Pertamina dan PTTEP akuisisi aset Hess di RI
Senin, 02 Desember 2013 - 09:44 WIB
Pertamina dan PTTEP akuisisi aset Hess di RI
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energy (PHE) bersama dengan PTTEP Netherlands Holding Cooperatie U.A, anak perusahaan PTTEP telah menandatangani kesepakatan pembelian saham (share purchase agreement/SPA) untuk mengakuisisi anak usaha Hess di Indonesia.
Dengan demikian, Pertamina-PTTEP secara bersama menguasai 75 persen participating interest (hak pertisipasi) di Blok Pangkah dan 23 persen participating interest di Blok Natuna Sea A yang keduanya berada di wilayah offshore (lepas pantai).
"Akuisisi ini dilakukan secara bersama-sama antara Pertamina dan PTTEP dengan basis prosentase 50:50 untuk total nilai transaksi sekitar USD1,3 miliar. Waktu penyelesaian untuk transaksi ini akan dilaksanakan sesuai dengan beberapa syarat yang ditetapkan dalam SPA," kata VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam rilisnya, Senin (2/12/2013).
Dengan disepakatinya penandatanganan tersebut, maka secara otomatis menggugurkan rencana PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia (SEI) untuk membeli blok minyak dan gas bumi (migas) milik Hess Corporation.
Sebelumnya, Head of Corporate Comunication PGAS Ridha Ababil menerangkan, PT Saka Energi Indonesia (SEI) tengah mengikuti tender pembelian dua dari empat blok migas milik Hess yang berlokasi di Indonesia.
"Sedang dalam proses negosiasi. Yang kami ikut itu tentu yang sudah berproduksi," ujar Ridha, belum lama ini.
Pernyataan minat Pertamina dan PGAS atas aset milik Hess tersebut muncul setelah dalam pengumumannya, Satuan Kerja Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa Hess berniat melelang tiga dari empat blok, yakni Pangkah, Semai dan South Sesulu.
Bersama PGAS melalui PT Saka Energi Indonesia dan PT Pertamina melalui Pertamin Hulu Energy (PHE) turut ambil bagian dalam proses tender tersebut adalah PT Medco Energi International Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
PGAS telah memiliki 25 persen hak partisipasi atas blok Ujung Pangkah, dimana kala itu perseroan harus menggelontorkan dana investasi mencapai USD265 juta untuk membeli hak partisipasi dari Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company PSC (Kupfec).
Dengan kata lain, sebenarnya PGAS memiliki peluang sedikit lebih besar dibanding perusahaan saingannya yang sama-sama berminat pada blok migas dengan kapasitas produksi minyak mencapai 12.000 bph dan gas 50 juta kaki kubik per hari.
Di Indonesia, secara total Hess memiliki empat blok migas, yang meliputi Blok Ujung Pangkah Gresik, Blok Semai V di Papua Barat, Blok South Sesulu Kalimantan Timur dan Blok Timur Sea 1. Sementara, digelarnya tender penjualan merupakan bagian dari rencana Hess mencabut seluruh investasinya di Indonesia.
Blok Pangkah merupakan wilayah kerja yang terletak di bagian Timur Laut Jawa. Produksi saat ini sekitar 7.000 bph minyak/kondensat dan 33 juta kaki kubik per hari gas. Sementara itu, total cadangan terbukti dan potensi cadangan (2P) diperkirakan sekitar 110 juta barel setara minyak. Dengan akuisisi ini, maka Blok Pangkah secara otomatis akan dioperatori bersama oleh Pertamina dan PTTEP.
Adapun, Blok Natuna Sea A merupakan wilayah kerja gas yang terletak di Laut Natuna Barat, berdekatan dengan perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Produksi saat ini sekitar 145 MMscfd dari Lapangan Anoa, 75 MMscfd dari Gajah Baru dan 2.350 barel per hari minyak.
Total cadangan terbukti dan potensi cadangan (2P) diperkirakan sebesar 209 juta barel setara minyak. Adapun partner lain di Blok Natuna Sea A terdiri dari Premier Oil (operator), KUFPEC dan Petronas yang masing-masing menguasai hak partisipasi 28,67 persen, 33,33 persen dan 15 persen.
Akuisisi Blok Pangkah dan Natuna Sea A sejalan dengan strategi pertumbuhan Pertamina untuk mengakuisisi lebih banyak asset berproduksi yang dapat memberikan tambahan produksi dan cadangan.
Lebih dari itu, akuisisi ini juga akan terus memperkuat posisi Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional Indonesia. Pertamina menargetkan untuk menjadi pemain hulu migas yang dominan di domestik pada 2015 dan memperluas ekspansi internasionalnya.
Pada tahun 2025, produksi Pertamina diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel setara minyak per hari yang akan berasal dari operasi domestik dan luar negeri dalam proporsi yang seimbang.
