Laba bersih LPCK 2012 tembus Rp407 miliar
Senin, 01 April 2013 - 21:29 WIB
Laba bersih LPCK 2012 tembus Rp407 miliar
A
A
A
Sindonews.com - PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) berhasil mencatat laba bersih pada 2012 sebesar Rp407,02 miliar atau melonjak 57,95 persen dari 2011 sebesar Rp257,68 miliar.
Kenaikan laba bersih tersebut didorong meningkatnya pendapatan usaha menjadi Rp1,103,07 miliar, naik hingga 12,26 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp902,46 miliar.
Direktur LPCK, Ju Kian Salim mengatakan, penyumbang pendapatan terbesar dari penjualan tanah industri dan komersial. Kontribusinya pada akhir tahun lalu mencapai Rp618,84 miliar atau naik 3,37 persen dari 2011. Sedangkan laba kotor meningkat dari 2011 sebesar Rp388,14 miliar menjadi sebesar Rp520,27 miliar pada 2012.
"Nilai beban pokok penjualan berhasil diturunkan dari Rp514,32 miliar menjadi Rp492,79 miliar pada 2012," ujar Salim dalam keterangan persnya, Senin (1/4/2013).
Menurutnya, perseroan mencatat kewajiban sebesar Rp1,60 triliun pada 2012 atau naik dibanding pencapaian 2011 sebesar Rp1,22 triliun. Sementara, ekuitas perseroan pada 2012 mencapai Rp1,23 triliun naik dari tahun sebelumnya 2011 yaitu Rp821,45 miliar. "Sedangkan laba per saham berhasil ditingkatkan menjadi Rp584,80 per saham," katanya.
Lippo Cikarang yang memiliki luas sekitar 3.000 hektare (ha) merupakan sebuah urban development (pengemang kota) dengan basis ekonomi industri (light industry (kawasan industri yang bebas polusi suara dan udara). Di mana saat ini telah beroperasi sekitar 700 industri di kawasan ini dengan total pekerja yang beraktivitas bisnis setiap hari sekitar 320 ribu orang.
Hingga saat ini perseroan sudah berhasil membangun sekitar 10 ribu unit rumah dengan total penghuni seputar 40 ribu jiwa. Sebelumnya, emiten pengembang kawasan industri tersebut juga mengembangkan kawasan industri untuk Industri Kecil Menengah (IKM) asal Jepang. Perseroan melakukan investasi di bisnis pergudangan ini mencapai Rp60 miliar.
Presiden Direktur LPCK, Meow Chong Loh mengatakan, kawasan pergudangan tersebut yang ditujukan untuk IKM tersebut terbilang masih langka. Perusahaan IKM asal Jepang harus membayar sekitar USD10/m2 setiap bulan. Sewanya minimal selama lima tahun memiliki potensi besar.
Hal tersebut, lanjut dia, karena saat ini hanya baru ada satu tempat penyewaan untuk industri IKM Jepang. "Nantinya produk yang diproduksi dalam negeri hanya akan didistribusikan di dalam negeri," ujar Loh, beberapa waktu lalu.
Kenaikan laba bersih tersebut didorong meningkatnya pendapatan usaha menjadi Rp1,103,07 miliar, naik hingga 12,26 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp902,46 miliar.
Direktur LPCK, Ju Kian Salim mengatakan, penyumbang pendapatan terbesar dari penjualan tanah industri dan komersial. Kontribusinya pada akhir tahun lalu mencapai Rp618,84 miliar atau naik 3,37 persen dari 2011. Sedangkan laba kotor meningkat dari 2011 sebesar Rp388,14 miliar menjadi sebesar Rp520,27 miliar pada 2012.
"Nilai beban pokok penjualan berhasil diturunkan dari Rp514,32 miliar menjadi Rp492,79 miliar pada 2012," ujar Salim dalam keterangan persnya, Senin (1/4/2013).
Menurutnya, perseroan mencatat kewajiban sebesar Rp1,60 triliun pada 2012 atau naik dibanding pencapaian 2011 sebesar Rp1,22 triliun. Sementara, ekuitas perseroan pada 2012 mencapai Rp1,23 triliun naik dari tahun sebelumnya 2011 yaitu Rp821,45 miliar. "Sedangkan laba per saham berhasil ditingkatkan menjadi Rp584,80 per saham," katanya.
Lippo Cikarang yang memiliki luas sekitar 3.000 hektare (ha) merupakan sebuah urban development (pengemang kota) dengan basis ekonomi industri (light industry (kawasan industri yang bebas polusi suara dan udara). Di mana saat ini telah beroperasi sekitar 700 industri di kawasan ini dengan total pekerja yang beraktivitas bisnis setiap hari sekitar 320 ribu orang.
Hingga saat ini perseroan sudah berhasil membangun sekitar 10 ribu unit rumah dengan total penghuni seputar 40 ribu jiwa. Sebelumnya, emiten pengembang kawasan industri tersebut juga mengembangkan kawasan industri untuk Industri Kecil Menengah (IKM) asal Jepang. Perseroan melakukan investasi di bisnis pergudangan ini mencapai Rp60 miliar.
Presiden Direktur LPCK, Meow Chong Loh mengatakan, kawasan pergudangan tersebut yang ditujukan untuk IKM tersebut terbilang masih langka. Perusahaan IKM asal Jepang harus membayar sekitar USD10/m2 setiap bulan. Sewanya minimal selama lima tahun memiliki potensi besar.
Hal tersebut, lanjut dia, karena saat ini hanya baru ada satu tempat penyewaan untuk industri IKM Jepang. "Nantinya produk yang diproduksi dalam negeri hanya akan didistribusikan di dalam negeri," ujar Loh, beberapa waktu lalu.
(izz)