PLN target peningkatan energi alternatif hanya 5%
Jum'at, 21 Desember 2012 - 11:42 WIB
PLN target peningkatan energi alternatif hanya 5%
A
A
A
Sindonews.com - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan hanya menargetkan peningkatan penggunaan energi alternatif sebesar 5 persen hingga 2020. Saat ini baru sekitar 12 persen listrik PLN yang berasal dari energi alternatif, dan hanya 17 persen 8 tahun mendatang.
"Jadi energi alternatif per tahun ini itu 12 persen listrik PLN berasal dari panas bumi dan tenaga air. Ini akan meningkat pada tahun 2020 itu 17 persen," ungkap Direktur Utama PLN Nur Pamudji usai Deklarasi PLN Bersih di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (21/12/2012).
Pamudji menambahkan, tarif tenaga listrik dari panas bumi berkisar Rp800 per kwh. Adapun, tarif tenaga listrik yang dijual PLN kepada pelanggan adalah Rp740 per kwh. Artinya, PLN mengalami kerugian sebesar Rp60 per kwh dari listrik panas bumi.
"Geothermal itu tarifnya berkisar lebih dari 9 sen dolar, atau Rp800. Harga jual kita Rp740, kita kalau pakai geothermal itu rugi," jelas dia.
Meski demikian, pihaknya tetap akan terus mengembangkan penggunaan panas bumi karena tarif listrik bisa dinaikkan ketika daya beli masyarakat semakin meningkat.
"Tapi enggak apa apa, ini kan jangka panjang, mudah-mudahan di masa depan daya beli masyarakat kan berubah," pungkasnya.
"Jadi energi alternatif per tahun ini itu 12 persen listrik PLN berasal dari panas bumi dan tenaga air. Ini akan meningkat pada tahun 2020 itu 17 persen," ungkap Direktur Utama PLN Nur Pamudji usai Deklarasi PLN Bersih di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (21/12/2012).
Pamudji menambahkan, tarif tenaga listrik dari panas bumi berkisar Rp800 per kwh. Adapun, tarif tenaga listrik yang dijual PLN kepada pelanggan adalah Rp740 per kwh. Artinya, PLN mengalami kerugian sebesar Rp60 per kwh dari listrik panas bumi.
"Geothermal itu tarifnya berkisar lebih dari 9 sen dolar, atau Rp800. Harga jual kita Rp740, kita kalau pakai geothermal itu rugi," jelas dia.
Meski demikian, pihaknya tetap akan terus mengembangkan penggunaan panas bumi karena tarif listrik bisa dinaikkan ketika daya beli masyarakat semakin meningkat.
"Tapi enggak apa apa, ini kan jangka panjang, mudah-mudahan di masa depan daya beli masyarakat kan berubah," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :