Pendidikan poleksos siapkan Indonesia hadapi AEC
Kamis, 25 April 2013 - 21:13 WIB
Pendidikan poleksos siapkan Indonesia hadapi AEC
A
A
A
Sindonews.com - Pendidikan politik, ekonomi dan sosial (poleksos) sangat dibutuhkan saat ini dan selanjutnya untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia kebanyakan sudah menjalankan prinsip hidup modern, di mana selalu bertindak ekonomis dengan pemikiran sesat.
"Sesatnya pikiran dalam ekonomi inilah yang justru mengancam kehidupan kita jelang AEC 2015. Pemikiran sesat ini antara lain keyakinan bahwa sumber alam adalah pendapatan yang kemudian dikeruk, tidak sebagai modal untuk kehidupan masa. Belum lagi sikap individualis/egois, sangat memuja mekanisme pasar dan tunduk patuh pada teknologi modern," ujar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (USD), Dr Titus Odong Kusumajati MA di Kulonprogo, Kamis (25/4/2013).
Dalam Seminar Pelopor dalam Membangun Manusia Indonesia yang Berdaya Menghadapi Tantangan AEC 2015, Titus mengatakan, pendidikan poleksos sangat bermanfaat agar masyarakat bisa menyadari hak dan kedaulatannya, terbukanya mata rakyat terhadap kemungkinan berkembangnya suatu perekonomian baru serta agar rakyat dapat mempertinggi keselamatan penghidupan bersama.
"Dengan pendidikan umum ini, kesadaran tentang arti disiplin, hemat, jujur, bersih, baik dalam arti kesehatan fisik maupun bersih secara moral dan batiniah," imbuhnya.
Titus menggambarkan, sejauh ini kondisi Indonesia dapat dikatakan masih belum terlalu siap menghadapi AEC 2015. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa neraca perdagangan yang masih defisit, pasar domestik yang banjiri produk impor, konsumsi masih tergantung barang import, infrastruktur masih minim, korupsi yang masif, pendidikan dan kesehatan carut marut serta penegakan hukum masih bermasalah.
"Kondisi seperti ini jelas belum siap menjalankan cetak biru AEC dimana arus perdagangan bebas untuk sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil bahkan modal. Ini jelas akan menimbulkan persaingan yang tinggi dalam ekonomi regional ASEAN. Karenanya pendidikan poleksos bisa digunakan paling tidak sedikit mempersiapkan Indonesia jelang 2015 karena ini sudah tidak mungkin diundur lagi," katanya.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo Sp OG (K) mengatakan, AEC jelas memiliki segi positif dan negatifnya. Di satu sisi, perdagangan bebas mampu meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia paralel dengan globalisasi dan keterbukaan ekonomi. Namun perdagangan bebas belum efektif dalam pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan.
"Negatif lainnya dari perdagangan bebas ialah munculnya gejala marginalisasi di tingkat internasional maupun nasional. Dampak positif dan negatif ini juga sampai ke daerah dengan terganggunya barang dalam negeri karena banjirnya barang impor tapi juga positifnya lapangan kerja bagi masyarakat daerah juga terbuka lebar," ujarnya.
Untuk itu Hasto mengemukakan strategi menghadapi AEC 2015 yakni dengan meningkatkan daya saing, pengamanan perdagangan dalam negeri serta penguatan ekspor. Selain itu, stratehi pengamanan pasar domestik bisa difokuskan pada pengawasan tingkat pengamanan serta peredaran barang di pasar lokal.
"Sesatnya pikiran dalam ekonomi inilah yang justru mengancam kehidupan kita jelang AEC 2015. Pemikiran sesat ini antara lain keyakinan bahwa sumber alam adalah pendapatan yang kemudian dikeruk, tidak sebagai modal untuk kehidupan masa. Belum lagi sikap individualis/egois, sangat memuja mekanisme pasar dan tunduk patuh pada teknologi modern," ujar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (USD), Dr Titus Odong Kusumajati MA di Kulonprogo, Kamis (25/4/2013).
Dalam Seminar Pelopor dalam Membangun Manusia Indonesia yang Berdaya Menghadapi Tantangan AEC 2015, Titus mengatakan, pendidikan poleksos sangat bermanfaat agar masyarakat bisa menyadari hak dan kedaulatannya, terbukanya mata rakyat terhadap kemungkinan berkembangnya suatu perekonomian baru serta agar rakyat dapat mempertinggi keselamatan penghidupan bersama.
"Dengan pendidikan umum ini, kesadaran tentang arti disiplin, hemat, jujur, bersih, baik dalam arti kesehatan fisik maupun bersih secara moral dan batiniah," imbuhnya.
Titus menggambarkan, sejauh ini kondisi Indonesia dapat dikatakan masih belum terlalu siap menghadapi AEC 2015. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa neraca perdagangan yang masih defisit, pasar domestik yang banjiri produk impor, konsumsi masih tergantung barang import, infrastruktur masih minim, korupsi yang masif, pendidikan dan kesehatan carut marut serta penegakan hukum masih bermasalah.
"Kondisi seperti ini jelas belum siap menjalankan cetak biru AEC dimana arus perdagangan bebas untuk sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil bahkan modal. Ini jelas akan menimbulkan persaingan yang tinggi dalam ekonomi regional ASEAN. Karenanya pendidikan poleksos bisa digunakan paling tidak sedikit mempersiapkan Indonesia jelang 2015 karena ini sudah tidak mungkin diundur lagi," katanya.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo Sp OG (K) mengatakan, AEC jelas memiliki segi positif dan negatifnya. Di satu sisi, perdagangan bebas mampu meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia paralel dengan globalisasi dan keterbukaan ekonomi. Namun perdagangan bebas belum efektif dalam pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan.
"Negatif lainnya dari perdagangan bebas ialah munculnya gejala marginalisasi di tingkat internasional maupun nasional. Dampak positif dan negatif ini juga sampai ke daerah dengan terganggunya barang dalam negeri karena banjirnya barang impor tapi juga positifnya lapangan kerja bagi masyarakat daerah juga terbuka lebar," ujarnya.
Untuk itu Hasto mengemukakan strategi menghadapi AEC 2015 yakni dengan meningkatkan daya saing, pengamanan perdagangan dalam negeri serta penguatan ekspor. Selain itu, stratehi pengamanan pasar domestik bisa difokuskan pada pengawasan tingkat pengamanan serta peredaran barang di pasar lokal.
(gpr)
Lihat Juga :