Kadin berharap inflasi di bawah 5 persen
Kamis, 18 April 2013 - 15:09 WIB
Kadin berharap inflasi di bawah 5 persen
A
A
A
Sindonews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap agar inflasi dapat terkendali di bawah 5 persen pada tahun ini.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik Haryadi B Sukamdani mengatakan, dengan inflasi yang rendah maka secara makro ekonomi akan memberikan manfaat dan kebutuhan lebih besar.
"Karena sektor perbankan dan dunia usaha akan dapat bergerak lebbih cepat," katanya dalam keterangan tertulis kepada Sindonews, Kamis (18/4/2013).
Menurutnya, permasalahan dalam kebijakan moneter ini karena tingginya biaya pengendalian laju inflasi tahun lalu yang mencapai 4,3 persen. Hal ini karena dari sisi bank sentral 'diuntungkan' oleh pelemahan kurs rupiah yang tajam terhadap dolar AS, sehingga membantu potensi sumbangan inflasi dari sisi impor.
Haryadi menjelaskan, jika Bank Indonesia (BI) berkehendak mendorong penguatan kurs rupiah melalui intervensi, maka permintaan barang impor akan semakin membesar, sementara ekspor tertekan. "Tapi bank sentral terkesan masih membiarkan kurs rupiah melemah untuk menahan laju impor," ujarnya.
Selain itu, tingkat bung pinjama bank yang relatif tinggi juga menjadi permasalahan lainnya dalam kebijakan moneter. Sehingga menyulitkan pengusaha untuk mengembangkan usahanya.
Haryadi menuturkan, dengan adanya penurunan BI rate diharapkan menjadi momentum bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kreditnya. Sehingga menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik Haryadi B Sukamdani mengatakan, dengan inflasi yang rendah maka secara makro ekonomi akan memberikan manfaat dan kebutuhan lebih besar.
"Karena sektor perbankan dan dunia usaha akan dapat bergerak lebbih cepat," katanya dalam keterangan tertulis kepada Sindonews, Kamis (18/4/2013).
Menurutnya, permasalahan dalam kebijakan moneter ini karena tingginya biaya pengendalian laju inflasi tahun lalu yang mencapai 4,3 persen. Hal ini karena dari sisi bank sentral 'diuntungkan' oleh pelemahan kurs rupiah yang tajam terhadap dolar AS, sehingga membantu potensi sumbangan inflasi dari sisi impor.
Haryadi menjelaskan, jika Bank Indonesia (BI) berkehendak mendorong penguatan kurs rupiah melalui intervensi, maka permintaan barang impor akan semakin membesar, sementara ekspor tertekan. "Tapi bank sentral terkesan masih membiarkan kurs rupiah melemah untuk menahan laju impor," ujarnya.
Selain itu, tingkat bung pinjama bank yang relatif tinggi juga menjadi permasalahan lainnya dalam kebijakan moneter. Sehingga menyulitkan pengusaha untuk mengembangkan usahanya.
Haryadi menuturkan, dengan adanya penurunan BI rate diharapkan menjadi momentum bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kreditnya. Sehingga menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
(izz)
Lihat Juga :