Paket Bali di WTO hanya janji kosong

Jum'at, 06 Desember 2013 - 19:11 WIB
Paket Bali di WTO hanya...
Paket Bali di WTO hanya janji kosong
A A A
Sindonews.com - Paket Bali yang didengungkan di ajang Konferensi Tingkat Menteri KTM ke-9 Wolrd Trade Organization (WTO) di Nusa Dua, Bali dinilai hanya janji-janji kosong untuk negera miskin.

Menurut Direktur Eksekutif lembaga think-tank Focus on the Global South, Pablo Solon, "Paket Bali" menjadikan fasilitas perdagangan sebuah perjanjian yang mengikat, demi pembukaan perbatasan untuk produk perusahaan besar transnasional (TNCs).

"Paket Bali juga membuat janji-janji kosong untuk negara miskin (LDCs) dan usulan 'peace clause' yang luar biasa buruk untuk pertanian," ulas dia dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/12/2013).

Menurutnya, tidak ada yang berguna dipetik dari pertemuan WTO untuk rakyat. Setelah 18 tahun, sambung dia, WTO tidak pernah mewujudkan janjinya dalam pembangunan.

"Yang terjadi, ketimpangan terus direproduksi dan kemakmuran terkonsentrasi pada segelintir orang," ujar Josua Mata selaku Sekretaris Jenderal SENTRO, aliansi buruh di Filipina.

Diketahui, menurut World Trade Report tahun 2013, 81 persen ekspor terkonsentrasi di lima perusahaan ekspor-impor terbesar.

Hal tak jauh beda disampaikan Jean Enriquez dari organisasi World March of Women bahwa WTO telah mati suri selama 12 tahun dan negara serta masyarakat internasional harus menerima bahwa lembaga ini telah gagal dan kehilangan legitimasinya.

"Hari ini, WTO mencoba bangkit kembali dari kematian mereka, mengembalikan kredibilitasnya dengan Paket Bali yang mengancam masa depan kita semua," tutur Cindy Wiesner dari Grassroots Global Justice Alliance.

Pertanian tidak bisa dimasukkan dalam negosiasi perdagangan bebas, karena pangan bukan sekadar komoditas. "Semua negara harus punya tanggung jawab untuk menggunakan segala cara untuk menjamin kedaulatan pangan rakyatnya," kata Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, juga pemimpin di La Via Campesina, gerakan petani internasional dengan anggota lebih 200 juta orang di 85 negara.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengusaha Bersama Pemerintah...
Pengusaha Bersama Pemerintah Siap Hadapi Uni Eropa dan WTO
Daftar Negara Berkembang...
Daftar Negara Berkembang di Dunia: China Termasuk?
Kandidat dari Saudi:...
Kandidat dari Saudi: Perbaiki WTO Butuh Manajemen dan Kepemimpinan
Perseteruan Indonesia...
Perseteruan Indonesia dengan Brasil Soal Daging Ayam Masuki Babak Baru
Diam-diam China dan...
Diam-diam China dan Australia Tarung di WTO, Geger Soal Tarif Impor Wine
Dibayangi Resesi, WTO...
Dibayangi Resesi, WTO Ungkap Faktor Pendorong Perdagangan Global
Berita Terkini
Menteri Dody Akui Mutasi...
Menteri Dody Akui Mutasi Pejabat PU, Tapi Tepis karena Bocornya Surat Perjalanan ke AS
30 menit yang lalu
Sering Kena Zonk & Trauma...
Sering Kena Zonk & Trauma Promo PHP Saat Belanja Online? Resep Ini Dijamin Bikin Happy
59 menit yang lalu
Purbaya Tepis Main-main...
Purbaya Tepis Main-main soal Tarik Ulur Dana SAL Rp400 Triliun di Bank BUMN
1 jam yang lalu
Mengulik Pemicu Fenomena...
Mengulik Pemicu Fenomena Financial Anxiety dan Lipstick Effect di Tengah Tekanan Ekonomi
2 jam yang lalu
BCA Perkuat Platform...
BCA Perkuat Platform Digital, Transaksi Nasabah Melalui Kanal Digital Tembus 99,8%
2 jam yang lalu
Koperasi Boleh Kelola...
Koperasi Boleh Kelola Tambang, Menkop Ferry: Sebaiknya Bukan Kopdes Merah Putih
2 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved