Rupiah diproyeksi melemah
Jum'at, 10 Januari 2014 - 08:52 WIB
Rupiah diproyeksi melemah
A
A
A
Sindonews.com - Rupiah gagal merespon positif keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuannya (BI Rate) tetap berada pada level 7,5 persen. Alih-alih menguat, rupiah diprediksi justru berpotensi kembali terjungkal pada perdagangan akhir pekan ini.
"Lain halnya dengan bursa saham yang merespon positif Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang menetapkan level suku bunga acuan bertahan di level 7,5 persen, laju rupiah justru kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Jumat (10/1/2014).
Dia mengatakan, dengan komentar Presiden ECB Mario Draghi, yang tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendahnya membuat laju euro kembali melemah dan turut berkontribusi memberi tekanan negatif pada laju rupiah terhadap USD.
"Begitupun dengan dolar Australia yang juga melemah merespon sentimen akan diberlakukannya tapering off memberikan tambahan tekanan bagi rupiah," tambah Reza.
Rupiah diperkirakan akan bergerak melemah tipis di bawah target support di level Rp12.238 per USD.
"Laju rupiah dibawah target support Rp12.238 per USD. Rentang rupiah akan berada di kisaran Rp12.289-12.248 per USD menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI)," imbuh dia.
Kemarin, nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.193 per USD. Posisi ini terapresiasi 42 poin dari penutupan hari sebelumnya di level Rp12.235 per USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.263 per USD atau terdepresiasi 34 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.229 per USD.
"Lain halnya dengan bursa saham yang merespon positif Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang menetapkan level suku bunga acuan bertahan di level 7,5 persen, laju rupiah justru kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Jumat (10/1/2014).
Dia mengatakan, dengan komentar Presiden ECB Mario Draghi, yang tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendahnya membuat laju euro kembali melemah dan turut berkontribusi memberi tekanan negatif pada laju rupiah terhadap USD.
"Begitupun dengan dolar Australia yang juga melemah merespon sentimen akan diberlakukannya tapering off memberikan tambahan tekanan bagi rupiah," tambah Reza.
Rupiah diperkirakan akan bergerak melemah tipis di bawah target support di level Rp12.238 per USD.
"Laju rupiah dibawah target support Rp12.238 per USD. Rentang rupiah akan berada di kisaran Rp12.289-12.248 per USD menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI)," imbuh dia.
Kemarin, nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.193 per USD. Posisi ini terapresiasi 42 poin dari penutupan hari sebelumnya di level Rp12.235 per USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.263 per USD atau terdepresiasi 34 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.229 per USD.
(rna)