Pertamina optimistis kerja sama antara Pertamina dan PTTEP yang masing-masing memiliki pengalaman operasional yang kuat akan berkontribusi pada kesuksesan dalam pelaksanaan akuisisi tersebut.
Dengan demikian, Pertamina-PTTEP secara bersama menguasai 75 persen participating interest (hak pertisipasi) di Blok Pangkah dan 23 persen participating interest di Blok Natuna Sea A yang keduanya berada di wilayah offshore (lepas pantai).
"Akuisisi ini dilakukan secara bersama-sama antara Pertamina dan PTTEP dengan basis prosentase 50:50 untuk total nilai transaksi sekitar USD1,3 miliar. Waktu penyelesaian untuk transaksi ini akan dilaksanakan sesuai dengan beberapa syarat yang ditetapkan dalam SPA," kata VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam rilisnya, Senin (2/12/2013).
Dengan disepakatinya penandatanganan tersebut, maka secara otomatis menggugurkan rencana PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia (SEI) untuk membeli blok minyak dan gas bumi (migas) milik Hess Corporation.
Sebelumnya, Head of Corporate Comunication PGAS Ridha Ababil menerangkan, PT Saka Energi Indonesia (SEI) tengah mengikuti tender pembelian dua dari empat blok migas milik Hess yang berlokasi di Indonesia.
"Sedang dalam proses negosiasi. Yang kami ikut itu tentu yang sudah berproduksi," ujar Ridha, belum lama ini.
Pernyataan minat Pertamina dan PGAS atas aset milik Hess tersebut muncul setelah dalam pengumumannya, Satuan Kerja Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa Hess berniat melelang tiga dari empat blok, yakni Pangkah, Semai dan South Sesulu.
Bersama PGAS melalui PT Saka Energi Indonesia dan PT Pertamina melalui Pertamin Hulu Energy (PHE) turut ambil bagian dalam proses tender tersebut adalah PT Medco Energi International Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
PGAS telah memiliki 25 persen hak partisipasi atas blok Ujung Pangkah, dimana kala itu perseroan harus menggelontorkan dana investasi mencapai USD265 juta untuk membeli hak partisipasi dari Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company PSC (Kupfec).
Dengan kata lain, sebenarnya PGAS memiliki peluang sedikit lebih besar dibanding perusahaan saingannya yang sama-sama berminat pada blok migas dengan kapasitas produksi minyak mencapai 12.000 bph dan gas 50 juta kaki kubik per hari.
Di Indonesia, secara total Hess memiliki empat blok migas, yang meliputi Blok Ujung Pangkah Gresik, Blok Semai V di Papua Barat, Blok South Sesulu Kalimantan Timur dan Blok Timur Sea 1. Sementara, digelarnya tender penjualan merupakan bagian dari rencana Hess mencabut seluruh investasinya di Indonesia.
Blok Pangkah merupakan wilayah kerja yang terletak di bagian Timur Laut Jawa. Produksi saat ini sekitar 7.000 bph minyak/kondensat dan 33 juta kaki kubik per hari gas. Sementara itu, total cadangan terbukti dan potensi cadangan (2P) diperkirakan sekitar 110 juta barel setara minyak. Dengan akuisisi ini, maka Blok Pangkah secara otomatis akan dioperatori bersama oleh Pertamina dan PTTEP.
Adapun, Blok Natuna Sea A merupakan wilayah kerja gas yang terletak di Laut Natuna Barat, berdekatan dengan perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Produksi saat ini sekitar 145 MMscfd dari Lapangan Anoa, 75 MMscfd dari Gajah Baru dan 2.350 barel per hari minyak.
Total cadangan terbukti dan potensi cadangan (2P) diperkirakan sebesar 209 juta barel setara minyak. Adapun partner lain di Blok Natuna Sea A terdiri dari Premier Oil (operator), KUFPEC dan Petronas yang masing-masing menguasai hak partisipasi 28,67 persen, 33,33 persen dan 15 persen.
Akuisisi Blok Pangkah dan Natuna Sea A sejalan dengan strategi pertumbuhan Pertamina untuk mengakuisisi lebih banyak asset berproduksi yang dapat memberikan tambahan produksi dan cadangan.
Lebih dari itu, akuisisi ini juga akan terus memperkuat posisi Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional Indonesia. Pertamina menargetkan untuk menjadi pemain hulu migas yang dominan di domestik pada 2015 dan memperluas ekspansi internasionalnya.
Pada tahun 2025, produksi Pertamina diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel setara minyak per hari yang akan berasal dari operasi domestik dan luar negeri dalam proporsi yang seimbang.
Pertamina optimistis kerja sama antara Pertamina dan PTTEP yang masing-masing memiliki pengalaman operasional yang kuat akan berkontribusi pada kesuksesan dalam pelaksanaan akuisisi tersebut.
(rna)
Lihat Juga :