Dibanding bangun MRT, pemerintah diminta optimalkan KRL
Minggu, 06 Januari 2013 - 11:36 WIB
Dibanding bangun MRT, pemerintah diminta optimalkan KRL
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai harus meneliti kembali rencana pembangunan moda transportasi cepat (mass rapid transit/MRT).
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memandang, Pemprov DKI Jakarta dapat berhemat dalam melaksanakan rencana tersebut. Pasalnya, menurut dia, moda tranportasi MRT yang dimaksud sebenarnya sudah ada di Jakarta.
"Sesungguhnya kita sudah punya MRT, MRT adalah KRL (kereta rel listrik) Jabodetabek," terang dia kepada Sindonews, Minggu (6/1/2013).
Jadi, Djoko melanjutkan, Pemprov DKI sebaiknya melakukan pertimbangkan untuk memaksimalkan fungsi infrastruktur KRL saja, daripada harus membangun moda tranportasi baru, seperti MRT yang cenderung lebih mahal.
Dia berpendapat, kelemahan KRL di Ibu Kota dibanding MRT negara lain, hanya terletak pada perlintasannya saja, dimana masih banyak perlintasan sebidang yang dilalui kendaraan lain. "Memang harus diakui masih kalah dengan MRT di negara lain yang tak ada perlintasan sebidang," kata Djoko.
Pihaknya mencatat, setidaknya terdapat 24 perlintasan sebidang dengan jalan raya, yang harus segera ditutup dan diganti dengan underpass atau flyover. Disamping itu, sekitar 80 perlintasan liar juga wajib ditertibkan agar dapat mengangkut target 1,20 juta penumpang per hari.
Djoko menambahkan, bila KRL dapat dimaksimalkan, maka KRL di DKI Jakarta tak kalah kualitasnya bila dibanding dengan MRT yang ada di negara-negara lain.
Saat ini, KRL Jabodetabek dengan panjang lintasan 150 kilometer (km) hanya dengan 67 stasiun, bisa mengangkut sebanyak 450 ribu penumpang per hari. Bandingkan dengan MRT di Berlin yang perlintasannya hanya sepanjang 147 km, namun dengan 195 stasiun bisa mengangkut 1,4 juta penumpang per hari.
Sementara MRT di Osaka memiliki panjang perlintasan 138 km, dengan 133 stasiun, mengangkut 2,3 juta penumpang per hari. MRT di Saint Petersburg memiliki panjang lintasan 110 km dengan 64 stasiun, mengangkut 2,3 juta penumpang per hari.
Adapun di negara tetangga Singapura dengan panjang lintasan 130 km dan 87 stasiun mampu, mengangkut 1,8 juta penumpang per hari.
Melihat data tersebut, menurut Djoko, KRL di DKI Jakarta tentu memiliki potensi besar untuk menjadi angkutan massa yang tidak kalah dengan negara lain. Namun, dengan catatan bahwa Pemprov DKI Jakarta harus memaksimalkan infrastruktur pendukung, sehingga daya angkut KRL bisa sebanding dengan moda tranportasi sejenisnya di negara lain.
"Lebih baik pemerintah pusat berkonsentrasi terlebih dulu di lintasan ini, sehingga bisa setiap tiga (target lalul-intas kereta) kereta lewat," tuturnya.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memandang, Pemprov DKI Jakarta dapat berhemat dalam melaksanakan rencana tersebut. Pasalnya, menurut dia, moda tranportasi MRT yang dimaksud sebenarnya sudah ada di Jakarta.
"Sesungguhnya kita sudah punya MRT, MRT adalah KRL (kereta rel listrik) Jabodetabek," terang dia kepada Sindonews, Minggu (6/1/2013).
Jadi, Djoko melanjutkan, Pemprov DKI sebaiknya melakukan pertimbangkan untuk memaksimalkan fungsi infrastruktur KRL saja, daripada harus membangun moda tranportasi baru, seperti MRT yang cenderung lebih mahal.
Dia berpendapat, kelemahan KRL di Ibu Kota dibanding MRT negara lain, hanya terletak pada perlintasannya saja, dimana masih banyak perlintasan sebidang yang dilalui kendaraan lain. "Memang harus diakui masih kalah dengan MRT di negara lain yang tak ada perlintasan sebidang," kata Djoko.
Pihaknya mencatat, setidaknya terdapat 24 perlintasan sebidang dengan jalan raya, yang harus segera ditutup dan diganti dengan underpass atau flyover. Disamping itu, sekitar 80 perlintasan liar juga wajib ditertibkan agar dapat mengangkut target 1,20 juta penumpang per hari.
Djoko menambahkan, bila KRL dapat dimaksimalkan, maka KRL di DKI Jakarta tak kalah kualitasnya bila dibanding dengan MRT yang ada di negara-negara lain.
Saat ini, KRL Jabodetabek dengan panjang lintasan 150 kilometer (km) hanya dengan 67 stasiun, bisa mengangkut sebanyak 450 ribu penumpang per hari. Bandingkan dengan MRT di Berlin yang perlintasannya hanya sepanjang 147 km, namun dengan 195 stasiun bisa mengangkut 1,4 juta penumpang per hari.
Sementara MRT di Osaka memiliki panjang perlintasan 138 km, dengan 133 stasiun, mengangkut 2,3 juta penumpang per hari. MRT di Saint Petersburg memiliki panjang lintasan 110 km dengan 64 stasiun, mengangkut 2,3 juta penumpang per hari.
Adapun di negara tetangga Singapura dengan panjang lintasan 130 km dan 87 stasiun mampu, mengangkut 1,8 juta penumpang per hari.
Melihat data tersebut, menurut Djoko, KRL di DKI Jakarta tentu memiliki potensi besar untuk menjadi angkutan massa yang tidak kalah dengan negara lain. Namun, dengan catatan bahwa Pemprov DKI Jakarta harus memaksimalkan infrastruktur pendukung, sehingga daya angkut KRL bisa sebanding dengan moda tranportasi sejenisnya di negara lain.
"Lebih baik pemerintah pusat berkonsentrasi terlebih dulu di lintasan ini, sehingga bisa setiap tiga (target lalul-intas kereta) kereta lewat," tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :