Harga minyak di Asia tergelincir akibat profit taking
Kamis, 11 Juli 2013 - 10:28 WIB
Harga minyak di Asia tergelincir akibat profit taking
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan Asia hari ini tergelincir karena para pedagang mengambil keuntungan (profit taking) dari kenaikan harga tertinggi. Menurut analis, hal tersebut didorong penurunan besar persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), lebih dari perkiraan.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) minyak mentah light sweet untuk pengiriman Agustus, turun 25 sen menjadi USD106,27 per barel pada perdagangan pagi. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus, turun 32 sen menjadi USD108,19.
Minyak mentah WTI telah melompat USD2,99 pada akhir perdagangan di New York, kemarin. Pasar menyambut gembira data mingguan yang dikeluarkan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), yang mengindikasikan kenaikan permintaan di ekonomi terbesar dunia itu. Brent juga melompat 70 sen pada perdagangan di London.
"Pedagang telah berhenti mengambil stok menyusul kenaikan besar semalam atas data EIA," kata David Lennox, analis sumber daya Fat Prophets, Sydney, seperti dilansir dari AFP, Kamis (11/7/2013).
"Ini adalah musim mengemudi perdana AS, dan penarikan persediaan menunjukkan dorongan sehat dalam permintaan," tambahnya.
Data EIA dirilis Rabu (10/7/2013) waktu setempat, menunjukkan stok minyak mentah AS jatuh sebesar 9,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 Juli.
Angka itu lebih dari tiga kali lipat 2,9 juta barel yang diperkirakan sebagian besar analis yang disurvei Dow Jones Newswires, diikuti penurunan pekan sebelumnya hampir 10 juta barel.
Menurut analis, harga minyak juga didukung komentar Ketua Federal Reserve (Fed) Ben Bernanke, bahwa langkah-langkah stimulus ekonomi bank sentral AS masih diperlukan.
"Ada sentimen optimis dari komentarnya, bahwa Fed AS akan terus mengejar kebijakan moneter yang akomodatif," kata Desmond Chua, analis pasar CMC Markets, Singapura.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) minyak mentah light sweet untuk pengiriman Agustus, turun 25 sen menjadi USD106,27 per barel pada perdagangan pagi. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus, turun 32 sen menjadi USD108,19.
Minyak mentah WTI telah melompat USD2,99 pada akhir perdagangan di New York, kemarin. Pasar menyambut gembira data mingguan yang dikeluarkan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), yang mengindikasikan kenaikan permintaan di ekonomi terbesar dunia itu. Brent juga melompat 70 sen pada perdagangan di London.
"Pedagang telah berhenti mengambil stok menyusul kenaikan besar semalam atas data EIA," kata David Lennox, analis sumber daya Fat Prophets, Sydney, seperti dilansir dari AFP, Kamis (11/7/2013).
"Ini adalah musim mengemudi perdana AS, dan penarikan persediaan menunjukkan dorongan sehat dalam permintaan," tambahnya.
Data EIA dirilis Rabu (10/7/2013) waktu setempat, menunjukkan stok minyak mentah AS jatuh sebesar 9,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 Juli.
Angka itu lebih dari tiga kali lipat 2,9 juta barel yang diperkirakan sebagian besar analis yang disurvei Dow Jones Newswires, diikuti penurunan pekan sebelumnya hampir 10 juta barel.
Menurut analis, harga minyak juga didukung komentar Ketua Federal Reserve (Fed) Ben Bernanke, bahwa langkah-langkah stimulus ekonomi bank sentral AS masih diperlukan.
"Ada sentimen optimis dari komentarnya, bahwa Fed AS akan terus mengejar kebijakan moneter yang akomodatif," kata Desmond Chua, analis pasar CMC Markets, Singapura.
(dmd)
Lihat Juga :