Dolar menguat, harga minyak di Asia turun
Senin, 11 Maret 2013 - 10:58 WIB
Dolar menguat, harga minyak di Asia turun
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan Asia hari ini turun, karena produksi industri China menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dengan dolar AS menguat hingga menempatkan tekanan pada harga.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman April menurun 26 sen menjadi USD91,69 per barel. Minyak mentah Brent North Sea untuk April merosot 41 sen menjadi USD110,42 pada perdagangan di Asia pagi.
Data resmi yang dirilis Sabtu lalu, memperlihatkan inflasi di China memukul tinggi 10 bulan pada Februari. Output industri, yang mencerminkan produksi pabrik dan pertambangan, naik 9,9 persen yer-on-year selama dua bulan pertama 2013, dibandingkan dengan 11,4 persen pada periode yang sama 2012.
"Data China yang menunjukkan perlambatan produksi industri telah mengambil jalan cepat pada harga minyak," kata Jason Hughes, kepala manajemen premium IG Markets di Singapura, seperti dilansir Global Post, Senin (11/3/2013).
Permintaan energi China memiliki dampak yang besar pada harga minyak berjangka. Victor Shum, managing director dari IHS Purvin and Gertz, Singapura menambahkan, bahwa pick-up di greenback juga memukul harga.
"Pasokan minyak booming, dalam kombinasi dengan penguatan dolar setelah sektor pekerja AS dilaporkan menguat pekan lalu," katanya.
Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat lalu melaporkan bahwa tingkat pengangguran turun menjadi 7,7 persen pada Februari dari 7,9 persen pada Januari, dan lebih baik dari perkiraan 236.000 pekerja bulan lalu, meningkatkan harapan bahwa perekonomian sedang menguat.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman April menurun 26 sen menjadi USD91,69 per barel. Minyak mentah Brent North Sea untuk April merosot 41 sen menjadi USD110,42 pada perdagangan di Asia pagi.
Data resmi yang dirilis Sabtu lalu, memperlihatkan inflasi di China memukul tinggi 10 bulan pada Februari. Output industri, yang mencerminkan produksi pabrik dan pertambangan, naik 9,9 persen yer-on-year selama dua bulan pertama 2013, dibandingkan dengan 11,4 persen pada periode yang sama 2012.
"Data China yang menunjukkan perlambatan produksi industri telah mengambil jalan cepat pada harga minyak," kata Jason Hughes, kepala manajemen premium IG Markets di Singapura, seperti dilansir Global Post, Senin (11/3/2013).
Permintaan energi China memiliki dampak yang besar pada harga minyak berjangka. Victor Shum, managing director dari IHS Purvin and Gertz, Singapura menambahkan, bahwa pick-up di greenback juga memukul harga.
"Pasokan minyak booming, dalam kombinasi dengan penguatan dolar setelah sektor pekerja AS dilaporkan menguat pekan lalu," katanya.
Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat lalu melaporkan bahwa tingkat pengangguran turun menjadi 7,7 persen pada Februari dari 7,9 persen pada Januari, dan lebih baik dari perkiraan 236.000 pekerja bulan lalu, meningkatkan harapan bahwa perekonomian sedang menguat.
(dmd)
Lihat Juga :