3 sektor berpotensi jebol APBN
Rabu, 19 Desember 2012 - 18:19 WIB
3 sektor berpotensi jebol APBN
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani mengemukakan bahwa bukan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan pemborosan anggaran pendapat dan belanja negara (APBN). Menurut dia, ada tiga sektor yang perlu dicermati agar APBN tidak jebol.
Pertama, pemborosan di sektor belanja pegawai. "Hanya 20 persen aparat birokrasi yang bekerja. Jadi, ada inefisiensi 80 persen atau setara Rp320 triliun," kata Dewi Aryani dalam Sarasehan Perhimpunan Profesional Indonesia (PPI) di Menteng, Jakarta, Rabu (19/12/2012).
Kedua, belanja modal. "Jika kita anggap inefisiensi belanja modal 15 persen saja, itu setara penghematan APBN sebesar Rp150 triliun," ujar dia.
Ketiga, Dewi menyebut penerimaan pajak yang belum maksimal. "Hanya 32,7 persen Wajib Pajak (WP) badan dan 54,7 persen WP perorangan yang taat membayar pajak. Jika ditingkatkan 15 persen saja, APBN kita mendapat penerimaan Rp1.400 triliun," sambungnya.
Bila pemborosan-pemborosan tersebut berhasil diatasi, lanjut Dewi, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi. "Lakukanlah penghematan-penghematan sebelum mengambil sikap terakhir menaikkan harga BBM yang justru merugikan rakyat," simpul dia.
Pertama, pemborosan di sektor belanja pegawai. "Hanya 20 persen aparat birokrasi yang bekerja. Jadi, ada inefisiensi 80 persen atau setara Rp320 triliun," kata Dewi Aryani dalam Sarasehan Perhimpunan Profesional Indonesia (PPI) di Menteng, Jakarta, Rabu (19/12/2012).
Kedua, belanja modal. "Jika kita anggap inefisiensi belanja modal 15 persen saja, itu setara penghematan APBN sebesar Rp150 triliun," ujar dia.
Ketiga, Dewi menyebut penerimaan pajak yang belum maksimal. "Hanya 32,7 persen Wajib Pajak (WP) badan dan 54,7 persen WP perorangan yang taat membayar pajak. Jika ditingkatkan 15 persen saja, APBN kita mendapat penerimaan Rp1.400 triliun," sambungnya.
Bila pemborosan-pemborosan tersebut berhasil diatasi, lanjut Dewi, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi. "Lakukanlah penghematan-penghematan sebelum mengambil sikap terakhir menaikkan harga BBM yang justru merugikan rakyat," simpul dia.
(rna)
Lihat Juga :