Pasar saham diperkirakan masih prospektif
Kamis, 28 Februari 2013 - 13:33 WIB
Pasar saham diperkirakan masih prospektif
A
A
A
Sindonews.com - Produk equity atau produk-produk berbasis saham diperkirakan masih menjadi andalan masyarakat dalam berinvestasi. Pertumbuhan investasi sektor equity didorong pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia.
GM Prioriy and International Banking and Country Marketing Head Standard Chartered, Lanny Hendra mengatakan, produk saham diperkirakan masih menjadi produk andalan masyarakat Indonesia untuk berinvestasi. Produk tersebut meliputi reksa dana, asuransi, dan saham.
"Semua produk investasi memiliki peluang yang sama. Semua akan tergantung pada profil investor dan kebutuhannya. Apakah untuk investasi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang," jelas Lanny pada acara seminar edukasi keuangan Standard Chartered di Hotel Trans Luxury, Kota Bandung, Kamis (28/2/2013).
Potensinya, lanjut dia, diperkirakan akan cukup bagus. Diakui dia, apabila mengacu pada proyeksi pertumbuhan investasi tahun ini pada kisaran 20 persen, pihaknya optimistis, pencapaian investasi dalam bentuk saham, reksa dana, dan produk lainnya akan lebih dari 20 persen.
Namun demikian, Lanny mengemukakan, sebaiknya investor menitikberatkan saham-saham tertentu yang potensial. Mereka mesti melihat dan perhatikan fundamental, kinerja perusahaan. Juga lihat portofolio dan fleksibilitasnya.
Selain ramai oleh investor dalam negeri, potensi masuknya investor asing juga cukup potensial. Hal itu terlihat pada banyaknya investor asing yang melantai di bursa. Hingga akhir Januari tahun ini, investor asing menguasai 40 persen kapitalisasi bursa saham Indonesia.
Nilai investasi investor asing di bursa saham Indonesia sekitar USD440 miliar. Selain itu, investasi asing pun bermain dalam obligasi pemerintah Indonesia dan SBI. Nilainya mencapai USD28,2 miliar. Sebagian investor asing itu merupakan yang bersifat jangka panjang, karena dinilai lebih setrategis.
Optimisme investor terhadap produk investasi juga diakui Regional Manajer West and Central Java Dewanto setioraharjo. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Jabar terutama Bandung cukup membanggakan. Pertumbuhan kelas menengah juga diperkirakan terus tumbuh.
Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan minat masyarakat terhadap produk investasi. "Walaupun semua bank menawarkan produk investasi, tapi kami optimistis produk kami akan banyak di minati. Karena pangsa pasarnya ada," jelas dia.
Selama ini, kontribusi Jabar terhadap produk investasi cukup bagus. Jabar menduduki peringkat ketiga setelah Jakarta dan Surabaya.
Head Of Investment and Tresuri, Alfred Triestanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan cukup baik. Kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap produk investasi di dalam negeri.
Dia mencontohkan, salah satu produk investasi yang ditawarkan Standar Chartered pada awal Januari 2013 mendapat sambutan cukup bagus. Selama beberapa minggu, pihaknya mampu mengumpulkan dana sekitar Rp100 miliar lebih.
"Kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat atas produk produk investasi yang mengutungkan," pungkas dia.
GM Prioriy and International Banking and Country Marketing Head Standard Chartered, Lanny Hendra mengatakan, produk saham diperkirakan masih menjadi produk andalan masyarakat Indonesia untuk berinvestasi. Produk tersebut meliputi reksa dana, asuransi, dan saham.
"Semua produk investasi memiliki peluang yang sama. Semua akan tergantung pada profil investor dan kebutuhannya. Apakah untuk investasi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang," jelas Lanny pada acara seminar edukasi keuangan Standard Chartered di Hotel Trans Luxury, Kota Bandung, Kamis (28/2/2013).
Potensinya, lanjut dia, diperkirakan akan cukup bagus. Diakui dia, apabila mengacu pada proyeksi pertumbuhan investasi tahun ini pada kisaran 20 persen, pihaknya optimistis, pencapaian investasi dalam bentuk saham, reksa dana, dan produk lainnya akan lebih dari 20 persen.
Namun demikian, Lanny mengemukakan, sebaiknya investor menitikberatkan saham-saham tertentu yang potensial. Mereka mesti melihat dan perhatikan fundamental, kinerja perusahaan. Juga lihat portofolio dan fleksibilitasnya.
Selain ramai oleh investor dalam negeri, potensi masuknya investor asing juga cukup potensial. Hal itu terlihat pada banyaknya investor asing yang melantai di bursa. Hingga akhir Januari tahun ini, investor asing menguasai 40 persen kapitalisasi bursa saham Indonesia.
Nilai investasi investor asing di bursa saham Indonesia sekitar USD440 miliar. Selain itu, investasi asing pun bermain dalam obligasi pemerintah Indonesia dan SBI. Nilainya mencapai USD28,2 miliar. Sebagian investor asing itu merupakan yang bersifat jangka panjang, karena dinilai lebih setrategis.
Optimisme investor terhadap produk investasi juga diakui Regional Manajer West and Central Java Dewanto setioraharjo. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Jabar terutama Bandung cukup membanggakan. Pertumbuhan kelas menengah juga diperkirakan terus tumbuh.
Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan minat masyarakat terhadap produk investasi. "Walaupun semua bank menawarkan produk investasi, tapi kami optimistis produk kami akan banyak di minati. Karena pangsa pasarnya ada," jelas dia.
Selama ini, kontribusi Jabar terhadap produk investasi cukup bagus. Jabar menduduki peringkat ketiga setelah Jakarta dan Surabaya.
Head Of Investment and Tresuri, Alfred Triestanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan cukup baik. Kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap produk investasi di dalam negeri.
Dia mencontohkan, salah satu produk investasi yang ditawarkan Standar Chartered pada awal Januari 2013 mendapat sambutan cukup bagus. Selama beberapa minggu, pihaknya mampu mengumpulkan dana sekitar Rp100 miliar lebih.
"Kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat atas produk produk investasi yang mengutungkan," pungkas dia.
(gpr)
Lihat Juga :