OECD: Negara berkembang bebani pertumbuhan global

Selasa, 03 September 2013 - 16:23 WIB
OECD: Negara berkembang...
OECD: Negara berkembang bebani pertumbuhan global
A A A
Sindonews.com - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara maju pada tahun ini akan membaik. Namun, melambatnya ekonomi di negara berkembang membebani pertumbuhan global.

"Intinya adalah negara maju tumbuh lebih tinggi dan negara-negara berkembang lebih kecil," kata Pier Carlo Padoan, kepala ekonom OECD, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (3/9/2013).

Di antara negara besar, Amerika Serikat akan memimpin pemulihan dengan pertumbuhan tahun ini sebesar 1,7 persen, memangkas estimasi pada Mei di angka 1,9 persen. OECD menyebutkan, ekonomi AS di jalur terus berkembang sesuai dengan langkah Federal Reserve (Fed) yang mulai memperlambat pembelian obligasi, ukuran utama di bank sentral pada kebijakan pelonggaran moneter.

Didorong stimulus moneter besar-besaran dari bank sentral, Jepang terlihat di jalur pertumbuhan sebesar 1,6 persen, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya.

Sementara Eropa, yang telah menjadi hambatan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir akibat krisis utang, akhirnya menemui pemulihan dipimpin Perancis dan Jerman. OECD menaikkan perkiraan ekonomi mereka. Masing-masing, Perancis terlihat di jalur pertumbuhan 0,3 persen pada tahun ini, naik dari kontraksi 0,3 persen pada perkiraan Mei. Sementara ekonomi terbesar Eropa, Jerman ditetapkan tumbuh 0,7 persen, meningkat dari 0,4 persen.

"Meskipun negara maju utama menjemput, perlambatan di banyak negara-negara berkembang cenderung membebani pertumbuhan global yang lebih luas," tegas Padoan.

China pengecualian di antara negara-negara berkembang, dengan proyeksi pertumbuhan mempercepat selama setahun, mencapai angka 7,4 persen pada 2013.

Untuk kawasan euro, OECD memperingatkan, ECB harus menjaga kemungkinan penurunan suku bunga. Sementara ekonomi Italia diperkirakan berkontraksi 1,8 persen pada tahun ini. Untuk ekonomi sarat utang di Eropa selatan masih diperlukan kebijakan moneter yang longgar.

Di luar zona euro, Inggris terlihat tumbuh 1,5 persen, mengangkat tajam dari perkiraan 0,8 persen pada Mei .
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
6 menit yang lalu
DSI Dinilai Bisa Perkuat...
DSI Dinilai Bisa Perkuat Ekspor dan Transparansi Tata Kelola SDA
24 menit yang lalu
IHSG Kebakaran, Rontok...
IHSG 'Kebakaran', Rontok 3,58% ke 5.734 Siang Ini
36 menit yang lalu
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
51 menit yang lalu
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
1 jam yang lalu
Ayo Belajar Cara Investasi...
Ayo Belajar Cara Investasi ETF di IG Live MNC Sekuritas: Investasi Simpel dengan Diversifikasi Otomatis
1 jam yang lalu
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved