Makassar alami inflasi tertinggi di Sulsel
Senin, 02 Desember 2013 - 18:14 WIB
Makassar alami inflasi tertinggi di Sulsel
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis, Kota Makassar mengalami laju inflasi tertinggi jika dibanding dengan dua tahun sebelumnya.
Saat ini, laju inflasi di Kota Makassar secara year on year mencapai 6,02 persen. Sementara, pada 2012 hanya 4,71 persen atau terkoreksi 1,31 persen. Sedang 2011, pencapaian Makassar lebih baik lagi, di mana inflasi hanya 3,26 persen.
Kepala BPS Sulsel, Nursalam Dalle mengatakan, laju inflasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling memengaruhi adalah sektor transportasi dengan 11,63 persen disusul faktor umum seperti kesehatan dan pendidikan dengan 5,35 persen. Faktor selanjutnya adalah sektor perumahan dengan 5,29 persen, bahan makanan 4,7 persen, dan makanan jadi 4,05 persen.
"Laju inflasi year on year November 2013 memang yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, inflasi tahun kalender juga menunjukkan grafik serupa, di mana 2013 mencapai 5,35, 2012 mencapai 3,91 dan 2011 hanya 2,08," ujarnya saat menjelaskan perkembangan inflasi Sulsel di kantor BPS, Senin (2/12/2013).
Meski Kota Makassar mengalami inflasi tinggi, namun secara umum Provinsi Sulawesi selatan mengalami deflasi sebesar -0,67 persen yang disebabkan turunya harga-harga komoditi.
Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Hamid Paddu mengungkapkan, berbagai upaya harus dilakukan untuk mengatasi inflasi baik dari aspek moneter dan fiskal, termasuk di dalamnya intervensi Bank Indonesia (BI).
Meningkatnya laju inflasi, kata dia, dipengaruhi impor bahan makanan tertentu seperti kedelai yang masih dominan. "Kita memang masih sangat tergantung secara internasional. Makanya harus ada upaya untuk menekan impor tersebut," katanya.
Situasi lain, karena naiknya suku bunga acuan sampai tiga kali dalam setahun ini. Kenaikan BI Rate akan mendorong kenaikan suku bunga perbankan yang memicu peningkatan biaya produksi.
"Suku bunga naik ditambah kebijakan Loan To Value (LTV) maka biaya operasional perumahan naik, harga propert makin tinggi," ujarnya.
Hamid juga tidak menyangsikan jika transportasi menjadi pendorong utama tingkat inflasi di kota Makassar. Penyebabnya, pertumbuhan ekonomi Makassar yang cukup tinggi, tapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur dan logistik yang memamadai.
Karena itu, ujar dia, pemerintah harus mendorong perbaikan sektor riil, sektor pertanian dan percepatan transportasi massal seperti busway dan monorel.
"Ini adalah kunci pembangunan dalam lima tahun ke depan. Tanpa petumbuhan jalan dan perbaikan transportasi massal maka inflasi sulit diatasi," pungkasnya.
Saat ini, laju inflasi di Kota Makassar secara year on year mencapai 6,02 persen. Sementara, pada 2012 hanya 4,71 persen atau terkoreksi 1,31 persen. Sedang 2011, pencapaian Makassar lebih baik lagi, di mana inflasi hanya 3,26 persen.
Kepala BPS Sulsel, Nursalam Dalle mengatakan, laju inflasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling memengaruhi adalah sektor transportasi dengan 11,63 persen disusul faktor umum seperti kesehatan dan pendidikan dengan 5,35 persen. Faktor selanjutnya adalah sektor perumahan dengan 5,29 persen, bahan makanan 4,7 persen, dan makanan jadi 4,05 persen.
"Laju inflasi year on year November 2013 memang yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, inflasi tahun kalender juga menunjukkan grafik serupa, di mana 2013 mencapai 5,35, 2012 mencapai 3,91 dan 2011 hanya 2,08," ujarnya saat menjelaskan perkembangan inflasi Sulsel di kantor BPS, Senin (2/12/2013).
Meski Kota Makassar mengalami inflasi tinggi, namun secara umum Provinsi Sulawesi selatan mengalami deflasi sebesar -0,67 persen yang disebabkan turunya harga-harga komoditi.
Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Hamid Paddu mengungkapkan, berbagai upaya harus dilakukan untuk mengatasi inflasi baik dari aspek moneter dan fiskal, termasuk di dalamnya intervensi Bank Indonesia (BI).
Meningkatnya laju inflasi, kata dia, dipengaruhi impor bahan makanan tertentu seperti kedelai yang masih dominan. "Kita memang masih sangat tergantung secara internasional. Makanya harus ada upaya untuk menekan impor tersebut," katanya.
Situasi lain, karena naiknya suku bunga acuan sampai tiga kali dalam setahun ini. Kenaikan BI Rate akan mendorong kenaikan suku bunga perbankan yang memicu peningkatan biaya produksi.
"Suku bunga naik ditambah kebijakan Loan To Value (LTV) maka biaya operasional perumahan naik, harga propert makin tinggi," ujarnya.
Hamid juga tidak menyangsikan jika transportasi menjadi pendorong utama tingkat inflasi di kota Makassar. Penyebabnya, pertumbuhan ekonomi Makassar yang cukup tinggi, tapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur dan logistik yang memamadai.
Karena itu, ujar dia, pemerintah harus mendorong perbaikan sektor riil, sektor pertanian dan percepatan transportasi massal seperti busway dan monorel.
"Ini adalah kunci pembangunan dalam lima tahun ke depan. Tanpa petumbuhan jalan dan perbaikan transportasi massal maka inflasi sulit diatasi," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :