Ini kata JK penyebab harga elpiji 12 kg gagal naik
Senin, 13 Januari 2014 - 21:41 WIB
Ini kata JK penyebab harga elpiji 12 kg gagal naik
A
A
A
Sindonews.com - Gagalnya pemerintah menaikkan harga elpiji 12 Kilogram (kg) lebih disebabkan karena cara komunikasi yang tidak tepat kepada masyarakat sehingga menuai banyak penolakan.
Menurut mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), rencana pemerintah untuk mengurangi beban subsidi dengan menaikkan harga elpiji 12 kg akan bisa diterima sepanjang bisa dijelaskan atau masuk akal.
Diapun membeberkan pengalaman saat menjabat wakil presiden ketika harus menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi agar negara tidak semakin merugi.
"Rakyat itu, akan menurut sepanjang bisa dijelaskan, sewaktu kenaikan harga BBM tertinggi tahun 2005 lalu, tidak ada yang demo," kata JK dalam diskusi dengan kalangan pengusaha Kadin di Denpasar, Senin (13/1/2014).
Dia membandingkan dengan kondisi sekarang ketika pemerintah menaikkan harga elpiji 12 kg sekira 30 persen saja, seluruh Indoensia marah. "Apa yang membedakan, yakni cara penjelasannya," ujar JK yang dikenal pengusaha sukses asal Bugis, Makassar itu.
Untuk menaikkan harga, pemerintah mesti melihat waktu atau "timing" yang tepat dan benar. Semasa zamannya di pemerintahan, dia meyakinkan presiden harus menaikkan harga BBM untuk mengurangi subisdi yang dinilai terlalu besar karena berbahaya bagi ekomomi negeri.
Akhirnya, waktu yang dipilih tepat ketika menjelang bulan puasa dan memberikan dana kompensasi kepada rakyat kecil yang membutuhkan sebesar Rp350 ribu. Walhasil, strategi itu manjur, mahasiswa dan masyarakat tidak banyak melakukan penolakan atau demo.
Sebenarnya, rencana pemerintah untuk menaikan harga elpiji kemarin, menuai penolakan karena cara penjelasannya tidak pas. "Padahal sebenarnya gampang sekali dijelaskan dan rakyat pasti menerima," tuturnya.
JK melanjutkan, elpiji 12 kg itu sebenarnya hanya dipakai sekira 17 persen rakyat Indonesia sedangkan sisanya sekira 83,3 persen memakai tabung gas elpiji 3 kg.
Jadi, yang disubsidi jumlahnya besar di mana dari 17 persen itu pasti memiliki mobil dan di rumahnya memiliki telepon dan handphone. Satu bulan itu, dipakai oleh satu keluarga yang rata rata terdiri dari enam sampai 10 anggota keluarga.
Kata JK, satu tabung elpiji jika dihitung kenaikan harganya hanya sekira Rp48 ribu artinya dalam satu hari setara Rp1.500. "Jumlah itu hanya tiga kali short message services (sms), bayangkan, kalau merokok satu setengah batang, ya kurangilah merokok atau sms," urainya.
Demikian juga, kenaikan itu tidak akan terasa jika dibarengi dengan kesediaan untuk mengurangi porsi masakan sayurannya dan seterusnya maka hal itu akan bisa lebih diterima.
"Dengan penjelasan itu, selesai sudah, pasti tidak marah, cuma saya minta maaf teman saya (SBY) itu agak ragu-ragu sedikit ya akhirnya tidak jadi," selorohnya disambut tawa hadirin.
Menurut mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), rencana pemerintah untuk mengurangi beban subsidi dengan menaikkan harga elpiji 12 kg akan bisa diterima sepanjang bisa dijelaskan atau masuk akal.
Diapun membeberkan pengalaman saat menjabat wakil presiden ketika harus menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi agar negara tidak semakin merugi.
"Rakyat itu, akan menurut sepanjang bisa dijelaskan, sewaktu kenaikan harga BBM tertinggi tahun 2005 lalu, tidak ada yang demo," kata JK dalam diskusi dengan kalangan pengusaha Kadin di Denpasar, Senin (13/1/2014).
Dia membandingkan dengan kondisi sekarang ketika pemerintah menaikkan harga elpiji 12 kg sekira 30 persen saja, seluruh Indoensia marah. "Apa yang membedakan, yakni cara penjelasannya," ujar JK yang dikenal pengusaha sukses asal Bugis, Makassar itu.
Untuk menaikkan harga, pemerintah mesti melihat waktu atau "timing" yang tepat dan benar. Semasa zamannya di pemerintahan, dia meyakinkan presiden harus menaikkan harga BBM untuk mengurangi subisdi yang dinilai terlalu besar karena berbahaya bagi ekomomi negeri.
Akhirnya, waktu yang dipilih tepat ketika menjelang bulan puasa dan memberikan dana kompensasi kepada rakyat kecil yang membutuhkan sebesar Rp350 ribu. Walhasil, strategi itu manjur, mahasiswa dan masyarakat tidak banyak melakukan penolakan atau demo.
Sebenarnya, rencana pemerintah untuk menaikan harga elpiji kemarin, menuai penolakan karena cara penjelasannya tidak pas. "Padahal sebenarnya gampang sekali dijelaskan dan rakyat pasti menerima," tuturnya.
JK melanjutkan, elpiji 12 kg itu sebenarnya hanya dipakai sekira 17 persen rakyat Indonesia sedangkan sisanya sekira 83,3 persen memakai tabung gas elpiji 3 kg.
Jadi, yang disubsidi jumlahnya besar di mana dari 17 persen itu pasti memiliki mobil dan di rumahnya memiliki telepon dan handphone. Satu bulan itu, dipakai oleh satu keluarga yang rata rata terdiri dari enam sampai 10 anggota keluarga.
Kata JK, satu tabung elpiji jika dihitung kenaikan harganya hanya sekira Rp48 ribu artinya dalam satu hari setara Rp1.500. "Jumlah itu hanya tiga kali short message services (sms), bayangkan, kalau merokok satu setengah batang, ya kurangilah merokok atau sms," urainya.
Demikian juga, kenaikan itu tidak akan terasa jika dibarengi dengan kesediaan untuk mengurangi porsi masakan sayurannya dan seterusnya maka hal itu akan bisa lebih diterima.
"Dengan penjelasan itu, selesai sudah, pasti tidak marah, cuma saya minta maaf teman saya (SBY) itu agak ragu-ragu sedikit ya akhirnya tidak jadi," selorohnya disambut tawa hadirin.
(gpr)
Lihat Juga :