PLN masih rugi Rp60/kwh dari listrik geothermal
Jum'at, 21 Desember 2012 - 12:32 WIB
PLN masih rugi Rp60/kwh dari listrik geothermal
A
A
A
Sindonews.com - Biaya listrik PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) yang besumber dari panas bumi (geothermal) masih lebih besar dari harga jual listrik PLN kepada para pelanggannya. Untuk setiap kilowatt hour (kwh) listrik panas bumi, PLN rugi sekitar Rp60.
"Geothermal itu tarifnya berkisar lebih dari 9 sen dolar (USD) atau Rp800. Harga jual kita Rp740, kita kalau pakai geothermal itu rugi," tutur Direktur Utama PLN Nur Pamudji usai Deklarasi PLN Bersih di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (21/12/2012).
Meski demikian, PLN akan tetap meningkatkan penggunaan panas bumi karena kerugian tersebut akan segera teratasi dalam jangka panjang. "Untuk energi alternatif, PLT Panas Bumi cukup menjanjikan," kata dia.
Menurut Pamudji, bila pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tengah menanjak dalam beberapa tahun belakangan terus berlanjut, daya beli masyarakat akan meningkat, sehingga tarif listrik bisa dinaikkan. Artinya, kerugian biaya dari penggunaan panas bumi tidak akan terjadi lagi.
"Tapi tidak apa apa, ini kan jangka panjang, mudah-mudahan di masa depan daya beli masyarakat kan berubah," tuturnya.
"Geothermal itu tarifnya berkisar lebih dari 9 sen dolar (USD) atau Rp800. Harga jual kita Rp740, kita kalau pakai geothermal itu rugi," tutur Direktur Utama PLN Nur Pamudji usai Deklarasi PLN Bersih di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (21/12/2012).
Meski demikian, PLN akan tetap meningkatkan penggunaan panas bumi karena kerugian tersebut akan segera teratasi dalam jangka panjang. "Untuk energi alternatif, PLT Panas Bumi cukup menjanjikan," kata dia.
Menurut Pamudji, bila pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tengah menanjak dalam beberapa tahun belakangan terus berlanjut, daya beli masyarakat akan meningkat, sehingga tarif listrik bisa dinaikkan. Artinya, kerugian biaya dari penggunaan panas bumi tidak akan terjadi lagi.
"Tapi tidak apa apa, ini kan jangka panjang, mudah-mudahan di masa depan daya beli masyarakat kan berubah," tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :