Belanja pemerintah rendah pengaruhi pertumbuhan ekonomi

Minggu, 06 Januari 2013 - 18:25 WIB
Belanja pemerintah rendah...
Belanja pemerintah rendah pengaruhi pertumbuhan ekonomi
A A A
Sindonews.com - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan rendahnya realisasi belanja pemerintah pada tahun 2012, terutama belanja modal, dipastikan berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi.

Kendati realisasi belanja tidak sesuai harapan, Bambang optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 bisa menyentuh angka 6,3 persen.

“(ekonomi) Harusnya masih bisa tumbuh 6,5 persen, tetapi meleset jadi 6,3 persen. Mungkin sebagian karena kita tidak bisa merealisasikan belanja terutama belanja modal, jadi berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan. Mungkin dampaknya 0,1-0,2 persen, tapi menurut saya itu sangat berguna,” paparnya.

Bambang mengakui, tidak semua belanja memiliki dampak ganda atau multiplier effects, sehingga kontribusi lambatnya belanja pemerintah terhadap pertumbuhan harus dilihat lebih detail. “Yang tidak terealisir kita belum tahu. Artinya, harus lihat detail apa yang tidak terealisir,” ucapnya.

Hingga akhir tahun 2012, realisasi belanja negara diperkirakan hanya mencapai Rp1.479 triliun atau 95,6 persen. Angka itu lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar Rp1.548 triliun.

Sementara Kepala ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, belanja negara yang mencapai 95,6 persem akan memberikan andil terhadap pertumbuhan nasional sekitar 2 persen.

Sebagai catatan, pada 2011, belanja pemerintah memberi andil sebesar 3,2 persen dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen. Sedangkan konsumsi rumah tangga sebesar 4,7 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,8 persen, dan komponen ekspor tumbuh sebesar 13,6 persen dan impor tumbuh sebesar 13,3 persem.

“Kalau belanja pemerintah optimal 100 persen dan berkualitas, andilnya bisa 2-2,5 persen terhadap pertumbuhan. Artinya, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi di atas 6,3 persen,” tutur Ryan ketika dihubungi, Minggu (6/1/2013).
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
8 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
9 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
10 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
12 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
12 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
12 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved