Wamen ESDM akui RI tak memiliki strategi riset energi
Senin, 16 Desember 2013 - 17:24 WIB
Wamen ESDM akui RI tak memiliki strategi riset energi
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia saat ini tidak memiliki strategi riset tentang energi. Hal inilah yang menjadi alasan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia dianggap masih belum berdaulat.
Hal ini diakui oleh Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo saat ditemui di UGM, Senin (16/12/2013). Susilo mengatakan, Indonesia membutuhkan strategi riset pengelolaan ESDM guna menyusun strategi pelaksanaan akses Bahan Bakar Minyak (BBM) agar dapat dinikmati semua rakyat.
Selain itu, kemampuan Indonesia untuk mendapatkan energi tambahan pun dapat terpetakan. "Kalau ibarat sedang perang, kita ini 3-4 hari pasti akan meninggal karena tidak punya strategi. Karenanya kami memprovokasi para akademisi untuk membantu pemerintah merumuskan strategi energi nasional," imbuhnya.
Susilo mengakui, sulitnya menambah jumlah produksi BBM saat ini. Padahal, jika Indonesia mampu meniadakan impor BBM, negara bisa menghemat triliunan rupiah dana subsidi untuk kesejahteraan rakyat di sektor lain. "Siapa sangka jika subaidi BBM kita saat ini mencapai Rp500 miliar per hari," katanya.
Mengatasi hal tersebut, Kementerian ESDM saat ini terus berupaya menyusun berbagai program dan rencana strategis. Mulai dari mengurangi ketergantungan impor, penghematan BBM agar dapat menurunkan jumlah konsumsi, hingga upaya pengalihan BBM ke BBG.
"Saat ini PLN tidak lagi boleh membangkitkan listrik dengan energi diesel. Selain itu biodiesel juga harus terus digalakkan. Dengan kapasitas biodiesel kita yang mencapai 100 ribu barel per hari diharapkan dapat mengurangi impor BBM," terang Susilo.
Menurut dia, salah satu jalan membangkitkan kembali kejayaan Indonesia adalah melalui ESDM. Sebagai negara kaya, Indonesia memiliki semua potensi energi. Yang belum dimiliki Indonesia sebagai bangsa adalah rasa kebersamaan.
"Kalau semua berpikir untuk negara, impian Indonesia akan menjadi negara berdaulat di semua sektor bisa tercapai," pungkas Wamen ESDM.
Hal ini diakui oleh Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo saat ditemui di UGM, Senin (16/12/2013). Susilo mengatakan, Indonesia membutuhkan strategi riset pengelolaan ESDM guna menyusun strategi pelaksanaan akses Bahan Bakar Minyak (BBM) agar dapat dinikmati semua rakyat.
Selain itu, kemampuan Indonesia untuk mendapatkan energi tambahan pun dapat terpetakan. "Kalau ibarat sedang perang, kita ini 3-4 hari pasti akan meninggal karena tidak punya strategi. Karenanya kami memprovokasi para akademisi untuk membantu pemerintah merumuskan strategi energi nasional," imbuhnya.
Susilo mengakui, sulitnya menambah jumlah produksi BBM saat ini. Padahal, jika Indonesia mampu meniadakan impor BBM, negara bisa menghemat triliunan rupiah dana subsidi untuk kesejahteraan rakyat di sektor lain. "Siapa sangka jika subaidi BBM kita saat ini mencapai Rp500 miliar per hari," katanya.
Mengatasi hal tersebut, Kementerian ESDM saat ini terus berupaya menyusun berbagai program dan rencana strategis. Mulai dari mengurangi ketergantungan impor, penghematan BBM agar dapat menurunkan jumlah konsumsi, hingga upaya pengalihan BBM ke BBG.
"Saat ini PLN tidak lagi boleh membangkitkan listrik dengan energi diesel. Selain itu biodiesel juga harus terus digalakkan. Dengan kapasitas biodiesel kita yang mencapai 100 ribu barel per hari diharapkan dapat mengurangi impor BBM," terang Susilo.
Menurut dia, salah satu jalan membangkitkan kembali kejayaan Indonesia adalah melalui ESDM. Sebagai negara kaya, Indonesia memiliki semua potensi energi. Yang belum dimiliki Indonesia sebagai bangsa adalah rasa kebersamaan.
"Kalau semua berpikir untuk negara, impian Indonesia akan menjadi negara berdaulat di semua sektor bisa tercapai," pungkas Wamen ESDM.
(izz)
Lihat Juga :