Faktor risiko ini patut dicermati pelaku ekonomi

Kamis, 02 Januari 2014 - 10:17 WIB
Faktor risiko ini patut...
Faktor risiko ini patut dicermati pelaku ekonomi
A A A
Sindonews.com - Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) Boediono mengatakan, setidaknya ada empat faktor risiko yang harus dicermati oleh pelaku ekonomi, khususnya pasar modal Tanah Air pada tahun ini.

Pertama, kata Boediono adalah faktor likuiditas, di samping adanya kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), salah satunya akan mulai melakukan pemangkasan pembelian obligasi mulai Januari 2014.

Adapun, faktor kedua yang juga patut di antisipasi adalah harga minyak dunia. Pasalnya, naiknya harga minyak dunia akan memberikan tekanan yang lebih tinggi terhadap neraca perdagangan RI lantaran Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.

"Harga minyak menjadi salah satu variabel yang penting bagi perekonomian Tanah Air. Hal ini patut dicermati oleh kita semua," kata Boediono di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/1/2014).

Lebih lanjut Boediono menuturkan bahwa faktor ketiga yang harus di waspadai adalah pergerakan harga bahan makanan. Menurut dia, inflasi di Indonesia, determinan utamanya bukan moneter seperti di negara lain.

"Justru dari sisi supply dan terutama pada bahan kebutuhan pokok. Sangat penting untuk menjaga harga kebutuhan pokok ini untuk mengendalikan inflasi," tutur dia.

Faktor terakhir dan paling penting, kata Boediono adalah perihal dampak dari penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) tahun 2014 yang sedianya akan menjadi agenda utama tahun ini.

"Tahun politik tentunya juga berpengaruh ke perekonomian kita," ujar dia.

Terkait efek pemilu terhadap pasar modal, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang sebelumnya memprediksi, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2014 akan terus melemah hingga pemilu berakhir.

"Pemilu 2014 memiliki pola yang sama dengan pemilu 2004, yang tidak bisa dipastikan siapa majority party-nya dan siapa presidennya, sehingga akan terjadi fluktuasi di bulan April, Mei dan Juli," ujar dia.

Namun setelah bulan Juli, Edwin memperkirakan, pasar saham akan bergerak naik. Jika memakai skenario konservatif, dia memprediksi, inflasi tahun ini sebesar 5 persen, BI Rate 8 persen, current account decisit 2,6-2,7 persen, nilai tukar rupiah sekitar Rp10.500-12.200/USD dan IHSG dalam kisaran 4.735-an.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Berita Terkini
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
27 menit yang lalu
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
45 menit yang lalu
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
1 jam yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
2 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
3 jam yang lalu
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
3 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved