Toyota rombak direksi perusahaan

Kamis, 07 Maret 2013 - 19:34 WIB
Toyota rombak direksi...
Toyota rombak direksi perusahaan
A A A
Sindonews.com - Produsen mobil terbesar di dunia, Toyota menunjuk tiga anggota dewan dari luar perusahaan untuk pertama kalinya, dan menunjuk orang non-Jepang untuk posisi CEO di wilayah Amerika Serikat (AS), Afrika dan Amerika Latin.

Hal ini menandai pergeseran besar bagi Toyota yang selalu mengikuti praktik manajemen tradisional Jepang, dengan sebagian besar eksekutif dan manajer senior dipetik dari orang-orang berdasarkan peringkat di dalam perusahaan.

Gaya manajemen mereka mendapat kritik dalam beberapa tahun terakhir yang dipandang terlalu sempit untuk bisnis global, dan kekurangannya disorot atas lambatnya respon recall jutaan kendaraan sejak 2009, karena masalah cacat keamanan.

Analis berharap perubahan akan mengarah pada pendekatan manajemen baru. "Perubahan kepemimpinan Toyota meramalkan era baru," kata James Post, seorang ahli tata kelola perusahaan dari University School of Management Boston, AS, seperti dilansir Global Post, Kamis (7/3/2013).

"Direktur baru yang diambil dari luar Jepang, akan membantu mengembangkan pandangan benar-benar global," tambahnya.

Perbaikan meliputi pengangkatan Mark Hogan, seorang Amerika yang sebelumnya bekerja untuk pesaing General Motors, yang akan menjadi pengusaha asing pertama duduk di dewan Toyota, bukan berasal dari jajaran perusahaan.

Dua orang lain ditunjuk dari Jepang - Ikuo Uno, penasihat eksekutif untuk Asuransi Jiwa Nippon, dan Haruhiko Kato, presiden Pusat Penyimpanan dan Penyelesaian Jepang.

"Toyota selalu dikritik pada kualitas tata kelola perusahaan. Kami berharap sesuatu yang positif keluar dari sistem baru ini," kata Koichi Sugimoto, analis senior di BNP Paribas.

Orang asing pertama yang dipromosikan masuk dewan adalah Jim Press pada 2007, setelah hampir empat dekade berada di perusahaan. Namun, pria AS ini mengundurkan diri dari jabatannya hanya lima bulan, memilih pergi ke Chrysler, produsen mobil saingan.

Presiden Toyota, Akio Toyoda mengemukakan, pihaknya berharap langkah perusahaan akan memberikan pemulihan bagi Toyota pasca-tsunami 2011, yang menghambat produksi dan penjualan, serta banjir di Thailand, sebagai pemasok kunci.

"Perusahaan harus pulih dan penjualan meningkat. Saya ingin membangun perusahaan dengan perasaan yang lebih baik atas apa yang terjadi," kata Toyoda, cucu dari pendiri perusahaan kepada harian bisnis Nikkei.

Toyota membukukan rekor penjualan pada 2012, didukung kunci pasar di Asia dan AS. Bahkan, mereka merebut kembali mahkota penjualan global dari pesaing utamanya, General Motors.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sinergikan Pariwisata...
Sinergikan Pariwisata dan Otomotif, Sandiaga Uno Optimis Kembangkan Kedua Industri
Serunya Perjalanan Para...
Serunya Perjalanan Para Bikers Susuri Wisata Alam yang Menawan di Jawa Timur
Nakamichi Luncurkan...
Nakamichi Luncurkan DVR Terbaru dengan Tema Never Miss a Thing
Keren! Rancang Kendaraan...
Keren! Rancang Kendaraan Impian Masa Depan, Ini Penampakan Mobil Terbang Dari GAC AION
Hari Pertama IIMS 2025:...
Hari Pertama IIMS 2025: Potret Wanita Cantik yang Memukau di Pameran Otomotif
Pembukaan IIMS 2025
Pembukaan IIMS 2025
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
2 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
2 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
3 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
4 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
4 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
5 jam yang lalu
Infografis
BUMN Dipangkas Jadi...
BUMN Dipangkas Jadi 30, Ini Perusahaan yang Bakal Dimerger
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved