahun 2013, maka reksa dana saham juga dilihat dapat memberikan konstribusi positif terhadap portofolio investor," kata dia kepada Sindonews baru-baru ini.
Adapun, faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham serupa dengan IHSG. Faktor dari luar negeri, berupa keyakinan terhadap pemulihan ekonomi global pada tahun depan menyusul dukungan stimulus, seperti suku bunga yang dipertahankan pada level rendah dan dampak positif dari program pelonggaran kuantitatif tahap III, yang diperkirakan akan mulai memberi imbas positif pada kuartal I/2013 dan disediakannya cadangan dana talangan permanen European Stability Mechanism (ESM).
Sementara faktor dari dalam negeri, yakni proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan yang bisa bertahan di atas 6 persen didukung sektor konsumsi dan investasi serta masih adanya optimisme pelaku pasar terhadap prospek perekonomian Tanah Air, yang tercermin pada indeks keyakinan bisnis dan konsumen.
Selain itu, persepsi resiko investor asing terhadap pasar dalam negeri diperkirakan akan makin membaik seiring perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan kinerja emiten yang diperkirakan makin positif pada tahun 2013 juga memberi imbas positif terhadap reksa dana saham.
Meski terdapat sejumlah faktor positif, namun faktor negatif juga membayangi pasar modal Indonesia. Analis PT Infovesta Utama lainnya, Praska Putrantyo menyebut, ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) berpotensi membuat pemulihan ekonomi di AS terhambat, bahkan menggalami resesi.
Disamping itu, potensi munculnya profil baru sejumlah negara bermasalah dengan utang di zona Uni Eropa masih terbuka, meski sudah ada dana talangan permanen.
"Sedangkan faktor negatif dari dalam negeri, berupa potensi kenaikan suku bunga, jika terjadi lonjakan inflasi jangka pendek, terutama kibat kenaikan tarif dasarlistrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM) dan upah minimum buruh," ujar dia.
Praska memprediksi, untuk kinerja rata-rata reksa dana campuran pada tahun depan berada pada kisaran 8-11 persen. Sedangkan reksa dana pendapatan tetap antara 5-6,5 persen. PT Infovesta menyarankan, kalangan investor yang menginvestasikan danannya di instrumen reksa dana pada tahun depan untuk disesuaikan dengan tujuan investasi dan toleransi resiko investor guna meminimalisir kerugian.
"Dengan besarnya ekspektasi bahwa pasar saham sendiri masih bertumbuh di tahun 2013, maka reksa dana saham juga dilihat dapat memberikan konstribusi positif terhadap portofolio investor," kata dia kepada Sindonews baru-baru ini.
Adapun, faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham serupa dengan IHSG. Faktor dari luar negeri, berupa keyakinan terhadap pemulihan ekonomi global pada tahun depan menyusul dukungan stimulus, seperti suku bunga yang dipertahankan pada level rendah dan dampak positif dari program pelonggaran kuantitatif tahap III, yang diperkirakan akan mulai memberi imbas positif pada kuartal I/2013 dan disediakannya cadangan dana talangan permanen European Stability Mechanism (ESM).
Sementara faktor dari dalam negeri, yakni proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan yang bisa bertahan di atas 6 persen didukung sektor konsumsi dan investasi serta masih adanya optimisme pelaku pasar terhadap prospek perekonomian Tanah Air, yang tercermin pada indeks keyakinan bisnis dan konsumen.
Selain itu, persepsi resiko investor asing terhadap pasar dalam negeri diperkirakan akan makin membaik seiring perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan kinerja emiten yang diperkirakan makin positif pada tahun 2013 juga memberi imbas positif terhadap reksa dana saham.
Meski terdapat sejumlah faktor positif, namun faktor negatif juga membayangi pasar modal Indonesia. Analis PT Infovesta Utama lainnya, Praska Putrantyo menyebut, ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) berpotensi membuat pemulihan ekonomi di AS terhambat, bahkan menggalami resesi.
Disamping itu, potensi munculnya profil baru sejumlah negara bermasalah dengan utang di zona Uni Eropa masih terbuka, meski sudah ada dana talangan permanen.
"Sedangkan faktor negatif dari dalam negeri, berupa potensi kenaikan suku bunga, jika terjadi lonjakan inflasi jangka pendek, terutama kibat kenaikan tarif dasarlistrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM) dan upah minimum buruh," ujar dia.
Praska memprediksi, untuk kinerja rata-rata reksa dana campuran pada tahun depan berada pada kisaran 8-11 persen. Sedangkan reksa dana pendapatan tetap antara 5-6,5 persen. PT Infovesta menyarankan, kalangan investor yang menginvestasikan danannya di instrumen reksa dana pada tahun depan untuk disesuaikan dengan tujuan investasi dan toleransi resiko investor guna meminimalisir kerugian.
(rna)
Lihat Juga :