Biaya produksi naik, APLN perpanjang tenor penjualan
Rabu, 28 Agustus 2013 - 12:49 WIB
Biaya produksi naik, APLN perpanjang tenor penjualan
A
A
A
Sindonews.com - PT Angung Podomoro Land Tbk (APLN) mengaku pelemahan rupiah yang terjadi saat ini akan mempengaruhi sejumlah proyek baru yang akan dikerjakan perseroan di masa depan.
"Depresiasi rupiah untuk proyek lama tidak (terpengaruh) karena bahan bakunya sudah kita beli dan proyeknya sudah jalan. Tapu untuk proyek baru, iya (berpengaruh). Untuk yang baru-baru, seperti Medan, bisa kena impact karena baja kita kan banyak dari luar," ujar Investor Relation APLN, Wibisono di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Kendati demikian, dirinya mengaku belum bisa berkomentar lebih jauh perihal berapa besar persentasi dampak pelemahan rupiah terhadap kenaikan beban produksi perseroan lantaran pihaknya masih melakukan kajian terkait hal tersebut.
"Saat ini belum ketahuan karena rupiah masih tidak jelas akan melemah sampai level berapa lagi. Jadi, kita masih kaji itu dulu, kita juga belum melakukan pembelian (bahan material bangunan)," tambah Wibisono.
Kendati ada potensi kenaikan cost produksi, lanjut Wibisono, pihaknya tidak berencana menaikkan harga jual lebih besar dari kenaikan rata-rata per tahun yang berada pada level 20-30 persen/tahun.
Langkah tersebut diambil lantaran perseroan khawatir produknya tidak bisa diserap pasar bila kenaikan harga jualnya terlalu tinggi.
"Harga jual per tahun (dalam kondisi normal) bisa sampai 20-30 persen tergantung market. Dengan adanya depresiasi rupiah, kenaikan harga jualnya mungkin akan tetap segitu karena daya belinya akan berkurang. Solusinya mungkin jangka waktu penjualannya akan kita panjangkan, biasanya 3 tahun menjadi 5 tahun," tutur dia.
"Depresiasi rupiah untuk proyek lama tidak (terpengaruh) karena bahan bakunya sudah kita beli dan proyeknya sudah jalan. Tapu untuk proyek baru, iya (berpengaruh). Untuk yang baru-baru, seperti Medan, bisa kena impact karena baja kita kan banyak dari luar," ujar Investor Relation APLN, Wibisono di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Kendati demikian, dirinya mengaku belum bisa berkomentar lebih jauh perihal berapa besar persentasi dampak pelemahan rupiah terhadap kenaikan beban produksi perseroan lantaran pihaknya masih melakukan kajian terkait hal tersebut.
"Saat ini belum ketahuan karena rupiah masih tidak jelas akan melemah sampai level berapa lagi. Jadi, kita masih kaji itu dulu, kita juga belum melakukan pembelian (bahan material bangunan)," tambah Wibisono.
Kendati ada potensi kenaikan cost produksi, lanjut Wibisono, pihaknya tidak berencana menaikkan harga jual lebih besar dari kenaikan rata-rata per tahun yang berada pada level 20-30 persen/tahun.
Langkah tersebut diambil lantaran perseroan khawatir produknya tidak bisa diserap pasar bila kenaikan harga jualnya terlalu tinggi.
"Harga jual per tahun (dalam kondisi normal) bisa sampai 20-30 persen tergantung market. Dengan adanya depresiasi rupiah, kenaikan harga jualnya mungkin akan tetap segitu karena daya belinya akan berkurang. Solusinya mungkin jangka waktu penjualannya akan kita panjangkan, biasanya 3 tahun menjadi 5 tahun," tutur dia.
(rna)
Lihat Juga :