2012, kinerja reksa dana pendapatan tetap hanya 7,7%
Sabtu, 12 Januari 2013 - 19:30 WIB
2012, kinerja reksa dana pendapatan tetap hanya 7,7%
A
A
A
Sindonews.com - Kinerja reksa dana pendapatan tetap sepanjang tahun lalu mengalami koreksi dibanding tahun sebelumnya. Pada tahu lalu, kinerja rata-rata reksa dana pendapatan tetap dari sisi imbal hasil (return) tercatat hanya 7,72 persen, turun dibanding 2011 sebesar 12,32 persen.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, menurunnya kinerja rata-rata reksa dana pendapatan tetap pada tahun lalu seiring dengan menurunnya kinerja obligasi pemerintah menjadi 9,07 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 14,32 persen.
"Reksa dana pendapatan tetap pada tahun 2012 lebih buruk (dibanding 2011). Ini saya lihat dipengaruhi kondisi pasar obligasi kita yang sudah mahal," kata dia kepada Sindonews, Sabtu (12/1/2013).
Edbert menjelaskan, mahalnya obligasi sebagai akibat dari kenaikan pasar obligasi yang terjadi sejak awal tahun 2011, akibat sentimen diperolehnya peringkat layak investasi (investment grade) dari sejumlah lembaga pemeringkat asing. Mahalnya pasar obligasi ini, menurut Edbert menyebabkan potensi kenaikan pasar obligasi lebih terbatas pada tahun lalu. "Dan ini memang terbukti," tandasnya.
Terlebih lagi, Edbert menambahkan, kondisi pasar dalam negeri pada tahun lalu sempat diwarnai sentimen negatif terkait ekspektasi kenaikan inflasi sebagai imbas dari rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sehingga pasar langsung mereponnya, meski pada akhirnya harga BBM bersubsidi batal dinaikkan pada tahun lalu.
Analis riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, menurunnya kinerja rata-rata reksa dana pendapatan tetap pada tahun lalu seiring dengan menurunnya kinerja obligasi pemerintah menjadi 9,07 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 14,32 persen.
"Reksa dana pendapatan tetap pada tahun 2012 lebih buruk (dibanding 2011). Ini saya lihat dipengaruhi kondisi pasar obligasi kita yang sudah mahal," kata dia kepada Sindonews, Sabtu (12/1/2013).
Edbert menjelaskan, mahalnya obligasi sebagai akibat dari kenaikan pasar obligasi yang terjadi sejak awal tahun 2011, akibat sentimen diperolehnya peringkat layak investasi (investment grade) dari sejumlah lembaga pemeringkat asing. Mahalnya pasar obligasi ini, menurut Edbert menyebabkan potensi kenaikan pasar obligasi lebih terbatas pada tahun lalu. "Dan ini memang terbukti," tandasnya.
Terlebih lagi, Edbert menambahkan, kondisi pasar dalam negeri pada tahun lalu sempat diwarnai sentimen negatif terkait ekspektasi kenaikan inflasi sebagai imbas dari rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sehingga pasar langsung mereponnya, meski pada akhirnya harga BBM bersubsidi batal dinaikkan pada tahun lalu.
(rna)
Lihat Juga :