Rupiah diprediksi masih akan tertekan
Rabu, 08 Januari 2014 - 08:24 WIB
Rupiah diprediksi masih akan tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, laju rupiah masih akan tertekan dengan sentimen menguatnya nilai tukar yen seiring penilaian akan meningkatnya ekonomi Jepang dengan stimulus Bank of Japan (BoJ).
Selain itu, market juga merespon melemahnya rilis data-data manufaktur Amerika Serikat (AS) yang sedikit mengalami perlambatan.
"Laju rupiah di bawah target support Rp12.248. Rentang rupiah di kisaran Rp12.289-12.227 per USD mengacu kurs tengah BI (Bank Indonesia)," kata Reza di Jakarta, Rabu (8/1/2013).
Reza menjelaskan, rilis factory AS tengah menunjukkan kenaikan yang menunjukkan sentimen USD cukup variatif. Namun hal tersebut ternyata tidak dihiraukan rupiah yang justru kembali berpotensi melemah.
"Di sisi lain, rilis factory orders AS menunjukkan kenaikan, sehingga sentimen ke USD-nya cukup variatif," jelasnya.
Selain itu, pelemahan rupiah juga terimbas sentimen dari akan dilakukannya tapering off stimulus the Fed bulan ini dan rencana penerbitan obligasi USD oleh pemerintah senilai USD815 juta untuk tenor 10 tahun dengan kupon 6,2 persen dan 30 tahun dengan kupon 7,1 persen yang dinilai akan memberatkan pembayaran bunga nantinya.
Kemarin, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg di level Rp12.238 per USD atau melemah 57 poin dibanding penutupan Senin (6/1/2014) di level Rp12.181 per USD.
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.262 per USD atau melemah 32 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.230 per USD.
Selain itu, market juga merespon melemahnya rilis data-data manufaktur Amerika Serikat (AS) yang sedikit mengalami perlambatan.
"Laju rupiah di bawah target support Rp12.248. Rentang rupiah di kisaran Rp12.289-12.227 per USD mengacu kurs tengah BI (Bank Indonesia)," kata Reza di Jakarta, Rabu (8/1/2013).
Reza menjelaskan, rilis factory AS tengah menunjukkan kenaikan yang menunjukkan sentimen USD cukup variatif. Namun hal tersebut ternyata tidak dihiraukan rupiah yang justru kembali berpotensi melemah.
"Di sisi lain, rilis factory orders AS menunjukkan kenaikan, sehingga sentimen ke USD-nya cukup variatif," jelasnya.
Selain itu, pelemahan rupiah juga terimbas sentimen dari akan dilakukannya tapering off stimulus the Fed bulan ini dan rencana penerbitan obligasi USD oleh pemerintah senilai USD815 juta untuk tenor 10 tahun dengan kupon 6,2 persen dan 30 tahun dengan kupon 7,1 persen yang dinilai akan memberatkan pembayaran bunga nantinya.
Kemarin, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg di level Rp12.238 per USD atau melemah 57 poin dibanding penutupan Senin (6/1/2014) di level Rp12.181 per USD.
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.262 per USD atau melemah 32 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.230 per USD.
(rna)