IHSG diproyeksi terjungkal ditekan aksi jual
Rabu, 25 September 2013 - 08:25 WIB
IHSG diproyeksi terjungkal ditekan aksi jual
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih betah di zona negatif seiring dengan laju nilai tukar rupiah yang juga masih memperpanjang posisinya di zona merah. Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan berada pada support 4.400-4.449 dan resistance 4.512-4.579.
"Pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual dengan kurang nyamannya kondisi tersebut. Apalagi dengan posisi bursa saham AS sebelumnya yang juga masih berada di area negatif dan berimbas pada laju bursa saham Asia membuat IHSG pun terkepung dengan suasana merah," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (25/9/2013).
Bahkan karena kuatnya belenggu negatif membuat IHSG tidak merespon positifnya pembukaan bursa saham Eropa seperti tercermin pada laju pelemahan yang menerpa IHSG pada hari kemarin.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.574,58 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.443,41 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 4.460,41.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell tipis dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Meski sempat bergerak mendekati target resisten kami (4.575-4.585), namun berakhir di kisaran target support (4.495-4.520), sehingga masih membuka potensi pelemahan lanjutan. Diharapkan tekanan jual mulai berkurang dengan telah lunasnya utang gap (4.505-4.576) dan tidak mengarah ke utang gap berikutnya (4.375-4.403)," tegasnya.
Di sisi lain, Indonesia tampaknya bukan satu-satunya negara yang bursa sahamnya terguncang lantaran permasalahan ekonomi di Amerika Serikat. Sentimen dari akan adanya pembahasan APBN AS juga turut menerpa laju bursa saham Asia yang sepanjang perdagangan kemarin berada di zona merah.
"Apalagi pernyataan dari berbagai petinggi The Fed di beberapa negara bagian juga terlihat kurang kompak,0 sehingga pelaku pasar lebih memilih menjauh dan mengamankan posisi," kata Reza.
Selain itu, pelemahan juga dipicu penurunan saham-saham properti dan raw material setelah beredar kabar pemerintah akan mempercepat pemberlakukan pajak properti.
Laju bursa saham Eropa sampai saat ini mencoba menguat tipis berbanding terbalik dengan bursa saham Asia yang melemah setelah rilis kenaikan di atas estimasi data-data Jerman antara lain IFO business climate, IFO current assessment, dan IFO business expectations. Begitupun dengan rilis kenaikan BBA mortgage approvals Inggris.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedikit bersikap wait and see terhadap beberapa pernyataan dari petinggi The Fed terhadap paket stimulus di bulan depan.
"Pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual dengan kurang nyamannya kondisi tersebut. Apalagi dengan posisi bursa saham AS sebelumnya yang juga masih berada di area negatif dan berimbas pada laju bursa saham Asia membuat IHSG pun terkepung dengan suasana merah," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (25/9/2013).
Bahkan karena kuatnya belenggu negatif membuat IHSG tidak merespon positifnya pembukaan bursa saham Eropa seperti tercermin pada laju pelemahan yang menerpa IHSG pada hari kemarin.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.574,58 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.443,41 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 4.460,41.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell tipis dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Meski sempat bergerak mendekati target resisten kami (4.575-4.585), namun berakhir di kisaran target support (4.495-4.520), sehingga masih membuka potensi pelemahan lanjutan. Diharapkan tekanan jual mulai berkurang dengan telah lunasnya utang gap (4.505-4.576) dan tidak mengarah ke utang gap berikutnya (4.375-4.403)," tegasnya.
Di sisi lain, Indonesia tampaknya bukan satu-satunya negara yang bursa sahamnya terguncang lantaran permasalahan ekonomi di Amerika Serikat. Sentimen dari akan adanya pembahasan APBN AS juga turut menerpa laju bursa saham Asia yang sepanjang perdagangan kemarin berada di zona merah.
"Apalagi pernyataan dari berbagai petinggi The Fed di beberapa negara bagian juga terlihat kurang kompak,0 sehingga pelaku pasar lebih memilih menjauh dan mengamankan posisi," kata Reza.
Selain itu, pelemahan juga dipicu penurunan saham-saham properti dan raw material setelah beredar kabar pemerintah akan mempercepat pemberlakukan pajak properti.
Laju bursa saham Eropa sampai saat ini mencoba menguat tipis berbanding terbalik dengan bursa saham Asia yang melemah setelah rilis kenaikan di atas estimasi data-data Jerman antara lain IFO business climate, IFO current assessment, dan IFO business expectations. Begitupun dengan rilis kenaikan BBA mortgage approvals Inggris.
Di sisi lain, pelaku pasar juga sedikit bersikap wait and see terhadap beberapa pernyataan dari petinggi The Fed terhadap paket stimulus di bulan depan.
(rna)
Lihat Juga :