Investasi BPJS terganjal di Kementerian Keuangan

Kamis, 24 Oktober 2013 - 09:37 WIB
Investasi BPJS terganjal...
Investasi BPJS terganjal di Kementerian Keuangan
A A A
Sindonews.com - PT Jamsostek (Persero) meminta Kementerian Keuangan memperlunak sikapnya terhadap investasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Pasalnya, rancangan perarturan pemerintah (RPP) mengenai pengelolaan aset BPJS masih terganjal sikap Kementerian Keuangan (Kemenkeu) soal pembatasan investasi.

"Kami memberikan masukan kepada Kemenkeu agar pengelolaan dana bisa bermanfaat bagi peserta dan berkelanjutan, maka investasi BPJS harusnya sama dengan yang saat ini sudah dilakukan Jamsostek," ujar Direktur Utama PT Jamsostek Elvyn G Masassya usai rapat Forum Konsolidasi BPJS di Solo, Rabu (23/10/2013) malam.

Elvyn mengatakan, dana investasi BPJS harusnya bisa dikembangkan tidak hanya untuk manfaat bagi peserta tetapi juga menggerakkan perekonomian bangsa. Sehingga jika investasi BPJS dibatasi maka tujuan tersebut tidak akan bisa diwujudkan.

"Investasi merupakan amanah undang-undang yang harus dilakukan BPJS. Jadi untuk mengembangkan dana peserta harus melalui investasi. Jadi aturannya harusnya investasi BPJS tidak dibatasi," katanya.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron menjelaskan, BPJS seharusnya bisa besar seperti lembaga yang sama di luar negeri. Untuk menjadi besar maka dana yang dikumpulkan harus bisa diinvestasikan agar hasilnya bisa dimanfaatkan bagi kepentingan peserta.

"Jadi harusnya tidak ada larangan BPJS menjadi besar. Kementerian Keuangan harus mengakomodir usulan dari pihak lainnya agar investasi BPJS tidak dibatasi," jelas Gufron.

Menurut Gufron, seharusnya dana investasi BPJS bisa dikembangkan untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Selain itu, bisa juga diinvestasikan untuk pembangunan infrastruktur yang membuka banyak lapangan kerja.

"Jadi tidak melanggar undang-undang kalau BPJS mengembangkan dananya melalui investasi," katanya.

Sementara, Dirut PT Askes Fachmi Idris menjelaskan nyawa dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah pengelolaan aset dan liabilitas (kesesuaian) agar dikelola dengan dengan baik. Pengelolaan dana yang berkelanjutan tersebut menentukan keberlanjutan badan.

"Pertanyaannya, (BPJS ini) mau hidup terus atau sementara waktu," kata Fachmi.

Badan yang kuat, ujarnya, harus mandiri dan hidup dari kemampuan pengelolaan dana sendiri. "Ke depan BPJS harus hidup dari dana kelola, bukan dari uang premi iuran," katanya.

Dia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 2.500 pegawai organik, kini menjadi 4.000 dan nanti akan jadi 6.000 karyawan. PT Askes juga menambah kantor cabang baru. Untuk itu diperlukan pengelolaan dana dari investasi agar bisa memberi kualitas kesejahteraan dan pengembangan perusahaan ke depan.

Di sisi lain muncul anggapan bahwa rancangan peraturan pemerintah tentang aset dan liabilitas dinilai tidak sesuai dengan semangat peraturan perundangan BPJS dan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Kondisi ini, menurut dia, harus didudukan pada porsinya dan dia juga berharap tidak terjadi pembuatan peraturan pelaksana di luar kelaziman (tidak melalui proses formal).
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Jadi...
BPJS Kesehatan Jadi Syarat Berbagai Pelayanan Publik, Berikut Penjelasannya
BPJS Ketenagakerjaan...
BPJS Ketenagakerjaan Berikan Kado Kemudahan Klaim Manfaat bagi PMI di Hari Migran Internasional
Target Cakupan BPJS...
Target Cakupan BPJS Ketenagakerjaan
Kerugian BPJS Ketenagakerjaan...
Kerugian BPJS Ketenagakerjaan Capai Rp20 Triliun, Kejagung Dalami Upaya Kesengajaan
BPJS Ketenagakerjaan...
BPJS Ketenagakerjaan Dukung Grab dan Kementerian UMKM Hadirkan Bantalan Sosial Digital
BPJS Ketenagakerjaan...
BPJS Ketenagakerjaan Komitmen Perkuat Relasi Media dan Masyarakat
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
4 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
4 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
5 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
5 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
5 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved