Tenaga pilot bisa menjadi sumber devisa negara

Jum'at, 29 November 2013 - 19:19 WIB
Tenaga pilot bisa menjadi...
Tenaga pilot bisa menjadi sumber devisa negara
A A A
Sindonews.com - Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Yudhi Sari Sitompul mengemukakan terbatasnya jumlah pilot di Indonesia dan dunia, menjadi peluang bagi negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) besar seperti Indonesia. Gaji pilot yang tinggi di luar negeri bisa menjadi sumber devisa negara.

“Gaji pilot di luar cukup besar. Untuk yang sudah berpengalaman bisa mencapai 25 ribu dolar AS. Bayangkan jika ada ratusan atau ribuan pilot Indonesia bekerja di luar negeri. Ini membanggakan karena pekerjaannya bagus,” ungkap Yudhi dalam siaran pers, Jumat (29/11/2013).

Sayang, kebutuhan pilot yang besar tidak sebanding dengan sumber daya penerbang yang dihasilkan setiap tahun. Bahkan, maskapai penerbangan di Indonesia kekurangan pilot. Dampaknya pilot muda asing yang membutuhkan jam terbang banyak masuk ke Indonesia.

"Angka ini belum sebanding dengan kebutuhan pilot kita. Kami mencatat ada sekitar 500 pilot asing yang bekerja di sejumlah maskapai penerbangan Indonesia. Ini terjadi bukan karena masalah kualitas, tapi memang karena kita kekurangan SDM pilot," jelasnya.

Kepala Bidang Pelatihan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Capt Faber B Sitorus menambahkan, untuk menjadi pilot di maskapai penerbangan internasional tidak mudah, mereka harus memiliki jam terbang banyak.

"Untuk itu, para pilot baru dari luar negeri melamar ke sini untuk menambah jam terbang. Jika mereka tidak memiliki kesempatan terbang sulit diterima oleh maskapai asing," ujarnya.

Sitorus menjelaskan untuk meningkatkan kualitas pilot di Indonesia, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan produsen pesawat ternama, Boeing Co. Upaya ini diperlukan agar pilot-pilot Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi pesawat.

"Kita telah menjalin kerjasama dengan Boeing sejak 2012. Kami harapkan MoU dengan Boeing dapat terealisasi dalam pengembangan pilot pada 2014. Ini sangat baik, mengingat banyak maskapai penerbangan di dalam negeri yang akan mendatangkan pesawat Boeing baru," ujarnya.

Menurut Faber, pendidikan penerbangan di Indonesia sudah berstandar internasional dengan memiliki Pilot School Certificate (PSC) 141. Untuk menjaga kualitas pendidikan penerbangan, pihaknya juga memberangkatkan sejumlah tenaga pengajar ke luar negeri untuk mendapatkan pelatihan dan pendidikan.

Apalagi Pusbang Udara telah terdaftar sebagai Associate Member of Trainair Plus International Civil Aviation Organization (ICAO). Di mana para pengajar dan fasilitas pendidikan diaudit sesuai dengan standar lembaga pendidikan penerbangan internasional, serta para instruktur diwajibkan menguasai bahasa Inggris aktif.

"Selama ini, kualitas pilot di Indonesia tidak kalah dengan lulusan luar negeri. Bahkan, banyak lulusan penerbang kita yang telah berpengalaman bekerja di maskapai penerbangan luar negeri dengan gaji puluhan ribu dolar (USD). Namun, kita terus berusaha meningkatkan standar pengajar dan instruktur. Ini sangat penting untuk menjaga kualitas pendidikan," tegasnya.

Kepala Sub Bidang Standarisasi Pelatihan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Sigit Wijayanto menambahkan, untuk meningkatkan jam terbang para calon pilot dibutuhkan lapangan penerbangan khusus. Selama ini jam terbang para calon pilot sangat terbatas karena padatnya lalu lintas udara di Indonesia.

"Khusus di Curug kita tidak bisa menerbangkan pesawat sembarangan. Ini karena secara teknis kita harus berkoordinasi dengan ATC (air traffic control) di Bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta). Para penerbang harus mengikuti jadwal pesawat komersil yang padat. Sehingga kesempatan terbang sangat terbatas," terangnya.

Sebagai informasi, STPI Curug saat ini baru dapat mencetak 150 orang penerbang. Jumlah tersebut akan ditingkatkan agar mampu mencukupi kebutuhan pilot di Indonesia. Untuk itu, STPI telah menambah 18 pesawat latih Piper Warrior dan sedang mencari area pelatihan baru. Mengingat tingginya biaya pendidikan penerbangan, pemerintah memberikan subisidi bagi siswa-siswi terbaik untuk mendapatkan pendidikan pilot di lembaga tersebut.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kerja Sama Mendukung...
Kerja Sama Mendukung Pertumbuhan Industri Penerbangan Helikopter di Indonesia
Tekad Pelaku Industri...
Tekad Pelaku Industri Penerbangan Non-Airline Pasca Asian Sky Forum 2024
Software Autocad Hadirkan...
Software Autocad Hadirkan Teknologi Peta 3D untuk Penerbangan
Kapan Bisnis Penerbangan...
Kapan Bisnis Penerbangan Pulih? Ini Proyeksi Moody's
Industri Penerbangan...
Industri Penerbangan RI Diramal Masih Sempoyongan Tahun Ini
Ini Alasan Mengapa Jendela...
Ini Alasan Mengapa Jendela Pesawat Memiliki Bentuk Oval
Berita Terkini
1.500 Pekerja Tekstil...
1.500 Pekerja Tekstil Terancam Kena PHK, Said Iqbal Ungkap Lokasinya
24 menit yang lalu
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
9 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
9 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
9 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
10 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
10 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved