Pemerintah belum aman naikkan harga BBM subsidi
Rabu, 20 Maret 2013 - 19:53 WIB
Pemerintah belum aman naikkan harga BBM subsidi
A
A
A
Sindonews.com - Meski survei Danareksa Research Institute menunjukkan indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sudah membaik, namun ruang untuk menaikkan harga Bahan bakar Minyak (BBM) pada 2013 masih belum aman.
"Jadi pemimpin memang harus berani mengambil keputusan (menaikkan atau tidak harga BBM) yang paling tepat buat rakyatnya meski kebijakan untuk BBM masih sebatas pembatasan," kata Analis Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa, saat diskusi Finansial Inclusion, di Annex Building, Jakarta, Rabu (20/3/2013).
Purbaya menganalisis, pemerintah harus mencari cara yang lain untuk menaikkan harga BBM subsidi. Bila pemerintah kembali merencanakan kenaikan harga BBM, tambahnya, dia menyebut anggaran Kementerian tidak bisa optimal terserap. Apalagi, dari Januari-Februari 2013, belanja pemerintah masih sangat lambat.
"Tanpa perbaikan penyerapan anggaran (spending government), kebijakan menaikkan harga BBM subsidi tidak akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional," tambah dia.
Sementara itu, ekonom BNI Ryan Kiryanto berpendapat, dampak kenaikan BBM jelas Bank sentral harus menaikkan level BI rate. "Ujung-ujungnya akan memberikan sentimen yang tidak baik ke pasar," tambah Ryan.
Ryan mengatakan, kenaikan BBM subsidi pada Mei 2008 membuktikan pada kenaikan NIM (net interest margin), turunnya LDR (loan deposit ratio) dan turunnya pertumbuhan kredit. "Learning curve pasca kenaikan BBM butuh 9-12 bulan mencapai titik keseimbangan baru," pungkasnya.
"Jadi pemimpin memang harus berani mengambil keputusan (menaikkan atau tidak harga BBM) yang paling tepat buat rakyatnya meski kebijakan untuk BBM masih sebatas pembatasan," kata Analis Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa, saat diskusi Finansial Inclusion, di Annex Building, Jakarta, Rabu (20/3/2013).
Purbaya menganalisis, pemerintah harus mencari cara yang lain untuk menaikkan harga BBM subsidi. Bila pemerintah kembali merencanakan kenaikan harga BBM, tambahnya, dia menyebut anggaran Kementerian tidak bisa optimal terserap. Apalagi, dari Januari-Februari 2013, belanja pemerintah masih sangat lambat.
"Tanpa perbaikan penyerapan anggaran (spending government), kebijakan menaikkan harga BBM subsidi tidak akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional," tambah dia.
Sementara itu, ekonom BNI Ryan Kiryanto berpendapat, dampak kenaikan BBM jelas Bank sentral harus menaikkan level BI rate. "Ujung-ujungnya akan memberikan sentimen yang tidak baik ke pasar," tambah Ryan.
Ryan mengatakan, kenaikan BBM subsidi pada Mei 2008 membuktikan pada kenaikan NIM (net interest margin), turunnya LDR (loan deposit ratio) dan turunnya pertumbuhan kredit. "Learning curve pasca kenaikan BBM butuh 9-12 bulan mencapai titik keseimbangan baru," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :