Kebijakan Mobnas harus matang dan komprehensif
Rabu, 16 Januari 2013 - 17:06 WIB
Kebijakan Mobnas harus matang dan komprehensif
A
A
A
Sindonews.com - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Bidang Metalurgi, Muhammad Anis menilai kebutuhan Indonesia terhadap pengadaan mobil nasional (mobnas) perlu disambut baik. Selain itu, Anis juga mengapresiasi perkembangan mobil listrik yang semakin berkembang pesat.
Menurutnya, fenomena mobil nasional dan mobil listrik perlu terus diwujudkan. Hal itu seiring dengan semakin banyaknya jumlah penduduk dan mendorong peluang industri dalam negeri.
"Perlu terus ditingkatkan, masyarakat kita jumlahnya besar, jangan sampai peluang market diambil asing," jelasnya kepada wartawan di Balai Sidang UI, Rabu (16/01/2013).
Namun, Anis meminta agar kebijakan pengembangan mobil nasional dan mobil listrik harus matang secara komprehensif. Jangan asal pencitraan yang populis. "Kebijakan mobnas harus konprehensif, jangan populis. Roadmapnya harus dibuat," imbuh Wakil Rektor UI ini.
Anis menilai selama ini banyak material kendaraan yang diimpor dari China. Sebab masyarakat Indonesia lebih tergiur dengan harga yang lebih murah.
"Materialnya banyak diimpor dari China karena murah. Mesin bubut saja bisa 10 kali lipat harganya dari Jerman, mahal tapi lebih awet, buatan China memang lebih murah," ujarnya.
Menurutnya, fenomena mobil nasional dan mobil listrik perlu terus diwujudkan. Hal itu seiring dengan semakin banyaknya jumlah penduduk dan mendorong peluang industri dalam negeri.
"Perlu terus ditingkatkan, masyarakat kita jumlahnya besar, jangan sampai peluang market diambil asing," jelasnya kepada wartawan di Balai Sidang UI, Rabu (16/01/2013).
Namun, Anis meminta agar kebijakan pengembangan mobil nasional dan mobil listrik harus matang secara komprehensif. Jangan asal pencitraan yang populis. "Kebijakan mobnas harus konprehensif, jangan populis. Roadmapnya harus dibuat," imbuh Wakil Rektor UI ini.
Anis menilai selama ini banyak material kendaraan yang diimpor dari China. Sebab masyarakat Indonesia lebih tergiur dengan harga yang lebih murah.
"Materialnya banyak diimpor dari China karena murah. Mesin bubut saja bisa 10 kali lipat harganya dari Jerman, mahal tapi lebih awet, buatan China memang lebih murah," ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :