Ekonom China: Indonesia terbaik di Asia Tenggara

Senin, 07 Oktober 2013 - 13:31 WIB
Ekonom China: Indonesia...
Ekonom China: Indonesia terbaik di Asia Tenggara
A A A
Sindonews.com - Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menjadi salah satu pemain dengan performa terbaik di perekonomian dunia. Negeri ini memiliki tingkat produk domestik bruto (PDB) konsisten di angka 6 persen.

Hal tersebut disampaikan Wu Chongbo, profesor ekonomi yang mengkhususkan diri dalam studi Asia Tenggara di Universitas Xiamen, Fujian. Dilansir dari Xinhua, Senin (7/10/2013). Wu mengatakan, Indonesia telah merestrukturisasi beberapa industri utama, mengembangkan infrastruktur negara, mempromosikan manufaktur dan terus meningkatkan konsumsi domestik.

Dia menyebutkan, pemerintah Indonesia baru-baru ini mengadopsi rencana untuk membangun enam koridor ekonomi yang besar di seluruh negeri. Keenam daerah yang akan menjadi inti dari ekonomi lokal. Masing-masing akan berfungsi seperti kota CBD.

Pemerintah juga bertujuan untuk merestrukturisasi 10 industri tradisional besar, seperti tekstil, produksi besi, mobil dan petrokimia. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan berinvestasi sebesar USD150 miliar dolar untuk memperbaiki infrastruktur, termasuk jalan tol, kereta api, pembangkit listrik dan sebagainya.

Menurut Wu, didukung perbaikan infrastruktur, industri manufaktur akan memimpin pembangunan ekonomi saat ini. Melalui langkah restrukturisasi, pemerintah berusaha meningkatkan efisiensi produksi dalam upaya menarik lebih banyak investor asing untuk memelihara lingkungan ekonomi yang kokoh.

Tujuan lain dari restrukturisasi termasuk penyesuaian dan membawa stabilitas pasar tenaga kerja, serta membuat penggunaan sumber daya alam dan tenaga kerja Indonesia dengan menghindari industri yang tidak kompetitif dari negara-negara tetangga.

Wu mencatat, nilai ekspor tekstil dari Indonesia pada 2012 adalah USD12,5 miliar membuat negara ini menjadi raksasa tekstil di Asia Tenggara. "Pemerintah Indonesia cukup bangga dengan konsumsi domestik yang tinggi. Perekonomian Indonesia digerakkan oleh motor yang berbeda dibandingkan dengan banyak negara lain di Asia Tenggara," ujarnya.

Wu mengungkapkan banyak negara yang bergantung pada ekspor, dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai pasar utama, sehingga mereka menderita selama resesi. Namun, Indonesia jauh lebih mandiri. Derajat ketergantungan perdagangan luar negeri pada 2009, menurut statistik dari IMF adalah 39 persen. Artinya, lebih rendah dari rata-rata 102,7 persen di 10 negara di Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
8 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
8 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
9 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
11 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
11 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
12 jam yang lalu
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved