IHSG diprediksi miliki peluang menguat
Selasa, 03 Desember 2013 - 08:48 WIB
IHSG diprediksi miliki peluang menguat
A
A
A
Sindonews.com - Adanya rilis inflasi dan neraca perdagangan yang cenderung tidak terlalu tinggi dibanding data pada bulan yang sama tahun-tahun sebelumnya telah memberikan amunisi baru pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk kembali bergerak positif.
"Meski rilis inflasi tersebut lebih tinggi dari perkiraan kami sebelumnya, namun tidak terlalu tingginya angka inflasi membuat pelaku pasar tidak menanggapinya terlalu negatif," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (3/12/2013).
Selain itu, rilis neraca perdagangan yang surplus dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit cukup tinggi telah menjadi sentimen positif yang dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali masuk, meskipun laju bursa saham Asia tampak variatif cenderung melemah tipis.
"Laju rupiah yang mengalami penguatan turut menambah sentimen positif yang ada," ujar Reza.
Khusus untuk perdagangan hari ini, Reza memproyeksikan IHSG akan berada pada support 4.250-4.285 dan resistance 4.340-4.345.
Bila dibandingkan dengan lajunya pada perdagangan kemarin, tampak sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.331,59 (level tertingginya) jelang preclosing dan menyentuh level 4.265,60 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.321,98.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Laju IHSG sempat berada di atas kisaran target resisten 4.267-4.270 seiring dengan meningkatnya aksi beli seiring adanya sentimen positif. Diharapkan sentimen ini dapat terjaga meskipun kenaikan ini membentuk adanya gap 4.256-4.265," ujar Reza.
Dari luar negeri, jelang akhir pekan, laju bursa saham Asia variatif cenderung melemah seiring penurunan saham-saham produsen minyak pasca sentimen pelemahan harga kontrak minyak karena merespon kenaikan cadangan minyak AS.
Adanya rilis positif kenaikan manufacturing production dan retail sales Korea Selatan yang dibarengi dengan rilis kenaikan tipis manufacturing PMI Jepang belum cukup dapat menopang kenaikan bursa saham Asia karena terhalangi oleh rilis rendahnya household spending dan inflasi Jepang.
Pasca libur Thanksgiving, laju bursa saham AS cenderung melemah setelah di awal sesi sempat menguat tipis. Tidak adanya data-data yang dirilis membuat pelaku pasar kembali menahan diri sambil menunggu rilis data-data ekonomi yang akan dirilis pekan depan dan kepastian akan jadi tidaknya tapering off mulai diberlakukan pada Desember 2013 nanti.
"Meski rilis inflasi tersebut lebih tinggi dari perkiraan kami sebelumnya, namun tidak terlalu tingginya angka inflasi membuat pelaku pasar tidak menanggapinya terlalu negatif," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (3/12/2013).
Selain itu, rilis neraca perdagangan yang surplus dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit cukup tinggi telah menjadi sentimen positif yang dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali masuk, meskipun laju bursa saham Asia tampak variatif cenderung melemah tipis.
"Laju rupiah yang mengalami penguatan turut menambah sentimen positif yang ada," ujar Reza.
Khusus untuk perdagangan hari ini, Reza memproyeksikan IHSG akan berada pada support 4.250-4.285 dan resistance 4.340-4.345.
Bila dibandingkan dengan lajunya pada perdagangan kemarin, tampak sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.331,59 (level tertingginya) jelang preclosing dan menyentuh level 4.265,60 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.321,98.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Laju IHSG sempat berada di atas kisaran target resisten 4.267-4.270 seiring dengan meningkatnya aksi beli seiring adanya sentimen positif. Diharapkan sentimen ini dapat terjaga meskipun kenaikan ini membentuk adanya gap 4.256-4.265," ujar Reza.
Dari luar negeri, jelang akhir pekan, laju bursa saham Asia variatif cenderung melemah seiring penurunan saham-saham produsen minyak pasca sentimen pelemahan harga kontrak minyak karena merespon kenaikan cadangan minyak AS.
Adanya rilis positif kenaikan manufacturing production dan retail sales Korea Selatan yang dibarengi dengan rilis kenaikan tipis manufacturing PMI Jepang belum cukup dapat menopang kenaikan bursa saham Asia karena terhalangi oleh rilis rendahnya household spending dan inflasi Jepang.
Pasca libur Thanksgiving, laju bursa saham AS cenderung melemah setelah di awal sesi sempat menguat tipis. Tidak adanya data-data yang dirilis membuat pelaku pasar kembali menahan diri sambil menunggu rilis data-data ekonomi yang akan dirilis pekan depan dan kepastian akan jadi tidaknya tapering off mulai diberlakukan pada Desember 2013 nanti.
(rna)
Lihat Juga :