Pertamina masih membutuhkan dana untuk infrastruktur

Rabu, 11 Desember 2013 - 17:55 WIB
Pertamina masih membutuhkan...
Pertamina masih membutuhkan dana untuk infrastruktur
A A A
Sindonews.com – Peneliti dari Pusat Studi Energi Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan saat ini PT Pertamina (Persero) masih membutuhkan dana untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengolahan gas elpiji sehingga bisa mencapai efisiensi.

“Jika pengolahan gas elpiji dapat efisien, sesungguhnya Pertamina tidak harus menaikan harga gas elpiji, sehingga tidak perlu lagi menambah beban masyarakat pengguna gas elpiji,” kata Fahmy dalam keterangan rilisnya di Jakarta, Rabu (11/12/2013).

Seperti diketahui, setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL) selama 2013, beban masyarakat tampaknya akan bertambah semakin berat sehubungan dengan rencana penaikan harga gas elpiji 12 kilogram (kg) pada awal 2014. Kenaikan harga elpiji 12 kg tidak dapat ditunda-tunda lagi lantaran Pertamina sudah menanggung kerugian dalam jumlah yang besar pada setiap tahunnya jika harga tidak segera dinaikan.

“Kerugian Pertamina semakin membengkak seiring dengan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp12.000 per satu dolar AS karena Pertamina masih harus mengimpor lebih dari 50 persen dari total kebutuhan gas elpiji dalam negeri,” tandasnya.

Tingginya volume impor itu, kata dia, mengindikasikan bahwa produksi pengolahan gas elpiji oleh Pertamina dinilai tidak efisien karena volume produksi tidak mencapai kapasitas ekonomi (economic of scale) sehingga membengkakan biaya produksi. Kalau setiap tahun Pertamina menyalurkan tak kurang dari 900 ribu ton gas elpiji 12 kg kepada masyarakat, dapat dipastikan kerugian Pertamina mencapai hampir Rp5 triliun per tahun.

“Inefisiensi produksi gas elpiji tersebut salah satunya dipicu oleh ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai. Sangat wajar kalau kapasitas ekonomi pengolahan gas elpiji tidak pernah tercapai sehingga tidak efisien, yang unjung-ujung membengkakan biaya produksi,” tegas dia.

Dalam kondisi tersebut, menurutnya, satu-satunya upaya untuk menutup kerugian yang diderita Pertamina hanyalah melalui penaikan harga jual. Kalau harga jadi dinaikan, sudah dapat dipastikan akan semakin memberatkan beban bagi masyarakat pengguna gas elpiji 12 kg.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Petani Mendapat Sosialisasi...
Petani Mendapat Sosialisasi Keamanan Seiring Gas JTB Mulai Dialirkan
Pertamina Mulai Berlakukan...
Pertamina Mulai Berlakukan Transaksi Non Tunai
Penjualan Kondensat...
Penjualan Kondensat Pertamina EP Subang Field
Pertamina EP Donggi...
Pertamina EP Donggi Matindok Field Dorong Perekonomian Kelompok Wanita Banggai
PEP Prabumulih Field...
PEP Prabumulih Field Dukung Gerakan Ketahanan Pangan
Restrukturisasi Pertamina...
Restrukturisasi Pertamina Ditegaskan Sesuai Buku Putih dan Roadmap BUMN
Berita Terkini
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
16 menit yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
47 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
1 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
2 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
2 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
3 jam yang lalu
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved