IHSG hari ini diprediksi tak bergairah
Rabu, 04 Desember 2013 - 08:35 WIB
IHSG hari ini diprediksi tak bergairah
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, Indeks harga Saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini akan berada pada support 4.250-4.275 dan resistance 4.295-4.325.
"Laju IHSG kurang bergairah setelah merespon data-data makro ekonomi Indonesia dan diprediksikan pada perdagangan hari ini IHSG masih belum bisa bernafas di zona hijau," kata Reza, Rabu (4/12/2013).
Minimnya sentimen positif masih akan menekan IHSG ke zona merah. Sentimen dari makro ekonomi yang hanya sesaat ditanggapi para pelaku pasar yang kembali pada realita, dimana kembali wait and see terhadap rilis rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan FOMC.
Bila melihat lajunya secara historikal, terlihat sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.320,06 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.269,35 (level terendahnya) jelang akhir sesi 1 dan berakhir di level 4.288,76.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Laju IHSG sempat berada dalam kisaran target support (4.250-4.285) seiring kembalinya aksi jual yang terjadi. Meski berharap akan terjadinya rebound, namun belum tertutupinya gap 4.256-4.265 dimungkinkan membuat laju IHSG kembali melemah terbatas," papar Reza
Pasca mengalami kenaikan setelah merespon data-data makro ekonomi Indonesia, tampaknya laju IHSG kurang bergairah yang terlihat sejak awal sesi perdagangan kemarin terus menunjukkan pelemahannya. Sentimen dari makro ekonomi terlihat hanya sesaat.
Di sisi lain, laju bursa saham Asia yang memerah terimbas pelemahan bursa saham AS sebelumnya membuat IHSG terperangkap dalam aura negatif, sehingga terpaksa berbalik melemah.
"Padahal pelemahan IHSG terjadi saat laju rupiah sedang bergerak menguat," ujar Reza.
Dari luar negeri, kembalinya sentimen tapering off yang kemungkinan mulai diberlakukan pada bulan ini telah membuat laju bursa saham Asia masih mendekam di zona merahnya.
Apalagi dengan dirilisnya markit manufacturing PMI AS yang naik sebesar 54,7 vs 51,8 dan kenaikan ISM manufacturing index senilai 57,3 vs 56,4 membuat spekulasi akan terjadinya tapering off kian besar.
"Laju IHSG kurang bergairah setelah merespon data-data makro ekonomi Indonesia dan diprediksikan pada perdagangan hari ini IHSG masih belum bisa bernafas di zona hijau," kata Reza, Rabu (4/12/2013).
Minimnya sentimen positif masih akan menekan IHSG ke zona merah. Sentimen dari makro ekonomi yang hanya sesaat ditanggapi para pelaku pasar yang kembali pada realita, dimana kembali wait and see terhadap rilis rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan FOMC.
Bila melihat lajunya secara historikal, terlihat sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.320,06 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.269,35 (level terendahnya) jelang akhir sesi 1 dan berakhir di level 4.288,76.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
"Laju IHSG sempat berada dalam kisaran target support (4.250-4.285) seiring kembalinya aksi jual yang terjadi. Meski berharap akan terjadinya rebound, namun belum tertutupinya gap 4.256-4.265 dimungkinkan membuat laju IHSG kembali melemah terbatas," papar Reza
Pasca mengalami kenaikan setelah merespon data-data makro ekonomi Indonesia, tampaknya laju IHSG kurang bergairah yang terlihat sejak awal sesi perdagangan kemarin terus menunjukkan pelemahannya. Sentimen dari makro ekonomi terlihat hanya sesaat.
Di sisi lain, laju bursa saham Asia yang memerah terimbas pelemahan bursa saham AS sebelumnya membuat IHSG terperangkap dalam aura negatif, sehingga terpaksa berbalik melemah.
"Padahal pelemahan IHSG terjadi saat laju rupiah sedang bergerak menguat," ujar Reza.
Dari luar negeri, kembalinya sentimen tapering off yang kemungkinan mulai diberlakukan pada bulan ini telah membuat laju bursa saham Asia masih mendekam di zona merahnya.
Apalagi dengan dirilisnya markit manufacturing PMI AS yang naik sebesar 54,7 vs 51,8 dan kenaikan ISM manufacturing index senilai 57,3 vs 56,4 membuat spekulasi akan terjadinya tapering off kian besar.
(rna)
Lihat Juga :