Rupiah diperkirakan terapresiasi
Kamis, 19 September 2013 - 08:57 WIB
Rupiah diperkirakan terapresiasi
A
A
A
Sindonews.com - Pelaku pasar diperkirakan lebih banyak memegang dolar Amerika Serikat (USD), sehingga menambah tekanan bagi laju rupiah. Namun kegundahan tersebut tampaknya mulai sirna lantaran secara tidak terduga hasil dari rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunda pemotongan paket stimulus.
Mandiri Sekuritas menerangkan, indeks Dow Jones pada melanjutkan tren penguatan setelah The Fed memutuskan untuk melanjutkan stimulus moneternya. Dow Jones tercatat menguat 146,83 poin (0,95 persen) ke level 15.676,56.
Sementara indeks regional Asia pagi ini juga membukukan kenaikan. Indeks Nikkei 225 di Jepang mencatatkan kenaikan 0,68 persen ke posisi 14.605,61. Sedangkan indeks BSE 30 di India menguat 0,07 persen ke posisi 19.818,22.
Imbasnya ini diprediksi akan dirasakan di Tanah Air yang akan tercermin dari menguatnya pergerakan IHSG hari ini.
"Tak hanya IHSG, batalnya pengurangan stimulus AS juga akan mengangkat pergerakan rupiah dan pasar komoditas," tegas Mandiri Sekuritas.
Berita ini memberi optimesme tersendiri bagi pasar sekaligus menepis pandangan negatif, sehingga membuat pelaku pasar mengambil langkah aman dengan menimbun cadangan dolarnya.
Kekhawatiran pelaku pasar sebelumnya dikemukakan Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, dimana adanya kenaikan BI rate yang terjadi di minggu sebelumnya tampaknya sudah menjadi angin lalu karena efek positifnya kian tertutupi dengan ekspektasi keputusan sidang FOMC.
Dengan adanya pengurangan stimulus memberikan persepsi bahwa supply USD kian berkurang dan akan meningkatkan nilainya. Belum lagi imbas sentimen penilaian masih tingginya harga minyak, meski saat ini sudah sedikit turun, juga memberikan ekspektasi masih akan menekan laju defisit neraca perdagangan.
Dia memprediksi, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) laju rupiah akan bergerak pada kisaran Rp11.455-11.525/USD.
Mandiri Sekuritas menerangkan, indeks Dow Jones pada melanjutkan tren penguatan setelah The Fed memutuskan untuk melanjutkan stimulus moneternya. Dow Jones tercatat menguat 146,83 poin (0,95 persen) ke level 15.676,56.
Sementara indeks regional Asia pagi ini juga membukukan kenaikan. Indeks Nikkei 225 di Jepang mencatatkan kenaikan 0,68 persen ke posisi 14.605,61. Sedangkan indeks BSE 30 di India menguat 0,07 persen ke posisi 19.818,22.
Imbasnya ini diprediksi akan dirasakan di Tanah Air yang akan tercermin dari menguatnya pergerakan IHSG hari ini.
"Tak hanya IHSG, batalnya pengurangan stimulus AS juga akan mengangkat pergerakan rupiah dan pasar komoditas," tegas Mandiri Sekuritas.
Berita ini memberi optimesme tersendiri bagi pasar sekaligus menepis pandangan negatif, sehingga membuat pelaku pasar mengambil langkah aman dengan menimbun cadangan dolarnya.
Kekhawatiran pelaku pasar sebelumnya dikemukakan Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, dimana adanya kenaikan BI rate yang terjadi di minggu sebelumnya tampaknya sudah menjadi angin lalu karena efek positifnya kian tertutupi dengan ekspektasi keputusan sidang FOMC.
Dengan adanya pengurangan stimulus memberikan persepsi bahwa supply USD kian berkurang dan akan meningkatkan nilainya. Belum lagi imbas sentimen penilaian masih tingginya harga minyak, meski saat ini sudah sedikit turun, juga memberikan ekspektasi masih akan menekan laju defisit neraca perdagangan.
Dia memprediksi, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) laju rupiah akan bergerak pada kisaran Rp11.455-11.525/USD.
(rna)