Ini saran Agus Marto agar rupiah menguat
Rabu, 17 Juli 2013 - 16:18 WIB
Ini saran Agus Marto agar rupiah menguat
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyebutkan langkah-langkah yang akan membuat nilai tukar rupiah akan kembali kuat.
Menurut Agus Marto, dengan telah dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan permintaan dolar pasca bulan Juni yang tidak terlalu tinggi, ditambah keluarnya pemegang saham asing di pasar modal akan berdampak pada menguatnya rupiah.
"Ini yang kita lihat bahwa kalau seandainya ini bisa kita jaga, inflasi bisa kita jaga, current account deficit kita jaga supaya defisit jangan terlalu besar, itu akan membuat nilai tukar kita akan lebih kuat," ujarnya di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (17/7/2013).
Agus menilai, nilai tukar yang secara temporary di angka Rp10 ribu per dolar masih wajar dibandingkan tahun 2005 dan 2008. "Tapi nilai tukar itu temporary di atas Rp10 ribu per dolar itu wajar. Di tahun 2005 dan 2008, pada saat menaikkan harga BBM, saat itu nilai tukar di atas Rp10 ribu per dolar," pungkas Agus.
Sebelumnya, Agus Marto menilai, nilai tukar rupiah yang mencapai Rp10 ribu per dolar mencerminkan neraca ekspor-impor yang lebih seimbang (balance) dan juga sehat.
"Jadi yang saya sampaikan kita enggak perlu khawatir dengan nilai tukar itu karena sudah mencerminkan terjadinya trade yang sehat, artinya ekspor dan impor kita lebih balance," ujarnya.
Agus menyebut depresiasi mata uang yang lebih buruk dialami oleh negara-negara tetangga Indonesia karena kondisi global masih belum menentu.
"Kalau dilihat Filipina, Korea Selatan, India, dan China juga kondisi lebih buruk depresiasinya. Semua lebih buruk depresiasinya itu karena pengaruh dunia. Sedangkan depresiasi kita masih sama dengan ringgit Malaysia," ucapnya.
Menurut Agus Marto, dengan telah dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan permintaan dolar pasca bulan Juni yang tidak terlalu tinggi, ditambah keluarnya pemegang saham asing di pasar modal akan berdampak pada menguatnya rupiah.
"Ini yang kita lihat bahwa kalau seandainya ini bisa kita jaga, inflasi bisa kita jaga, current account deficit kita jaga supaya defisit jangan terlalu besar, itu akan membuat nilai tukar kita akan lebih kuat," ujarnya di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (17/7/2013).
Agus menilai, nilai tukar yang secara temporary di angka Rp10 ribu per dolar masih wajar dibandingkan tahun 2005 dan 2008. "Tapi nilai tukar itu temporary di atas Rp10 ribu per dolar itu wajar. Di tahun 2005 dan 2008, pada saat menaikkan harga BBM, saat itu nilai tukar di atas Rp10 ribu per dolar," pungkas Agus.
Sebelumnya, Agus Marto menilai, nilai tukar rupiah yang mencapai Rp10 ribu per dolar mencerminkan neraca ekspor-impor yang lebih seimbang (balance) dan juga sehat.
"Jadi yang saya sampaikan kita enggak perlu khawatir dengan nilai tukar itu karena sudah mencerminkan terjadinya trade yang sehat, artinya ekspor dan impor kita lebih balance," ujarnya.
Agus menyebut depresiasi mata uang yang lebih buruk dialami oleh negara-negara tetangga Indonesia karena kondisi global masih belum menentu.
"Kalau dilihat Filipina, Korea Selatan, India, dan China juga kondisi lebih buruk depresiasinya. Semua lebih buruk depresiasinya itu karena pengaruh dunia. Sedangkan depresiasi kita masih sama dengan ringgit Malaysia," ucapnya.
(gpr)