Harga minyak dunia ke rekor tertinggi dalam 15 bulan
Kamis, 11 Juli 2013 - 19:11 WIB
Harga minyak dunia ke rekor tertinggi dalam 15 bulan
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak global hari ini mencapai titik tertinggi dalam 15 bulan, didorong tanda-tanda penguatan permintaan konsumen Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran berkelanjutan terkait situasi di Mesir.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, melonjak ke USD107,45 per barel - sebuah level yang terakhir terlihat pada akhir Maret 2012. Kemudian berdiri di USD106,02, turun 50 sen dari tingkat penutupan Rabu.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus menguat ke USD108,93 per barel - terakhir mencapai tingkat tinggi pada awal April 2013 - sebelum mundur kembali ke USD108,20, turun 31 sen dari Rabu.
Minyak mentah berjangka telah mencetak harga tertinggi multi-bulan pada Rabu (10/7/2013) waktu setempat, setelah Administrasi Informasi Energi (EIA) mengumumkan stok minyak mentah mingguan AS berkurang, mengindikasikan kenaikan besar dalam permintaan energi.
EIA melaporkan stok minyak mentah jatuh sebesar 9,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 Juli. Itu lebih tinggi tiga kali lipat dari penurunan 2,9 juta barel perkiraan analis yang disurvei Dow Jones Newswires, diikuti penurunan pada pekan sebelumnya di hampir 10 juta barel.
Pedagang juga tetap sangat prihatin atas potensi gangguan pasokan minyak di Timur Tengah menyusul penggulingan presiden Mesir Mohamed Morsi oleh militer, pekan lalu.
Meski bukan pengekspor utama, Mesir sangat penting karena menjadi pusat transit minyak dunia melalui Terusan Suez dan jalur pipa yang masing-masing mengirim 3 juta barel per hari.
"Lonjakan minyak didorong tiga hal, optimisme terhadap membaiknya kondisi ekonomi di AS, kekhawatiran meningkatnya kerusuhan di Mesir, dan tingkat persediaan minyak di AS yang lebih rendah," kata Ishaq Siddiqi, analis perusahaan perdagangan ETX Capital, seperti dilansir AFP, Kamis (11/7/2013).
"Komoditas juga melacak pasar saham lebih tinggi hari ini, naik untuk hari kedelapan dan menuju pelarian terbaik mereka sejak 2010, setelah Bernanke (kepala Fed) mengatakan, ekonomi AS akan membutuhkan kebijakan moneter yang sangat akomodatif untuk masa mendatang, memicu harapan bahwa akhir QE tidak dekat," tambahnya.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, melonjak ke USD107,45 per barel - sebuah level yang terakhir terlihat pada akhir Maret 2012. Kemudian berdiri di USD106,02, turun 50 sen dari tingkat penutupan Rabu.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus menguat ke USD108,93 per barel - terakhir mencapai tingkat tinggi pada awal April 2013 - sebelum mundur kembali ke USD108,20, turun 31 sen dari Rabu.
Minyak mentah berjangka telah mencetak harga tertinggi multi-bulan pada Rabu (10/7/2013) waktu setempat, setelah Administrasi Informasi Energi (EIA) mengumumkan stok minyak mentah mingguan AS berkurang, mengindikasikan kenaikan besar dalam permintaan energi.
EIA melaporkan stok minyak mentah jatuh sebesar 9,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 Juli. Itu lebih tinggi tiga kali lipat dari penurunan 2,9 juta barel perkiraan analis yang disurvei Dow Jones Newswires, diikuti penurunan pada pekan sebelumnya di hampir 10 juta barel.
Pedagang juga tetap sangat prihatin atas potensi gangguan pasokan minyak di Timur Tengah menyusul penggulingan presiden Mesir Mohamed Morsi oleh militer, pekan lalu.
Meski bukan pengekspor utama, Mesir sangat penting karena menjadi pusat transit minyak dunia melalui Terusan Suez dan jalur pipa yang masing-masing mengirim 3 juta barel per hari.
"Lonjakan minyak didorong tiga hal, optimisme terhadap membaiknya kondisi ekonomi di AS, kekhawatiran meningkatnya kerusuhan di Mesir, dan tingkat persediaan minyak di AS yang lebih rendah," kata Ishaq Siddiqi, analis perusahaan perdagangan ETX Capital, seperti dilansir AFP, Kamis (11/7/2013).
"Komoditas juga melacak pasar saham lebih tinggi hari ini, naik untuk hari kedelapan dan menuju pelarian terbaik mereka sejak 2010, setelah Bernanke (kepala Fed) mengatakan, ekonomi AS akan membutuhkan kebijakan moneter yang sangat akomodatif untuk masa mendatang, memicu harapan bahwa akhir QE tidak dekat," tambahnya.
(dmd)
Lihat Juga :