Hingga Juni, uang palsu di Jabar capai Rp139 M
Kamis, 11 Juli 2013 - 14:38 WIB
Hingga Juni, uang palsu di Jabar capai Rp139 M
A
A
A
Sindonews.com - Peredaran uang palsu di Jawa Barat terbilang tinggi. Terhitung Januari hingga Juni 2013, ada sekira Rp139 miliar uang palsu yang beredar. Yang paling banyak dipalsukan adalah uang pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
"Ada Rp139 miliar uang palsu yang beredar. Itu hanya untuk semester pertama tahun ini saja," kata Kepala Divisi Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI, M Gani Aziz, di Bandungg, Jawa Barat, Kamis (11/7/2013).
Jika dibanding semester pertama tahun lalu, jumlah uang palsu relatif menurun. Tahun lalu, uang palsu yang beredar sepanjang Januari hingga Juni mencapai Rp219 miliar.
Gani mengatakan, BI terus berupaya agar peredaran uang palsu bisa ditekan. Salah satu upayanya adalah mengadakan program uang bersih pada 13 Juni hingga 5 Juli lalu.
Lewat program itu, BI menarik uang perbankan sekira Rp8,6 miliar. Dari jumlah itu, Rp8,3 miliar di antaranya dinilai sebagai uang tidak layak edar. Uang tidak layak edar itu misalnya lusuh atau robek.
"Uang-uang itu lalu digantikan uang baru yang lebih segar. Kalau kondisi uang segar, itu akan lebih mudah mendeteksi uang palsu," tandas Gani.
"Ada Rp139 miliar uang palsu yang beredar. Itu hanya untuk semester pertama tahun ini saja," kata Kepala Divisi Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI, M Gani Aziz, di Bandungg, Jawa Barat, Kamis (11/7/2013).
Jika dibanding semester pertama tahun lalu, jumlah uang palsu relatif menurun. Tahun lalu, uang palsu yang beredar sepanjang Januari hingga Juni mencapai Rp219 miliar.
Gani mengatakan, BI terus berupaya agar peredaran uang palsu bisa ditekan. Salah satu upayanya adalah mengadakan program uang bersih pada 13 Juni hingga 5 Juli lalu.
Lewat program itu, BI menarik uang perbankan sekira Rp8,6 miliar. Dari jumlah itu, Rp8,3 miliar di antaranya dinilai sebagai uang tidak layak edar. Uang tidak layak edar itu misalnya lusuh atau robek.
"Uang-uang itu lalu digantikan uang baru yang lebih segar. Kalau kondisi uang segar, itu akan lebih mudah mendeteksi uang palsu," tandas Gani.
(gpr)
Lihat Juga :