Pertamina minta usut tuntas penjarahan minyak
Rabu, 31 Juli 2013 - 15:43 WIB
Pertamina minta usut tuntas penjarahan minyak
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan meminta Pertamina berserta aparat kepolisian mengusut tuntas kejadian penjarahan minyak di beberapa tempat seperti Tempino Plaju yang kemudian disusul di Tasikmalaya.
"Harapnnya tindakan tegas, oknum siapapun harus tegas," tandas Karen di Jakarta, Rabu (31/7/2013).
Di tempat yang sama, Vice President Corporate Pertamina Ali Mundakir mengatakan, tindakan oknum penjarahan minyak milik Pertamina mengancam stabilitas nasional. Pasalnya, pipa Pertamina bukan hanya diincar tetapi sudah mulai dijarah.
"Tindakan kriminal ini bisa mengganggu stabilitas nasional," tegas dia.
Ali menjelaskan, dampak penjarahan minyak ini telah berakibat pada turunnya lifting minyak Indonesia dan berkurangnya penerimaan negara dari sektor migas. Sampai saat ini, Pertamina belum akan mengoperasikan produksi minyak dan akan terus menghentikan aliran minyak mentah Tempino-Plaju hingga ada jaminan keamanan dari aparat kepolisian.
"Tidak ada batas waktu, hingga ada jaminan keamanan. Pertamina sudah capek-capek produksi minyak, tetapi digarong, hilang begitu saja," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pertamina telah menghentikan penyaluran minyak mentah Tempino-Plaju yang baru dioperasikan selama sepekan sebagai langkah darurat meningkatknya aksi penjarahan.
Rata-rata losses yang dialami perusahaan minyak negara selama sepekan beroperasi komersial mencapai 18 persen dari rata-rata penyaluran 12 ribu bph.
Losses cenderung meningkat dari semula hanya 4,45 persen di hari pertama hingga terakhir sempat mencapai 39,5 persen. Dalam sepekan, Pertamina telah kehilangan minyak sekitar 17.500 barel atau setara Rp17,5 miliar. Sedangkan untuk kerugiannya dari 1 Januari hingga 23 Juli 2013 mencapai sekitar Rp280 miliar.
Belum lagi disusul meledaknya aksi pencurian minyak melalui pipa distribusi BBM Pertamina yang menghubungkan Terminal BBM Lomanis, Jawa Tengah menuju Terminal BBM Tasikmalaya tepatnya di Dusun Maribaya, Tasikmalaya.
"Harapnnya tindakan tegas, oknum siapapun harus tegas," tandas Karen di Jakarta, Rabu (31/7/2013).
Di tempat yang sama, Vice President Corporate Pertamina Ali Mundakir mengatakan, tindakan oknum penjarahan minyak milik Pertamina mengancam stabilitas nasional. Pasalnya, pipa Pertamina bukan hanya diincar tetapi sudah mulai dijarah.
"Tindakan kriminal ini bisa mengganggu stabilitas nasional," tegas dia.
Ali menjelaskan, dampak penjarahan minyak ini telah berakibat pada turunnya lifting minyak Indonesia dan berkurangnya penerimaan negara dari sektor migas. Sampai saat ini, Pertamina belum akan mengoperasikan produksi minyak dan akan terus menghentikan aliran minyak mentah Tempino-Plaju hingga ada jaminan keamanan dari aparat kepolisian.
"Tidak ada batas waktu, hingga ada jaminan keamanan. Pertamina sudah capek-capek produksi minyak, tetapi digarong, hilang begitu saja," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pertamina telah menghentikan penyaluran minyak mentah Tempino-Plaju yang baru dioperasikan selama sepekan sebagai langkah darurat meningkatknya aksi penjarahan.
Rata-rata losses yang dialami perusahaan minyak negara selama sepekan beroperasi komersial mencapai 18 persen dari rata-rata penyaluran 12 ribu bph.
Losses cenderung meningkat dari semula hanya 4,45 persen di hari pertama hingga terakhir sempat mencapai 39,5 persen. Dalam sepekan, Pertamina telah kehilangan minyak sekitar 17.500 barel atau setara Rp17,5 miliar. Sedangkan untuk kerugiannya dari 1 Januari hingga 23 Juli 2013 mencapai sekitar Rp280 miliar.
Belum lagi disusul meledaknya aksi pencurian minyak melalui pipa distribusi BBM Pertamina yang menghubungkan Terminal BBM Lomanis, Jawa Tengah menuju Terminal BBM Tasikmalaya tepatnya di Dusun Maribaya, Tasikmalaya.
(rna)
Lihat Juga :