Jatam Kaltim tolak pembangunan rel kereta api

Kamis, 10 Oktober 2013 - 17:14 WIB
Jatam Kaltim tolak pembangunan...
Jatam Kaltim tolak pembangunan rel kereta api
A A A
Sindonews.com - Karena dianggap akan mempercepat peluang pengrusakan lingkungan oleh perusahaan tambang di Kalimantan Timur (Kaltim), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim menegaskan menolak pembangunan rel tersebut.

Rencananya mereka akan melakukan aksi penolakan tersebut pasca lebaran Idul Adha. Dinamisator Jatam Kahar Kahar Al-Bahri menyatakan, semestinya Pemerintah Provinsi Kaltim memperhatikan dampak buruk atas dibangunnya rel kereta api.

“Tujuan utamanya tentu saja untuk mempermudah angkutan batu bara. Artinya batu bara Kaltim akan terus dikeruk. Akan banyak dampak buruk seperti kerusakan lingkungan, pembukaan lahan, konflik sosial dan lainnya,” kata Kahar, Kamis (10/10/2013).

Pemprov Kaltim, kata Kahar, lebih fokus membangun infrastruktur yang sejatinya tidak pernah menyentuh masyarakat kebanyakan. Selain rel kereta api yang memang hanya untuk industri, Pemprov lebih memilih membangun jalan tol ketimbang memperbaiki jalan trans Kalimantan.

“Kenapa lebih sibuk membangun rel kereta api, padahal banyak infrastruktur yang diabaikan. Tak ada dampak langsung bagi masyarakat atas pembangunan rel kereta api itu selain mempercepat dirampoknya sumber daya alam Kaltim,” tambahnya.

Pengerukan batu bara juga tak berdampak langsung bagi kebutuhan energi Kaltim. Masyarakat Kaltim masih berkutat rutinnya pemadaman bergilir dengan alasan minimnya pasokan energi. Jatam Kaltim meyakini jika batu bara yang dikeruk seluruhnya untuk dijual ke luar Kaltim.

“Produksi batu bara Indonesia itu 450 juta metrik ton, Kaltim menyumbang 245 juta metrik ton, jumlah yang lebih dari separuh produksi nasional. Jumlah produksi itu akan bertambah jika rel jadi nantinya. Batu bara untuk kebutuhan listrik di Kaltim hanya 2,7 persen yang digunakan,” kata Kahar.

Jatam menyebut, ada perusahaan asing yang memegang luas areal konsensi sebesar 335 ribu hektar. Dengan adanya rel kereta api, angkutan batubara untuk pemegang konsensi itu akan semakin mudah.

“Perusahaan pemegang konsensi di Kutai Barat adalah Brokenhill Provertys dan kelompok Gunung Bayan. Lahan 335 ribu hektar itu pasti akan habis ditambang,” kata Kahar.

Pemprov Kaltim, kata Kahar, punya dua koridor pembangunan rel kereta api. Selain rencana pembangunan rel kereta api Kutai Barat-Balikpapan, juga ada koridor Muara Wahau-Lubuk Tutung, Kabupaten Kutai Timur. Proses pembangunannya tertunda saat ini karena masalah tumpang tindih lahan.

“Pemegang konsensi di Kutai Timur lebih luas dari pada Kutai Barat, mencapai 350 ribu hektar. Perusahaan pemegang konsensinya yang saat ini sedang ramai diberitakan, Churcill,” kata Kahar.

Jatam akan mengajak berbagai elemen masyaralat untuk menolak pembangunan rel kereta api. Aksi tersebut harus dilakukan untuk menentang pemerintah yang terus memberikan ijin pertambangan yang berdampak perusakan lingkungan dan dampak sosial.

Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pembanguna rel kereta api untuk angkutan batu bara dan sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) yang menghubungkan Kutai Barat dan Balikpapan sebentar lagi akan terealisasi.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menegaskan, Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyampaikan rencana tersebut ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Bali beberapa waktu lalu dan telah disepakati.

“Untuk tahap awal, pembangunan rel kereta api ini dimanfaatkan industri, tidak hanya batu bara, namun juga CPO (Crude Palm Oil, minyak kelapa sawit). Seiring waktu, nantinya akan digunakan untuk angkutan orang,” kata Awang Faroek.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tanpa DMO Batu Bara,...
Tanpa DMO Batu Bara, Industri Semen hingga Tekstil Bakal Sempoyongan
ESDM Tolak Rencana Produksi...
ESDM Tolak Rencana Produksi Batu Bara 51 Perusahaan Sebanyak 7,8 Juta Ton
Batu Bara Kembali Diekspor...
Batu Bara Kembali Diekspor Secara Bertahap
Target Produksi Batu...
Target Produksi Batu Bara Nasional 2022 Capai 663 Juta Ton
Aksi Damai Protes Bisnis...
Aksi Damai Protes Bisnis Kotor Batubara
Transformasi Batubara...
Transformasi Batubara Menuju Energi Bernilai Tambah
Berita Terkini
Bahlil Siap Atur Mekanisme...
Bahlil Siap Atur Mekanisme Izin Tambang Ormas Agama Pascaputusan MK
12 menit yang lalu
RUU PFII Lompatan Strategis...
RUU PFII Lompatan Strategis Kejar Ekonomi RI 8%, Purbaya Ungkap 3 Pilar Penopangnya
54 menit yang lalu
Lionel Express Hadirkan...
Lionel Express Hadirkan Solusi Distribusi Barang B2B ke Seluruh Indonesia
1 jam yang lalu
Perkuat Ekosistem Emas...
Perkuat Ekosistem Emas Nasional, Pegadaian Resmi Jadi Bagian Pendirian Indonesia Bullion Market Association (IBMA)
1 jam yang lalu
Nikmati Pengalaman Nonton...
Nikmati Pengalaman Nonton Terbaik di XXI dengan Penawaran Eksklusif dari BRI
2 jam yang lalu
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
3 jam yang lalu
Infografis
Membangkang, Panglima...
Membangkang, Panglima Israel Tolak Perintah Serang Gaza Besar-besaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved