Pasar modal Indonesia masih prospektif
Senin, 24 Desember 2012 - 13:20 WIB
Pasar modal Indonesia masih prospektif
A
A
A
Sindonews. com - Pasar modal Indonesia pada tahun depan diprediksi masih prospektif. Hal ini ditopang dari fundamental ekonomi maupun kinerja emiten yang diprediksi masih solid pada tahun depan.
Analis PT Infovesta Utama Praska Putrantyo mengatakan, prospektifnya pasar modal dalam negeri dibayangi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG), yang diperkirakan sangat fluktuatif karena potensi rawan koreksi jangka pendek akibat sentimen dari global.
"Potensi rawan koreksi jangka pendek terpengaruh oleh isu global di tengah valuasi yang relatif premium dibanding negara berkembang lain di Asia," kata dia kepada Sindonews, Senin (24/12/2012).
Dia menjelaskan, sentimen negatif dari global yang akan mempengaruhi kondisi dalam negeri, seperti ancaman masalah jurang fiskal (fiscal cliff), yang berpotensi membuat pemulihan ekonomi menjadi terhambat, bahkan mengalami resesi. Ini akan berdampak negatif pada sejumlah negara yang memiliki mitra dagang atau melakukan tujuan ekspor ke Amerika Serikat.
Selain itu, munculnya masalah baru dari sejumlah negara dengan utang bermasalah di Uni Eropa di tengah ketidakjelasan solusi, yang tepat untuk menuntaskan krisis utang, meski ada dana talangan permanen, European Stability Mechanism (ESM) yang disediakan Bank Sentral Eropa.
Kendati dibanyangi sentimen negatif dari global, sejumlah sentimen positif diharapkan akan memberi imbas positif terhadap pasar. Sentimen positif tersebut, seperti proyeksi pemulihan global oleh IMF yang berpotensi terjadi pada tahun depan dan pemulihan ekonomi China yang ditargetkan tumbuh 8 persen pada tahun depan.
Kondisi ekonomi di China tersebut sudah terefleksi pada membaiknya industri manufaktur, yang terlihat pada indeks Purchasing Manager Index (PMI) yang naik ke atas level 50 sejak Oktober 2012 sekaligus mengindikasikan ekonomi mulai memasuki tahap ekspansi.
Untuk pasar obligasi pemerintah (SUN) diperkirakan memiliki potensi kenaikan tidak seagresif tahun ini. Itu karena kondisi pasar yang cukup tinggi. "Terlebih jika ancaman kenaikan inflasi memicu kenaikan suku bunga dan yield terealisasi pada tahun depan," imbuh Praska.
Adapun, sentimen positif dari dalam negeri yang akan memberi imbas pada pasar modal domestik tahun depan, yakni pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan bertahan di level 6 persen ditopang konsumsi dan investasi, Indeks Keyakinan Bisnis dan Konsumen hingga kuartal III yang masih optimistis terhadap perekonomian Indonesia dan persepsi resiko investor asing terhadap surat utang negara yang membaik.
Namun, kondisi pasar modal pada 2013 juga dibayangi sentimen negatif, berupa ancaman kenaikan suku bunga yang dapat memicu imbal hasil di pasar obligasi semakin tertekan akibat lonjakan inflasi jangka pendek akibat kenaikan tarif dasar listrik (TDL), peluang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan upah minimum provinsi (UMP).
Sementara, target wajar investasi di IHSG pada tahun depan diproyeksi antara 13-14 persen, reksa dana saham antara 11-14 persen, reksa dana campuran 8-11 persen dan pendapatan tetap 5-6,5 persen. Sedangkan indeks obligasi pemerintah diproyeksi 6-7 persen.
Analis PT Infovesta Utama Praska Putrantyo mengatakan, prospektifnya pasar modal dalam negeri dibayangi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG), yang diperkirakan sangat fluktuatif karena potensi rawan koreksi jangka pendek akibat sentimen dari global.
"Potensi rawan koreksi jangka pendek terpengaruh oleh isu global di tengah valuasi yang relatif premium dibanding negara berkembang lain di Asia," kata dia kepada Sindonews, Senin (24/12/2012).
Dia menjelaskan, sentimen negatif dari global yang akan mempengaruhi kondisi dalam negeri, seperti ancaman masalah jurang fiskal (fiscal cliff), yang berpotensi membuat pemulihan ekonomi menjadi terhambat, bahkan mengalami resesi. Ini akan berdampak negatif pada sejumlah negara yang memiliki mitra dagang atau melakukan tujuan ekspor ke Amerika Serikat.
Selain itu, munculnya masalah baru dari sejumlah negara dengan utang bermasalah di Uni Eropa di tengah ketidakjelasan solusi, yang tepat untuk menuntaskan krisis utang, meski ada dana talangan permanen, European Stability Mechanism (ESM) yang disediakan Bank Sentral Eropa.
Kendati dibanyangi sentimen negatif dari global, sejumlah sentimen positif diharapkan akan memberi imbas positif terhadap pasar. Sentimen positif tersebut, seperti proyeksi pemulihan global oleh IMF yang berpotensi terjadi pada tahun depan dan pemulihan ekonomi China yang ditargetkan tumbuh 8 persen pada tahun depan.
Kondisi ekonomi di China tersebut sudah terefleksi pada membaiknya industri manufaktur, yang terlihat pada indeks Purchasing Manager Index (PMI) yang naik ke atas level 50 sejak Oktober 2012 sekaligus mengindikasikan ekonomi mulai memasuki tahap ekspansi.
Untuk pasar obligasi pemerintah (SUN) diperkirakan memiliki potensi kenaikan tidak seagresif tahun ini. Itu karena kondisi pasar yang cukup tinggi. "Terlebih jika ancaman kenaikan inflasi memicu kenaikan suku bunga dan yield terealisasi pada tahun depan," imbuh Praska.
Adapun, sentimen positif dari dalam negeri yang akan memberi imbas pada pasar modal domestik tahun depan, yakni pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan bertahan di level 6 persen ditopang konsumsi dan investasi, Indeks Keyakinan Bisnis dan Konsumen hingga kuartal III yang masih optimistis terhadap perekonomian Indonesia dan persepsi resiko investor asing terhadap surat utang negara yang membaik.
Namun, kondisi pasar modal pada 2013 juga dibayangi sentimen negatif, berupa ancaman kenaikan suku bunga yang dapat memicu imbal hasil di pasar obligasi semakin tertekan akibat lonjakan inflasi jangka pendek akibat kenaikan tarif dasar listrik (TDL), peluang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan upah minimum provinsi (UMP).
Sementara, target wajar investasi di IHSG pada tahun depan diproyeksi antara 13-14 persen, reksa dana saham antara 11-14 persen, reksa dana campuran 8-11 persen dan pendapatan tetap 5-6,5 persen. Sedangkan indeks obligasi pemerintah diproyeksi 6-7 persen.
(rna)
Lihat Juga :