Revisi kenaikan gas tetap beratkan masyarakat
Senin, 06 Januari 2014 - 21:27 WIB
Revisi kenaikan gas tetap beratkan masyarakat
A
A
A
Sindonews.com - PT Pertamina (Persero) akhirnya merevisi kenaikan harga elpiji 12 kilogram (kg) menjadi Rp1.000 per kg. Sebelumnya, Pertamina telah memutuskan untuk menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp3.959 per kg mulai 1 Januari 2014.
Meskipun demikian, dampak terbesar kenaikan tersebut sebelumnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Kelas menengah ke bawah menjadi lapisan masyarakat yang harus menanggung kerugian Pertamina.
“Kenaikan elpiji 12 kg akan memberatkan UMKM dan rumah tangga. Saya rasa tidak fair jika dulu pemerintah menganjurkan penggunaan gas namun kini harga gas sangat tinggi,” kata mantan Kepala Auditorat Pemeriksaan BUMN Tiurlan Simatupang dalam keterangan resminya, Senin (6/1/2014).
Menurutnya, dengan situasi geliat usaha kecil dan menengah di Indonesia sedang berkembang maka keputusan menaikkan harga gas nonsubsidi akan menghadirkan instabilisasi bagi ekonomi Indonesia.
“Coba perhatikan rumah makan di Jakarta, mereka salah satu konsumen elpiji 12 kg. Ini akan mempengaruhi omzet mereka,” ujar Tiur.
Selain itu, lanjut Tiur, kebutuhan pokok rumah tangga juga akan terpengaruh kenaikan ini. Salah satu penyebab melambungnya harga elpiji 12 kg adalah belum adanya mekanisme harga jual di tingkat eceran dari Pertamina. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga di beberapa tempat mencapai 100 persen.
Sebelumnya, Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, kenaikan harga elpiji 12 kg adalah kewenangan Pertamina. “Namun di dalam Pertamina itu ada pemegang saham, jadi pemegang saham putuskan kenaikan itu terlalu tinggi, jadi kenaikannya Rp1.000 per kg,” kata Dahlan di Kantor BPK, Jakarta.
Meskipun demikian, dampak terbesar kenaikan tersebut sebelumnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Kelas menengah ke bawah menjadi lapisan masyarakat yang harus menanggung kerugian Pertamina.
“Kenaikan elpiji 12 kg akan memberatkan UMKM dan rumah tangga. Saya rasa tidak fair jika dulu pemerintah menganjurkan penggunaan gas namun kini harga gas sangat tinggi,” kata mantan Kepala Auditorat Pemeriksaan BUMN Tiurlan Simatupang dalam keterangan resminya, Senin (6/1/2014).
Menurutnya, dengan situasi geliat usaha kecil dan menengah di Indonesia sedang berkembang maka keputusan menaikkan harga gas nonsubsidi akan menghadirkan instabilisasi bagi ekonomi Indonesia.
“Coba perhatikan rumah makan di Jakarta, mereka salah satu konsumen elpiji 12 kg. Ini akan mempengaruhi omzet mereka,” ujar Tiur.
Selain itu, lanjut Tiur, kebutuhan pokok rumah tangga juga akan terpengaruh kenaikan ini. Salah satu penyebab melambungnya harga elpiji 12 kg adalah belum adanya mekanisme harga jual di tingkat eceran dari Pertamina. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga di beberapa tempat mencapai 100 persen.
Sebelumnya, Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, kenaikan harga elpiji 12 kg adalah kewenangan Pertamina. “Namun di dalam Pertamina itu ada pemegang saham, jadi pemegang saham putuskan kenaikan itu terlalu tinggi, jadi kenaikannya Rp1.000 per kg,” kata Dahlan di Kantor BPK, Jakarta.
(gpr)
Lihat Juga :