Dolar AS menguat, harga minyak di Asia tergelincir
Kamis, 18 Juli 2013 - 10:57 WIB
Dolar AS menguat, harga minyak di Asia tergelincir
A
A
A
Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan Asia hari ini turun akibat penguatan dolar AS, merespon pernyataan Ketua Federal Reserve AS (Fed) Ben Bernanke, bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan keuangan saat ini.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, turun enam sen menjadi USD106,42 per barel pada perdagangan pagi. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk September, merosot 11 sen menjadi USD108,50 per barel.
Bernanke mengatakan, kepada Kongres bahwa bank sentral tidak memiliki rencana memotong kembali pembelian obligasi, dan akan mempertimbangkan pengurangan program stimulus jika perekonomian membaik.
"Saya tekankan pembelian aset kita tergantung pada perkembangan ekonomi dan keuangan, tidak berarti mereka pada preset course," kata Bernake di hadapan House Financial Services Committee, seperti dilansir dari AFP, Kamis (18/7/2013).
Di pihak lain, Desmond Chua, analis pasar CMC Market Singapura melihat, faktor dolar berperan besar di sini. Di mana komentar Bernanke telah memperkuat dolar AS, menyebabkan permintaan minyak mentah berkurang.
Penguatan greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan dan mendorong harga lebih rendah.
Namun, analis lain berpendapat, harga minyak akan didukung oleh tanda-tanda permintaan kuat di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah utama dunia, serta kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah yang disebabkan gejolak politik Mesir.
"Tingginya permintaan di AS dan krisis berkelanjutan di Mesir cenderung menjaga harga tinggi dalam waktu dekat," kata Sanjeev Gupta, kepala konsultan Minyak Asia-Pasifik dan Praktek Gas EY, sebelumnya Ernst and Young.
Laporan persediaan minyak mentah yang diumumkan Departemen Energi AS menunjukkan stok turun 6,9 juta barel dalam pekan hingga 12 Juli.
Penurunan datang bertepatan musim panas, di mana warga AS pergi ke jalan untuk liburan, mengalahkan pengurangan 2,2 juta barel yang diperkirakan analis dalam survei Dow Jones Newswires.
Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, turun enam sen menjadi USD106,42 per barel pada perdagangan pagi. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk September, merosot 11 sen menjadi USD108,50 per barel.
Bernanke mengatakan, kepada Kongres bahwa bank sentral tidak memiliki rencana memotong kembali pembelian obligasi, dan akan mempertimbangkan pengurangan program stimulus jika perekonomian membaik.
"Saya tekankan pembelian aset kita tergantung pada perkembangan ekonomi dan keuangan, tidak berarti mereka pada preset course," kata Bernake di hadapan House Financial Services Committee, seperti dilansir dari AFP, Kamis (18/7/2013).
Di pihak lain, Desmond Chua, analis pasar CMC Market Singapura melihat, faktor dolar berperan besar di sini. Di mana komentar Bernanke telah memperkuat dolar AS, menyebabkan permintaan minyak mentah berkurang.
Penguatan greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan dan mendorong harga lebih rendah.
Namun, analis lain berpendapat, harga minyak akan didukung oleh tanda-tanda permintaan kuat di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah utama dunia, serta kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah yang disebabkan gejolak politik Mesir.
"Tingginya permintaan di AS dan krisis berkelanjutan di Mesir cenderung menjaga harga tinggi dalam waktu dekat," kata Sanjeev Gupta, kepala konsultan Minyak Asia-Pasifik dan Praktek Gas EY, sebelumnya Ernst and Young.
Laporan persediaan minyak mentah yang diumumkan Departemen Energi AS menunjukkan stok turun 6,9 juta barel dalam pekan hingga 12 Juli.
Penurunan datang bertepatan musim panas, di mana warga AS pergi ke jalan untuk liburan, mengalahkan pengurangan 2,2 juta barel yang diperkirakan analis dalam survei Dow Jones Newswires.
(dmd)
Lihat Juga :